Home > Akhlaq > Kesigapan Abu Thalhah dalam Bershadaqah

Kesigapan Abu Thalhah dalam Bershadaqah

Kesigapan Abu Thalhah dalam Bershadaqah

Abu Thalhah ra adalah seorang shahabat mulia yang kaya dalam makna yang sebenarnya. Ia kaya harta juga kaya hati. Kekayaan harta yang dimilikinya berbanding lurus dengan kekayaan hatinya yang selalu sigap dalam bershadaqah. Sebagai bukti bahwa ia orang kaya, shadaqah yang dikeluarkannya selalu besar dan selalu terdepan, melebihi orang-orang biasa yang tidak lebih kaya darinya. Perhatiannya kepada orang-orang yang membutuhkan juga besar tanpa harus menunggu diminta.

Nama aslinya adalah Zaid ibn Sahl ibn al-Aswad, penduduk Madinah asli dari kabilah Khazraj (36 SH-34 H). Ia termasuk as-sabiqunal-awwalun (generasi awal yang masuk Islam) dari kalangan Anshar. Ikut rombongan pertama yang berbai’at di ‘Aqabah, Makkah, pada tahun 12 kenabian, ikut perang Badar, Uhud, Khandaq, dan peperangan lainnya sampai kewafatannya di Madinah pada tahun 34 H. Suaranya keras, sehingga Nabi saw menyebutnya lebih keras daripada 1.000 orang biasa. Menikah dengan Ummu Sulaim, ibunda Anas ibn Malik, setelah kematian suaminya yang enggan masuk Islam, Malik ibn an-Nadlr (Siyar A’lamin-Nubala`). Perpaduan serasi dengan istrinya yang shalih, juga anak tirinya yang shalih, yakni Anas ibn Malik, menjadikan keislaman Abu Thalhah sangat kuat, sehingga ia menjadi orang kaya yang selalu sigap dalam bershadaqah.

Salah satu kesigapannya dalam bershadaqah diceritakan oleh anak tirinya, Anas ibn Malik, ketika turun firman Allah swt:

لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيۡءٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٞ

Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (QS. Ali ‘Imran [3] : 92).

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  يَقُولُ كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا مِنْ نَخْلٍ وَكَانَ أَحَبُّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ قَالَ أَنَسٌ فَلَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ} قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ {لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ} وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللهُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ وَقَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ

Dari Anas ibn Malik ra, ia berkata: Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling luas kebun kurmanya di Madinah. Kebun yang paling disukainya adalah Bairuha yang letaknya di depan masjid. Rasulullah saw sering masuk ke sana dan minum air segar di sana. Ketika turun ayat ini: Kalian tidak akan pernah sampai pada kebaikan sehingga kalian menginfaqkan apa yang kalian cintai. Abu Thalhah menemui Rasulullah saw dan berkata: “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: Kalian tidak akan pernah sampai pada kebaikan sehingga kalian menginfaqkan apa yang kalian cintai. Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Aku shadaqahkan karena Allah dengan berharap kebaikannya dan keabadiaannya di sisi Allah. Silahkan bagikan oleh anda wahai Rasulullah sesuai yang Allah tunjukkan kepada anda.” Rasul saw bersabda: “Wow, itu harta yang sangat banyak, harta yang sangat banyak. Aku telah dengar apa yang kamu katakan. Aku putuskan sebaiknya kamu bagikan saja kepada kerabatmu.” Abu Thalhah berkata: “Aku laksanakan wahai Rasulullah.” Abu Thalhah pun membagikannya kepada kerabatnya dan anak-anak pamannya (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab az-zakat ‘alal-aqarib no. 1461).

Di sini terlihat jelas kesigapannya dalam bershadaqah. Sesuai tuntunan ayat yang menyatakan belum dikategorikan orang baik jika belum mampu menginfaqkan harta yang dicintai, maka ia pun segera menginfaqkan harta yang dicintainya. Tentu tidak semua hartanya ia infaqkan, sebab al-Qur`an dan hadits juga memberikan tuntunan “yang lebih dari keperluan”. Karena ia orang kaya yang banyak dianugerahi kelebihan oleh Allah swt, maka ia pun memilih harta yang paling dicintainya di luar harta pokok yang menjadi kebutuhan primernya, yakni kebun kurmanya, sebab ia petani kurma yang cukup banyak kebunnya. Kebun yang dipilihnya untuk dishadaqahkan adalah kebun yang terbaik dari yang ia miliki, sebab ia menyadari sepenuhnya demikianlah persyaratannya jika seseorang ingin dikategorikan “orang baik”. Nabi saw pun kemudian menganjurkannya untuk menshadaqahkannya kepada keluarga kerabatnya, sebab memang demikianlah tuntunan shadaqah secara umum, harus mendahulukan memberi kepada keluarga terlebih dahulu (rujuk QS. al-Baqarah [2] :  177, 180, 215, an-Nisa` [4] : 8, 36, an-Nahl [16] : 90, al-Isra` [17] : 26, dan ar-Rum [30] : 38 yang memerintahkan agar memprioritaskan keluarga sebelum faqir miskin non-keluarga).

Ini menjadi tuntunan dan tuntutan bagi siapa saja yang merasa kaya harta untuk juga menjadi orang yang kaya hati. Bagi siapa saja yang kaya dengan memiliki kelebihan tanah, rumah, kendaraan, atau uang, pilih yang terbaiknya, lalu infaqkan kepada keluarga yang masih membutuhkannya. Itu sebagai bukti dirinya benar-benar orang kaya dalam makna yang sebenarnya. Jika belum mampu berderma seperti itu, berarti masih dikategorikan orang miskin, atau orang kaya yang “tidak baik” alias bakhil.

Kesigapan Abu Thalhah ra dalam bershadaqah terlihat juga dari cerita Anas ibn Malik berikut ini:

عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قال: قَالَ أَبُو طَلْحَةَ لأُمِّ سُلَيْمٍ  قَدْ سَمِعْتُ صَوْتَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ضَعِيفًا أَعْرِفُ فِيهِ الْجُوعَ فَهَلْ عِنْدَكِ مِنْ شَىْءٍ فَقَالَتْ نَعَمْ.

Dari Anas ibn Malik, ia berkata: Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim—semoga Allah meridlai mereka semua: “Sungguh aku mendengar suara Rasulullah saw lemah. Aku mengerti bahwa beliau sedang menahan lapar. Apakah kamu punya makanan?” Ummu Sulaim menjawab: “Ya.”

Ummu Sulaim kemudian mengeluarkan gandum dan mengolahnya, bersama-sama dengan Anas. Setelah dimasak dan siap dihidangkan, ia menyuruh Anas untuk mengundang Rasulullah saw.

قَالَ فَذَهَبْتُ بِهِ فَوَجَدْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ جَالِسًا فِى الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ النَّاسُ فَقُمْتُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَرْسَلَكَ أَبُو طَلْحَةَ؟ قَالَ فَقُلْتُ نَعَمْ. فَقَالَ أَلِطَعَامٍ؟ فَقُلْتُ نَعَمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِمَنْ مَعَهُ: قُومُوا.

Anas berkata: Aku temui Rasulullah saw sedang duduk di masjid bersama orang-orang. Ketika aku datang menghampiri mereka, Rasulullah saw bertanya: “Apakah kamu disuruh oleh Abu Thalhah?” Anas menjawab: “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Untuk mengajak makan?” Anas menjawab: “Ya.” Rasulullah saw kemudian mengajak kepada orang-orang yang ada bersamanya: “Berdirilah kalian (mari pergi bersama).”

Melihat Rasulullah saw datang bersama rombongan, Abu Thalhah sempat terkejut karena khawatir makanan yang disediakan tidak akan cukup untuk orang banyak. Tetapi istrinya dengan tenang menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Sesampainya di rumah Abu Thalhah, Rasul saw masuk terlebih dahulu. Beliau meminta kepada Ummu Sulaim untuk membawakan makanan. Beliau kemudian membacakan sesuatu yang tidak terdengar jelas pada makanan tersebut, lantas bersabda: “Izinkan masuk 10 orang dahulu.” Mereka kemudian masuk, makan, dan setelah selesai kemudian diminta keluar untuk digantikan lagi oleh 10 orang berikutnya. Teruslah demikian sampai semua tamu menikmati makanan di rumah Abu Thalhah. Jumlah semuanya, kata Anas, kurang lebih 70-80 orang (Shahih Muslim kitab al-asyribah bab jawaz-istitba’ihi ghairahu ila dari man yatsiqu bi ridlahu no. 5437; Shahih al-Bukhari kitab as-shalat bab man da’a li tha’am fil-masjid no. 422, kitab al-manaqib bab ‘alamatin-nubuwwah no. 3578).

Kesigapan Abu Thalhah di sini terlihat dari perhatiannya kepada Rasul saw tanpa harus diminta atau diingatkan sebelumnya. Terlihat juga dari pengertian Rasulullah saw ketika Anas datang dan mempertanyakan apakah karena Abu Thalhah yang menyuruhnya untuk mengundang makan, sebab Nabi saw sudah tahu akhlaq mulia Abu Thalhah. Terlihat juga dari kemantapan Rasulullah saw mengajak 70-an shahabatnya untuk ikut bersama makan di rumah Abu Thalhah, sebab Rasul saw yakin Abu Thalhah itu orang kaya yang dermawan. Ia pasti tidak akan keberatan seandainya Nabi saw membawa orang-orang yang tidak diundang untuk ikut makan di rumahnya.

Inilah teladan orang kaya yang baik. Siapapun orang kaya yang ingin dikategorikan baik wajib meneladaninya. Jika tidak, berarti orang kaya yang dimaksud “tidak baik” alias orang kaya yang pelit. Wal-‘Llahu a’lam.