Home > Akhlaq > Kesabaran Abu Hurairah Hidup Miskin

Kesabaran Abu Hurairah Hidup Miskin

Kesabaran Abu Hurairah Hidup Miskin

Di zaman Nabi shallal-‘Llâhu ‘alaihi wa sallam mayoritas shahabat hidup dalam kemiskinan. Meski demikian, mereka tidak pernah mengeluh, merajuk, atau sekedar memberanikan diri meminta perhatian dan belas kasihan. Kalaupun ada satu dua yang diriwayatkan melakukan demikian, itu hanya kasuistik saja karena sang pelaku belum terdidik. Bagi para shahabat yang sudah terdidik oleh pendidikan Nabi saw, Abu Hurairah di antaranya, bersabar menerima kenyataan hidup merupakan pilihan hidup yang akan dijalani.

Shahabat Abu Huraiah menceritakan pengalamannya hidup miskin tentu bukan untuk riya, melainkan sebagai pengingat bagi umat Islam selepas Nabi saw untuk tetap bersyukur, tetap berbagi dengan mereka yang membutuhkan, dan bukan malah hidup berfoya-foya ketika Allah swt menganugerahkan rizki yang berlebih.

قال أَبُو هُرَيْرَةَ أَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنْ كُنْتُ لَأَعْتَمِدُ بِكَبِدِي عَلَى الْأَرْضِ مِنْ الْجُوعِ وَإِنْ كُنْتُ لَأَشُدُّ الْحَجَرَ عَلَى بَطْنِي مِنْ الْجُوعِ وَلَقَدْ قَعَدْتُ يَوْمًا عَلَى طَرِيقِهِمْ الَّذِي يَخْرُجُونَ مِنْهُ فَمَرَّ أَبُو بَكْرٍ فَسَأَلْتُهُ عَنْ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِيُشْبِعَنِي فَمَرَّ وَلَمْ يَفْعَلْ ثُمَّ مَرَّ بِي عُمَرُ فَسَأَلْتُهُ عَنْ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَا سَأَلْتُهُ إِلَّا لِيُشْبِعَنِي فَمَرَّ فَلَمْ يَفْعَلْ

Abu Hurairah berkata: Demi Allah Yang tiada Tuhan selain Dia. Sungguh dulu aku pernah menyandarkan perutku di atas lantai karena lapar. Aku juga pernah mengikat batu pada perutku karena lapar. Pernah juga pada suatu hari aku duduk di jalan keluar masjid, dan lewatlah Abu Bakar, lalu aku bertanya kepadanya satu ayat dari kitab Allah yang aku tidak bertanya kepadanya melainkan agar ia mengajakku makan.  Tetapi ia berlalu begitu saja dan tidak mengajakku. Kemudian ada ‘Umar lewat di hadapanku. Aku pun bertanya kepadanya satu ayat dari kitab Allah yang aku tidak bertanya kepadanya melainkan agar ia mengajakku makan.  Tetapi ia berlalu begitu saja tanpa mengajakku.

ثُمَّ مَرَّ بِي أَبُو الْقَاسِمِ ﷺ فَتَبَسَّمَ حِينَ رَآنِي وَعَرَفَ مَا فِي نَفْسِي وَمَا فِي وَجْهِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْحَقْ وَمَضَى فَتَبِعْتُهُ فَدَخَلَ فَأَسْتَأْذِنُ فَأَذِنَ لِي فَدَخَلَ فَوَجَدَ لَبَنًا فِي قَدَحٍ فَقَالَ مِنْ أَيْنَ هَذَا اللَّبَنُ قَالُوا أَهْدَاهُ لَكَ فُلَانٌ أَوْ فُلَانَةُ

Tidak lama kemudian datanglah Abul-Qasim saw, beliau tersenyum ketika melihatku dan beliau memahami apa yang ada dalam diriku dan wajahku. Kemudian beliau berkata: “Hai Abu Hirr.” Aku menjawab: “Baik wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Ikutlah.” Beliau pergi dan aku mengikutinya. Beliau lalu masuk rumah dan aku minta izin masuk, lalu aku dizinkan. Setelah masuk, beliau melihat susu dalam wadah. Beliau bertanya: “Dari mana susu ini?” Keluarganya menjawab: “Hadiah dari Bapak atau Ibu anu.”

قَالَ أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْحَقْ إِلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ فَادْعُهُمْ لِي قَالَ وَأَهْلُ الصُّفَّةِ أَضْيَافُ الْإِسْلَامِ لَا يَأْوُونَ إِلَى أَهْلٍ وَلَا مَالٍ وَلَا عَلَى أَحَدٍ إِذَا أَتَتْهُ صَدَقَةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْهِمْ وَلَمْ يَتَنَاوَلْ مِنْهَا شَيْئًا وَإِذَا أَتَتْهُ هَدِيَّةٌ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ وَأَصَابَ مِنْهَا وَأَشْرَكَهُمْ فِيهَا

Beliau bersabda: “Hai Abu Hirr.” Aku menjawab: “Baik wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Temui Ahlus-Shuffah dan ajaklah mereka ke sini.” Abu Hurairah berkata: Ahlus-Shuffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak memiliki rumah, harta, tidak pula seorang pun keluarga/teman. Apabila ada shadaqah datang, beliau selalu mengirimkannya kepada mereka dan tidak mengambilnya sedikit pun. Tetapi apabila yang datang kepada beliau hadiah, beliau pun selalu mengirimkannya untuk mereka, tetapi setelah mengambilnya sedikit, dan kemudian berbagi sama dengan mereka.

فَسَاءَنِي ذَلِكَ فَقُلْتُ وَمَا هَذَا اللَّبَنُ فِي أَهْلِ الصُّفَّةِ كُنْتُ أَحَقُّ أَنَا أَنْ أُصِيبَ مِنْ هَذَا اللَّبَنِ شَرْبَةً أَتَقَوَّى بِهَا فَإِذَا جَاءَ أَمَرَنِي فَكُنْتُ أَنَا أُعْطِيهِمْ وَمَا عَسَى أَنْ يَبْلُغَنِي مِنْ هَذَا اللَّبَنِ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ ﷺ بُدٌّ فَأَتَيْتُهُمْ فَدَعَوْتُهُمْ

Hal tersebut sebenarnya tidak mengenakkanku. Mana mungkin susu itu cukup untuk Ahlus-Shuffah. Padahal aku lebih berhak untuk meminumnya dahulu sedikit sekedar menambah tenaga. Lalu apabila Ahlus-Shuffah datang beliau bisa memerintahku dan aku akan melayani mereka. Dan aku tidak kuasa untuk mengambil susu itu sebab taat kepada Allah dan Rasul-Nya saw tidak memungkinkan adanya pilihan lain. Aku pun menemui Ahlus-Shuffah dan memanggil mereka.

فَأَقْبَلُوا فَاسْتَأْذَنُوا فَأَذِنَ لَهُمْ وَأَخَذُوا مَجَالِسَهُمْ مِنْ الْبَيْتِ قَالَ يَا أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ خُذْ فَأَعْطِهِمْ قَالَ فَأَخَذْتُ الْقَدَحَ فَجَعَلْتُ أُعْطِيهِ الرَّجُلَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ الْقَدَحَ فَأُعْطِيهِ الرَّجُلَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ الْقَدَحَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى ثُمَّ يَرُدُّ عَلَيَّ الْقَدَحَ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَقَدْ رَوِيَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ

Ketika mereka datang, mereka minta izin masuk, dan beliau pun mengizinkan. Mereka langsung mengambil tempat duduk di rumah Rasul. Beliau bersabda: “Hai Abu Hirr.” Aku menjawab: “Baik wahai Rasulullah.” “Ambillah ini dan berilah mereka.” Aku pun mengambil wadah susu dan aku berikan kepada seseorang, ia lalu minum sampai kenyang, kemudian ia mengembalikan wadahnya kepadaku.  Lalu aku berikan kepada orang lain, ia lalu minum sampai kenyang, kemudian ia mengembalikan wadahnya kepadaku. Kemudian orang lainnya minum sampai kenyang, kemudian ia mengembalikan wadahnya kepadaku . Sampailah aku kepada Nabi saw dan para tamu semua sudah kenyang.

فَأَخَذَ الْقَدَحَ فَوَضَعَهُ عَلَى يَدِهِ فَنَظَرَ إِلَيَّ فَتَبَسَّمَ فَقَالَ أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بَقِيتُ أَنَا وَأَنْتَ قُلْتُ صَدَقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اقْعُدْ فَاشْرَبْ فَقَعَدْتُ فَشَرِبْتُ فَقَالَ اشْرَبْ فَشَرِبْتُ فَمَا زَالَ يَقُولُ اشْرَبْ حَتَّى قُلْتُ لَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أَجِدُ لَهُ مَسْلَكًا قَالَ فَأَرِنِي فَأَعْطَيْتُهُ الْقَدَحَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَسَمَّى وَشَرِبَ الْفَضْلَةَ

Beliau lalu mengambil wadah itu dan meletakkannya pada tanganku sambil tersenyum melihatku. Lalu bersabda: “Hai Abu Hirr.” Aku menjawab: “Baik wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sekarang tinggal aku dan kamu.” Aku jawab: “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Duduklah dan minumlah.” Aku pun duduk dan minum. Kata beliau: “Silahkan minum lagi.” Aku pun minum lagi, dan terus beliau bersabda: “Silahkan minum lagi.” Sampai aku berkata: “Tidak, demi Yang mengutusmu dengan haq, perutku sudah tidak punya lagi tempat kosong.” Beliau bersabda: “Berikan kepadaku.” Aku pun memberikan wadah itu. Beliau lalu membaca hamdalah dan basmalah, kemudian meminum sisanya.

Dalam hadits ini terlihat jelas bagaimana Abu Hurairah yang hidup miskin sewaktu masih menjadi Ahlus-Shuffah enggan meminta meskipun perutnya sudah diganjal batu. Ia hanya berani berbasa-basi saja dan tidak pernah mengungkapkan dengan isyarat langsung. Dalam kondisi demikian pun beliau tidak berani mengelak dari perintah Rasul saw meski dirasanya tidak adil, meski tentu nyatanya tidak demikian. Bahkan dalam riwayat lain, Abu Hurairah menuturkan bahwa dirinya sampai pernah pingsan saking tidak kuat menahan lapar.

لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَإِنِّي لَأَخِرُّ فِيمَا بَيْنَ مِنْبَرِ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ مَغْشِيًّا عَلَيَّ فَيَجِيءُ الْجَائِي فَيَضَعْ رِجْلَهُ عَلَى عُنُقِي وَيُرَى أَنِّي مَجْنُونٌ وَمَا بِي مِنْ جُنُونٍ مَا بِي إِلَّا الْجُوعُ

Sungguh saya dulu pernah terjatuh di antara mimbar Rasulullah saw dan kamar ‘Aisyah karena pingsan. Lalu ada seseorang datang dan meletakkan kakinya pada bahuku. Dilihatnya saya gila, padahal saya tidak gila. Tidak ada yang menimpaku selain lapar (Shahih al-Bukhari kitab al-i’tisham bab ma dzakaran-Nabiy saw wa haddla ‘alat-tifaqi ahlil-‘ilmi no. 7324).

Terlihat juga bagaimana kedermawanan dari Sang Dermawan, Rasulullah saw. Beliau lebih pengertian kepada Abu Hurairah daripada Abu Bakar dan ‘Umar yang juga dikenal sebagai orang-orang dermawan. Kedermawanan Nabi saw juga terlihat dari selalunya beliau mendahulukan memberi Ahlus-Shuffah daripada untuk keluarganya sendiri. Tentu itu bisa dilakukan karena keluarga Nabi saw sendiri sudah terdidik. Jika ada zakat/shadaqah, Nabi saw pasti membagikannya kepada Ahlus-Shuffah. Jika ada hadiah, Nabi saw hanya mengambil sedikit sekedar menenangkan yang memberi, lalu membagikannya kepada Ahlus-Shuffah. Jika masih ada sisa, baru Nabi saw ikut mengkonsumsinya paling akhir.

Keserasian dari orang miskin yang sabar dan tidak berani meminta dengan orang dermawan yang senantiasa memberi meski tidak diminta merupakan kunci harmonisnya sebuah masyarakat. Jika orang miskinnya banyak meminta dan orang kayanya pun otomatis malas memberi, niscaya dunia akan terasa seperti di neraka. Tidak ada keharmonisan, melainkan kesenjangan dan permusuhan. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.