Meraih Cinta Ilahi

Keinginan Bertemu Allah سبحانه و تعالى

Keinginan Bertemu Allah سبحانه و تعالى

Nabi ﷺ menegaskan bahwa kebahagiaan seseorang di akhirat ditandai dengan perasaannya yang ingin bertemu Allah سبحانه و تعالى. Jika seseorang enggan dan takut, maka berarti masa depannya di akhirat akan suram. Meski setiap orang pasti tidak menginginkan kematian, perasaan ingin bertemu Allah swt sesudah kematian harus senantiasa terpupuk dalam jiwa.

Di antara kebahagiaan seorang manusia di akhirat adalah bertemu dan menatap langsung wujud Allah swt: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. al-Qiyamah [75] : 22-23). Sementara orang-orang kafir tidak akan mungkin melihat Allah swt: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat/bertemu) Tuhan mereka.” (QS. al-Muthaffifin [83] : 15. Dikuatkan oleh hadits-hadits tentang siapa yang bisa melihat Allah swt dan yang tidak bisa di antaranya dalam Shahih al-Bukhari kitab al-adzan bab fi fadllis-sujud no. 806).

Nabi saw menegaskan dalam hadits bahwa siapa yang ingin dan rindu bertemu Allah swt maka Allah swt pun rindu bertemu dengannya. Demikian halnya sebaliknya. Maksud “Allah swt ingin bertemu dengannya” adalah Allah swt ingin memberikan kebaikan, hidayah menuju surga, dan kenikmatan. Sementara maksud “Allah swt benci bertemu dengannya” adalah sebaliknya (Fathul-Bari).

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ إِنَّا لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Siapa yang senang bertemu Allah maka Allah pun senang bertemu dengannya, dan siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya.” ‘Aisyah atau salah seorang istrinya berkata: “Sesungguhnya kami semua pasti tidak ingin mati.” Beliau menjawab: “Bukan demikian maksudnya. Akan tetapi seorang mu`min itu apabila datang kepadanya kematian, ia akan digembirakan dengan keridlaan Allah dan anugerah-Nya. Maka tidak ada lagi yang lebih ia cintai daripada apa yang ada di hadapannya itu. Ia pun ingin bertemu Allah dan Allah pun ingin bertemu dengannya. Sementara orang kafir, apabila dihadirkan kematian kepadanya ia digembirakan dengan adzab Allah dan siksa-Nya. Maka tidak ada sesuatu pun yang paling ia benci daripada apa yang ada di hadapannya itu. Ia pun benci bertemu Allah dan Allah pun benci bertemu dengan-Nya.” (Shahih al-Bukhari bab man ahabba liqa`al-‘Llah ahhabbal-‘Llah liqa`ahu no. 6507 dari hadits ‘Ubadah ibn as-Shamit)

Dalam riwayat lain, ‘Aisyah ra menjelaskan:

عَنْ شُرَيْحِ بْنِ هَانِئٍ قَالَ فَأَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَذْكُرُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَدِيثًا إِنْ كَانَ كَذَلِكَ فَقَدْ هَلَكْنَا. فَقَالَتْ إِنَّ الْهَالِكَ مَنْ هَلَكَ بِقَوْلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَمَا ذَاكَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَلَيْسَ مِنَّا أَحَدٌ إِلاَّ وَهُوَ يَكْرَهُ الْمَوْتَ. فَقَالَتْ قَدْ قَالَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَلَيْسَ بِالَّذِى تَذْهَبُ إِلَيْهِ وَلَكِنْ إِذَا شَخَصَ الْبَصَرُ وَحَشْرَجَ الصَّدْرُ وَاقْشَعَرَّ الْجِلْدُ وَتَشَنَّجَتِ الأَصَابِعُ فَعِنْدَ ذَلِكَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

Dari Syuraih ibn Hani` ia berkata: Aku datang kepada ‘Aisyah dan berkata: “Wahai ummul-mu`minin, aku mendengar Abu Hurairah menyampaikan satu hadits dari Rasulullah saw yang jika memang benar demikian, tentu kita semua binasa.” ‘Aisyah menimpali: “Orang yang binasa itu adalah orang yang binasa dengan sabda Rasulullah saw. Apa hadits yang dimaksud?” Syuraih menjawab: “Ia menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda: ‘Siapa yang senang bertemu Allah maka Allah pun senang bertemu dengannya, dan siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya.’ Padahal tidak ada seorang pun di antara kita melainkan ia tidak ingin mati.” ‘Aisyah menjawab: “Sungguh Rasulullah saw memang pernah bersabda demikian, tetapi maknanya bukan seperti yang kamu maksud. Maksud hadits itu adalah apabila telah terbelalak mata (orang yang akan meninggal sehingga tidak mengedip), ruh sudah naik ke dada, kulit gemetar, dan jari jemari menutup, maka ketika itulah siapa yang senang bertemu Allah maka Allah pun senang bertemu dengannya, dan siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya.” (Shahih Muslim bab man ahabba liqa`al-‘Llah no. 7002)

Dalam sanad lain (no. 7000), ‘Aisyah menambahkan di akhir pernyataannya kepada Syuraih:

وَالْمَوْتُ قَبْلَ لِقَاءِ اللهِ

“Kematian itu sebelum pertemuan dengan Allah.”

Hadits-hadits di atas menjelaskan bahwa ada perbedaan antara rasa ingin bertemu dengan Allah swt dan rasa takut mati. Seseorang wajar saja takut mati, tetapi ia tetap harus memiliki rasa ingin bertemu Allah swt. Cara agar seseorang bisa tetap merasakan rindu bertemu Allah swt di samping rasa takut mati, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Sallam, at-Thibi, Ibnul-Atsir, al-Khaththabi, dan an-Nawawi adalah berani memprioritaskan akhirat di atas dunia. Imam al-Khaththabi misalnya menegaskan:

مَعْنَى مَحَبَّةِ الْعَبْد لِلِقَاءِ الله إِيثَارُهُ الْآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا فَلَا يُحِبُّ اِسْتِمْرَارَ الْإِقَامَة فِيهَا بَلْ يَسْتَعِدُّ لِلِارْتِحَالِ عَنْهَا وَالْكَرَاهَة بِضِدِّ ذَلِكَ

Makna seorang hamba ingin bertemu Allah adalah sikapnya yang mementingkan akhirat di atas dunia. Ia tidak senang terus-menerus tinggal di dunia, tetapi ia sudah bersiap-siap dari sekarang untuk pindah ke negeri akhirat. Sementara orang yang benci bertemu Allah adalah yang sebaliknya (dikutip oleh al-Hafizh dalam Fathul-Bari).

Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Sallam menguatkannya dengan firman Allah swt:

إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُواْ بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَٱطۡمَأَنُّواْ بِهَا وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِنَا غَٰفِلُونَ أُوْلَٰٓئِكَ مَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ 

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan (QS. Yunus [10] : 7-8).

Al-Hafizh Ibn Hajar memberikan catatan tambahan terkait hadits “ingin bertemu Allah” di atas, yaitu: Pertama, tanda selamatnya seseorang di akhirat sudah bisa diketahui dari apa yang ia lihat ketika menjelang kematian (ihtidlar). Jika seseorang melihat keridlaan dan anugerah Allah swt ketika ihtidlar-nya maka itu pertanda ia akan selamat di alam akhirat. Orang tersebut pun pasti sangat ingin segera bertemu Allah swt.

Kedua, perasaan ingin bertemu Allah swt ini tidak bertentangan dengan larangan mengharapkan kematian, sebab larangan tersebut berlaku ketika masih hidup di dunia, sedangkan hadits ini untuk orang yang akan segera meninggal dunia. Terlebih larangan mengharapkan kematian tersebut karena kesusahan hidup, sementara ingin bertemu Allah dalam hadits ini karena ingin segera menikmati keridlaan Allah swt.

Ketiga, sebagai catatan tambahan tentunya harus dikecualikan orang yang tidak ingin bertemu Allah swt karena merasa amalnya belum cukup dan ingin memperbaiki dirinya terlebih dahulu. Tentunya dengan syarat bahwa ia kemudian memperbaiki dirinya dan tidak malah terlena dengan kehidupan dunia. Hadits ini menyalahkan orang yang enggan bertemu Allah swt karena terlalu mementingkan dunia dan enggan mengutamakan akhirat (Fathul-Bari).

Wal-‘iyadzu bil-‘Llah.