Meraih Cinta Ilahi

Jangan Sampai Nanti Buta Mata

Jangan Sampai Nanti Buta Mata

Di akhirat kelak akan ada banyak orang yang tiba-tiba buta matanya padahal mereka di dunia bisa melihat. Mereka adalah orang-orang yang melupakan ayat-ayat Allah; baik itu melupakan peringatan dan pengajarannya sehingga tidak dijadikan pedoman, termasuk dalam kadar minimal melupakan ingatan dan hafalan al-Qur`an karena itu pertanda ia telah mengabaikan dan melupakan al-Qur`an.

Peringatan Allah swt akan ada banyak orang yang buta matanya di akhirat disampaikan dalam surat Thaha sebagai berikut:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ بَصِيرٗا قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ 

Dan siapa yang berpaling dari dzikir kepada-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan” (QS. Thaha [20] : 124-126).

“Kehidupan sempit” yang dimaksud ayat di atas, bukan berarti bajunya kekecilan, rumahnya sempit, hartanya sedikit, tetapi sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Katsir, bisa jadi semua kebutuhan dunianya ia miliki dengan berlebih, namun hatinya senantiasa ada dalam kegalauan, kegelisahan, kekhawatiran, dan tidak pernah lepas dari keraguan. Itu semua karena hatinya yang selalu berpaling dari dzikir dan peringatan Allah swt sehingga menjadi kosong dan hanya berisi kegelisahan.

 

“Yaitu mereka hidup sempit di dunia tanpa ada ketenteraman dan kelapangan, karena hatinya sempit dan sesak diakibatkan kesesatannya, meskipun secara lahirnya ia kelihatan senang; berpakaian sesuai yang ia mau, makan sesuai yang ia ingin, dan tinggal di rumah yang ia idamkan. Itu disebabkan hatinya tidak tulus untuk yakin dan mengikuti petunjuk. Maka selamanya hati orang seperti ini berada dalam kegalauan, kegelisahan, kekhawatiran, dan tidak pernah lepas dari keraguan yang akan selalu membimbangkannya. Inilah yang dimaksud kehidupan yang sempit.”

Pada hari kiamat nanti mereka akan menjadi buta sebagaimana juga difirmankan-Nya dalam ayat lain:

وَمَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَلَن تَجِدَ لَهُمۡ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِهِۦۖ وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيٗا وَبُكۡمٗا وَصُمّٗاۖ مَّأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ كُلَّمَا خَبَتۡ زِدۡنَٰهُمۡ سَعِيرٗا 

“Siapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.” (QS. al-Isra` [17] : 97).

Ayat di atas menurut al-Hafizh Ibn Katsir ditujukan kepada mereka yang betul-betul melupakan ayat-ayat Allah swt dari pemahamannya dan pengamalannya. Akan tetapi, termasuk juga mereka yang melupakan ayat-ayat Allah swt dari hafalannya meski masih meyakininya, memahaminya, dan mengamalkannya. Hanya memang kedudukannya tidak sama dengan yang pertama. Itu disebabkan karena orang yang melupakan hafalan al-Qur`an juga pada hakikatnya sudah melupakan al-Qur`an, dan hadits Nabi saw ada beberapa yang mengancam hal tersebut.

فَأَمَّا نِسْيَانُ لَفْظِ الْقُرْآنِ مَعَ فَهْمِ مَعْنَاهُ وَالْقِيَامِ بِمُقْتَضَاهُ، فَلَيْسَ دَاخِلًا فِي هَذَا الْوَعِيدِ الْخَاصِّ، وَإِنْ كَانَ مُتَوَعَّدًا عَلَيْهِ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى، فَإِنَّهُ قَدْ وَرَدَتِ السُّنَّةُ بِالنَّهْيِ الْأَكِيدِ وَالْوَعِيدِ الشَّدِيدِ فِي ذَلِكَ قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: …عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : مَا مِنْ رَجُلٍ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَنَسِيَهُ إِلَّا لَقِيَ اللهَ يَوْمَ يَلْقَاهُ وَهُوَ أَجْذَمُ

Adapun melupakan hafalan al-Qur`an, tetapi masih memahami maknanya dan mengamalkan kandungannya, tidak termasuk ancaman khusus ini. Meski demikian, tetap diancam dari aspek lain, sebab ada hadits yang melarang dan mengancam dengan sangat keras akan hal tersebut. Imam Ahmad berkata: … dari Sa’ad ibn ‘Ubadah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada seorang pun yang membaca/ menghafal al-Qur`an, kemudian ia lupa kecuali ia akan bertemu Allah pada hari dimana ia tidak bisa beralasan.” (Tafsir Ibn Katsir. Beliau menyatakan juga hadits ini diriwayatkan dari shahabat ‘Ubadah ibn as-Shamit. Hadits Sa’ad ibn ‘Ubadah ditulis dalam Musnad Ahmad no. 22456, 22463. Sementara hadits ‘Ubadah ibn as-Shamit dalam Musnad Ahmad no. 22758, 22781. Meski ada rawi yang mubham dan majhul pada ‘Isa ibn Fa`id, dan dla’if pada Yazid ibn Abi Ziyad, hadits ini dijadikan hujjah oleh al-Hafizh Ibn Katsir karena dikuatkan oleh hadits lain yang shahih sebagaimana ditulis di bawah)

Sementara hadits shahih yang mengkritik orang yang melupakan hafalan al-Qur`annya adalah:

بِئْسَ مَا لأَحَدِهِمْ أَنْ يَقُولَ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ نُسِّىَ، وَاسْتَذْكِرُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ

Alangkah jeleknya seseorang di antara kamu yang berkata: “Aku lupa sejumlah ayat ini dan itu,” karena yang benar ia dijadikan lupa. Maka dari itu hafalkanlah al-Qur`an, karena sesungguhnya dia lebih mudah terlepas dari ingatan seseorang daripada terlepasnya unta” (Shahih al-Bukhari kitab fadla`il al-Qur`an bab istidzkar al-Qur`an wa ta’ahudihi no. 5032).

Imam an-Nawawi termasuk yang mengaitkan hadits terakhir ini dengan ayat di atas, sebagaimana halnya al-Hafizh Ibn Katsir. Dengan mengutip penjelasan al-Qadli ‘Iyadl, Imam an-Nawawi menegaskan bahwa yang termasuk lupa dalam ayat dan hadits di atas adalah orang yang pernah menghafal al-Qur`an, lalu ia lalai, sehingga melupakan ayat-ayatnya lagi:

وَقَدْ قَالَ اللَّه تَعَالَى: {أَتَتْك آيَاتُنَا فَنَسِيتهَا} وَقَالَ الْقَاضِي عِيَاض: أَوْلَى مَا يُتَأَوَّل عَلَيْهِ الْحَدِيث أَنَّ مَعْنَاهُ ذَمّ الْحَال لَا ذَمّ الْقَوْل أَيْ نَسِيت الْحَالَة، حَالَة مَنْ حَفِظَ الْقُرْآن فَغَفَلَ عَنْهُ حَتَّى نَسِيَهُ

Sungguh Allah ta’ala berfirman: ‘telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya’. Al-Qadli ‘Iyadl berkata: Makna yang paling tepat dari hadits di atas (riwayat al-Bukhari di atas—pen) adalah tercelanya keadaan, bukan tercelanya ucapan (di atas), yakni aku lupa keadaan sebagai orang yang harus menghafal al-Qur`an, lalu ia lalai, sehingga melupakan hafalannya (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim bab al-amr bi ta’ahhudil-Qur`an).

Nabi saw sendiri menjelaskan dalam hadits bahwa penyebab seseorang lupa dari hafalan dan menghafal al-Qur`an karena tidak pernah serius untuk memperbaiki kualitas bacaan shalatnya. Ini juga sebentuk melalaikan shalat yang diancam dalam surat al-Ma’un. Jadi kalau seseorang serius dengan shalatnya maka ia tidak akan abai dari hafalan dan menghadal al-Qur`annya.

وَإِذَا قَامَ صَاحِبُ الْقُرْآنِ فَقَرَأَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ذَكَرَهُ وَإِذَا لَمْ يَقُمْ بِهِ نَسِيَهُ

Apabila penghafal al-Qur`an itu qiyam (shalat) dan membacanya di waktu (shalat) malam dan siang, maka ia akan mengingatnya. Jika ia tidak shalat dengannya, ia akan melupakannya (Shahih Muslim bab al-amr bi ta’ahhudil-Qur`an no. 1876).

Jadi penyebab buta mata di akhirat kelah adalah melalaikan al-Qur`an; baik yang stadium parah dalam wujud tidak pernah meyakini, mempelajari, dan atau mengamalkannya, ataupun yang stadium tidak parah dalam wujud abai dari menghafalkannya dan menjaga hafalannya. Kedua-duanya diancam dengan buta mata di hari akhir nanti. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.