Home > Ibadah > Jangan Lewatkan Agenda Qurban

Jangan Lewatkan Agenda Qurban

Jangan Lewatkan Agenda Qurban

Meski kondisi ekonomi negeri ini sedang tidak menggembirakan, daya beli masyarakat semakin rendah, dan harga hewan qurban juga semakin melambung tinggi, semua itu jangan sampai menyurutkan apalagi sengaja melewatkan agenda qurban yang akan disongsong satu bulan ke depan. Kondisi yang kurang menggembirakan ini justru harus menjadi pelecut semangat untuk membuktikan bahwa dalam kondisi yang terbatas sekalipun, semangat untuk berqurban tidak akan padam.

Ibadah qurban adalah penegasan identitas ketaqwaan dalam hal ibadah harta. Orang yang bertaqwa, sebagaimana difirmankan Allah swt dalam al-Qur`an, selalu berusaha untuk bisa menyisihkan hartanya baik di saat lapang ataupun sempit. Jika akhir-akhir ini kondisi perekonomian dirasakan sempit, maka ini menjadi penguji identitas ketaqwaan tersebut; mampukah berqurban meski kondisi keuangan sedang dalam kesempitan?

Allah swt menegaskan bahwa orang yang bertaqwa itu adalah orang yang selalu bisa berinfaq meski dalam kondisi sempit sekalipun:

 أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ

(Surga seluas langit dan bumi itu) disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit (QS. Ali ‘Imran [3] : 133-134).

Teladan utama dari sifat taqwa di atas tentu saja Rasulullah saw. Sebagaimana diceritakan Abu Sa’id al-Khudri:

إِنَّ نَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ  فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Ada beberapa orang Anshar yang meminta kepada Rasulullah saw, lalu beliau pun memberinya. Kemudian mereka meminta lagi, lalu beliau memberinya lagi. Kemudian mereka meminta lagi, dan beliau pun memberinya lagi, sampai habis apa yang dimiliki beliau. Waktu itu beliau pun bersabda: “Harta yang ada padaku tidak mungkin aku sisakan dan sembunyikan dari kalian. Hanya siapa yang menahan diri, pasti Allah menjadikannya mampu bertahan. Siapa yang mencukupkan diri, pasti Allah memberinya kecukupan. Dan siapa yang bersabar, pasti Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih besar daripada kesabaran.” (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab al-isti’faf ‘anil-mas`alah no. 1469; Shahih Muslim kitab az-zakat bab fadllit-ta’affuf was-shabr no. 2471).

Teladan berikutnya adalah para shahabat Rasulullah saw sebagaimana difirmankan Allah swt:

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. al-Hasyr [59] : 9).

Abu Hurairah menjelaskan, bahwa shahabat yang dimaksud di antaranya adalah Abu Thalhah:

أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللهِ  فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَصَابَنِي الْجَهْدُ فَأَرْسَلَ إِلَى نِسَائِهِ فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَهُنَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ  أَلَا رَجُلٌ يُضَيِّفُهُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَهَبَ إِلَى أَهْلِهِ فَقَالَ لِامْرَأَتِهِ ضَيْفُ رَسُولِ اللهِ  لَا تَدَّخِرِيهِ شَيْئًا قَالَتْ وَاللَّهِ مَا عِنْدِي إِلَّا قُوتُ الصِّبْيَةِ قَالَ فَإِذَا أَرَادَ الصِّبْيَةُ الْعَشَاءَ فَنَوِّمِيهِمْ وَتَعَالَيْ فَأَطْفِئِي السِّرَاجَ وَنَطْوِي بُطُونَنَا اللَّيْلَةَ فَفَعَلَتْ ثُمَّ غَدَا الرَّجُلُ عَلَى رَسُولِ اللهِ  فَقَالَ لَقَدْ عَجِبَ اللهُ  أَوْ ضَحِكَ مِنْ فُلَانٍ وَفُلَانَةَ فَأَنْزَلَ اللهُ  {وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ}

Ada seseorang datang kepada Nabi saw dan berkata: “Wahai Rasulullah saw saya kelaparan.” Beliau lalu menyuruh seseorang untuk menemui istri-istri beliau tetapi ia tidak menemui sesuatu apapun yang bisa diberikan. Rasulullah saw lalu bertanya: “Adakah seseorang yang bersedia menjamunya malam ini? Semoga Allah merahmatinya.” Lalu ada seorang Anshar (Abu Thalhah—berdasarkan riwayat Muslim no. 5482) menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Ia lalu pulang ke rumahnya dan berkata kepada istrinya: “Ada tamu Rasulullah, jangan sisakan apapun (berikan semua yang ada).” Istrinya menjawab: “Tidak ada makanan kecuali makanan untuk anak-anak.” Ia berkata: “Jika anak-anak ingin makan malam, hiburlah sampai tidur. Kamu lalu kemari, matikan lampu, dan kita kosongkan perut semalam ini.” Istrinya pun kemudian menurutinya. Kemudian esok harinya orang Anshar tersebut menemui Rasulullah saw. Beliau bersabda: “Sungguh Allah kagum dengan perbuatan bapak dan ibu.” Allah kemudian menurunkan ayat: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Shahih al-Bukhari kitab al-manaqib bab qaulihi wa yu`tsiruna ‘ala anfusihim no. 4889).

Teladan dari Rasulullah saw dan para shahabat di atas menunjukkan bahwa orang yang bertaqwa selalu berusaha “memaksakan diri” untuk bershadaqah dan berinfaq. Tentunya tidak sampai menyengsarakan diri sehingga kemudian meminta-minta kepada orang lain. Sebab perbuatan minta-minta sangat dicela oleh syari’at.

Dalam kaitan qurban, akhlaq “memaksakan diri” harus diamalkan, karena nyata sekali di berbagai ayatnya Allah swt selalu mengaitkan qurban dengan ketaqwaan.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ٢٧

Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Ma`idah [5] : 27).

وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢

Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah (hewan qurban), maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati (QS. Al-Hajj [22] : 32)

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya (QS. Al-Hajj [22] : 37).

Jika orang bertaqwa selalu berusaha “memaksakan diri” mengeluarkan hartanya meski dalam keadaan sempit sekalipun, maka berarti dalam berqurban pun akhlaq taqwa itu diamalkan juga.

Wal-‘Llahul-musta’a