Infaq dan Shadaqah

Hukum Shadaqah Sambil Promosi

Hukum Shadaqah Sambil Promosi

Bismillah Ustadz. Saya seorang pedagang. Kalau memberikan shadaqah makanan produksi saya, selalu dituliskan merek dagangan dan nomor kontak dengan harapan ada yang memesan. Apakah shadaqah seperti itu diperbolehkan? 0857-2495-xxxx

Kasus yang anda tanyakan tentunya berbeda-beda niat dan modelnya. Perbedaannya tipis-tipis lagi. Jika shadaqah anda niatnya murni shadaqah dan pencantuman merek serta nomor kontak hanya sebagai teknis saja agar orang yang bertanya tentang produk anda tidak kesulitan mencarinya, tentu shadaqah seperti itu dibenarkan oleh syari’at. Tidak ada unsur pembatalnya; yakni mann (menyebut-nyebut shadaqah untuk diketahui orang lain shadaqah tersebut), adza (menyakiti hati orang yang diberi shadaqah), riya (pamer dan ingin diketahui orang lain, jika tidak ada unsur diketahui orang lain enggan bershadaqah), kufur, tidak selaras dengan shalat yang nyatanya malas, dan karh (terpaksa dan tidak tulus). Berikut dalil-dalilnya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٞ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٞ فَتَرَكَهُۥ صَلۡدٗاۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّمَّا كَسَبُواْۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. al-Baqarah [2] : 264).

وَمَا مَنَعَهُمۡ أَن تُقۡبَلَ مِنۡهُمۡ نَفَقَٰتُهُمۡ إِلَّآ أَنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأۡتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمۡ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمۡ كَٰرِهُونَ 

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan (QS. at-Taubah [9] : 54).

Model yang kedua bershadaqah dengan niat tulus karena Allah swt tapi disertai harapan mendapatkan gantinya di dunia dengan diberi keberkahan dalam usahanya. Hal yang seperti ini pun diperbolehkan asalkan tujuan utamanya tetap shadaqah. Harapan untuk mendapatkan gantinya di dunia diperbolehkan karena memang Nabi saw mengajarkan demikian.

لَا تُوكِي فَيُوكَى عَلَيْكِ لَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

Janganlah kamu mengikat (hartamu), nanti hartamu akan diikat (disempitkan). Janganlah kamu hitungan, nanti Allah akan hitungan kepadamu (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab at-tahridl ‘alas-shadaqah no. 1433).

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Setiap hari akan senantiasa ada dua malaikat yang turun kepada hamba-hamba. Yang satunya berdo’a: “Ya Allah, berilah orang yang infaq gantinya.” Dan malaikat satunya lagi berdo’a: “Ya Allah, berilah orang yang enggan infaq kebinasaan harta.” (Shahih al-Bukhari bab qaulil-‘Llah fa amma man a’tha wattaqa no. 1442).

Model ketiga orang yang memang niatan utamanya promosi produk dan ia bershadaqah dengan niatan utama itu. Yang seperti ini tentu pahala shadaqahnya akan hilang. Bahkan ia dikategorikan berdosa karena menyimpangkan niat yang seharusnya tertuju kepada Allah swt menjadi kepada selain Allah swt (QS. Hud [11] : 15-16 dan al-Isra` [17] : 18). Maka dari itu kami menyarankan agar yang niatnya promosi sudah promosi saja, tidak perlu dibungkus dengan label “amal shadaqah”. Yang seperti ini lebih selamat. Wal-‘Llahu a’lam