Home > Konsultasi Islam > Keluarga > Hukum Rumah Tangga Yang Dibiayai Orangtua

Hukum Rumah Tangga Yang Dibiayai Orangtua

Hukum Rumah Tangga Yang Dibiayai Orangtua

Ustadz maaf mau bertanya. Saya adalah lelaki yang sudah butuh pada nikah. Orangtua calon istri saya sudah bersedia menikahkan. Akan tetapi orangtua saya tidak mengizinkan karena saya masih kuliah dan belum hidup mandiri. Tetapi orangtua calon istri saya sudah menyanggupi untuk membiayai hidup rumah tangga saya selama saya kuliah, bahkan menganjurkan saya untuk nikah sirri. Pertanyaannya: 1. Bagaimana hukum rumah tangga yang dibiayai orangtua. 2. Bagaimana hukum perikahan sirri yang tanpa seizin orangtua.

Hal pertama yang harus ditekankan adalah bahwa dalam menghadapi setiap persoalan itu harus diutamakan musyawarah. Jika orangtua calon istri Anda sudah bersedia menikahkan Anda meskipun pernikahan sirri, maka Anda dan orangtua calon istri Anda harus duduk bersama dengan orangtua Anda untuk bermusyawarah dengan ma’ruf (baik). Bagaimanapun kemudian hasilnya Anda harus tawakkal (berserah diri kepada Allah swt), baik itu hasilnya disetujui untuk menikah atau jangan dulu menikah (QS. Ali ‘Imran [3] : 159). Jika sesudah musyawarah Anda tidak tawakkal, maka Anda tidak termasuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih, sebab dalam surat as-Syura disebutkan salah satu ciri orang beriman dan beramal shalih itu adalah selalu memusyawarahkan persoalan yang ada di antara mereka dan menerima hasilnya (QS. as-Syura [42] : 38).

Anda harus ingat bahwa memang berlakunya perintah menikah itu jika seseorang sudah mampu ba`ah (hidup mandiri). Jika belum mampu, maka Nabi saw memerintahkan shaum. Makna yang luasnya adalah menjaga diri dari semua hal yang bisa membangkitkan nafsu.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai sekalian anak-anak muda, siapa yang sudah mampu hidup mandiri menikahlah karena itu lebih menundukkan pAndangan dan menjaga kemaluan. Tetapi siapa yang belum mampu, maka shaumlah, karena itu bisa menjadi tameng (Shahih al-Bukhari bab man lam yastathi’il-ba`ah fal-yashum no. 5066).

Jika Anda mengatakan sudah butuh nikah dan satu-satunya solusi adalah nikah, hemat kami itu keliru. Solusinya bukan satu; nikah saja, tetapi dua; nikah dan shaum. Jadi jika Anda meyakini hanya nikah, itu pertAnda hidup Anda masih terpenjara oleh nafsu. Dikhawatirkan jika nafsu itu tidak mampu dikendalikan dari sejak sebelum nikah, maka sesudah nikah pun tetap tidak terkendalikan, karena memang nafsu tidak akan pernah ada puasnya. Jadi belajarlah dari sekarang—jika memang jalan nikah masih tertutup—untuk mengendalikan nafsu dan menjauhi semua yang bisa membangkitkan nafsu. Jika memang harus ekstrem berarti Anda tinggalkan televisi, internet, musik dan semua hiburan yang melalaikan. Hidup Anda hanya Anda isi dengan dzikir, thalabul-‘ilmi, menghafal al-Qur`an, dan bergaul hanya dengan kawan-kawan sejenis dan jangan dengan yang lawan jenis.

Perihal kehidupan rumah tangga yang masih dibiayai orangtua hukumnya halal selama orangtua itu sukarela dan tidak merasa diberatkan. Al-Qur`an juga menganjurkan agar orang-orang yang sulit mampu secara ekonomi dalam pernikahannya untuk dibantu dalam pernikahannya, bukan diharamkan menikah sama sekali (QS. an-Nur [24] : 32-33). Meski demikian tentu itu tidak berlaku selamanya. Allah swt sendiri sudah menjanjikan bahwa bagi setiap orang yang menikah itu sudah dijanjikan ada rizki yang bisa menyambung hidupnya (QS. an-Nur [24] : 32). Jadi meskipun orangtua Anda misalnya sanggup membiayai kebutuhan rumah tangga Anda selama kuliah, tetapi Anda tetap harus berusaha untuk menjadi seseorang yang tangannya di atas. Dan itu akan menjadi jalan pembuka rizki Anda sendiri. Jika merasa cukup saja dengan pemberian orangtua Anda, artinya Anda merasa cukup dengan menjadikan tangan Anda di bawah. Ini adalah salah satu penyebab tertutupnya barakah dari hidup Anda. Orangtua pun mustahil selamanya sukarela membantu Anda. Dalam satu titik tertentu mereka akan merasa berat, dan pada waktu itu Anda berarti telah durhaka kepada orangtua.

Pernikahan yang tidak ada izin orangtua termasuk dosa besar karena pasti menyakiti orangtua. Wal-‘Llahu a’lam.