Home > Konsultasi Islam > Muamalah > Hukum Musik

Hukum Musik

Hukum Musik

Ustadz bagaimana hukum musik/alat musik, soalnya saudara saya menebutkan haram? 

Orang yang mengharamkan musik biasanya berdalil dengan ayat berikut: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan (QS. Luqman [31] : 6). “Perkataan yang tidak berguna” dalam ayat di atas, menurut Ibn Mas’ud ra dan kalangan salaf lainnya adalah nyanyian dan musik (Tafsir Ibn Katsir). Tetapi sebagaimana terbaca dalam ayat di atas, nyanyian dan musik yang dimaksud adalah yang menyesatkan manusia dari jalan Allah dan mengolok-olok agama. Jika tidak ada dua unsur tersebut, maka nyanyian/musik tidak haram.

Terlebih ada hadits yang menyebutkan bahwa Nabi saw mengizinkan musik:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا زَفَّتْ امْرَأَةً إِلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ ﷺ يَا عَائِشَةُ مَا كَانَ مَعَكُمْ لَهْوٌ فَإِنَّ الْأَنْصَارَ يُعْجِبُهُمْ اللَّهْوُ

Dari ‘Aisyah, bahwasanya ia mengantarkan pengantin wanita ke rumah lelaki orang Anshar. Nabi saw bertanya: “Wahai ‘Aisyah kenapa tidak ada hiburan? Orang Anshar itu kan sangat menyenangi hiburan.” (Shahih al-Bukhari kitab an-nikah no. 5162)

Dalam riwayat at-Thabrani, Nabi saw menganjurkan lebih jelas lagi:

فَهَلْ بَعَثْتُمْ مَعَهَا جَارِيَة تَضْرِب بِالدُّفِّ وَتُغَنِّي؟

Kenapa kalian tidak menyertakan wanita-wanita yang memukul alat musik dan bernyanyi? (al-Mu’jamul-Ausath no. 3265)

Hal yang sama pernah terjadi pada hari ‘Id:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

‘Aisyah berkata: “Abu Bakar masuk ke rumahku sewaktu ada dua orang hamba sahaya Anshar di sisiku sedang menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan oleh orang-orang Anshar pada hari Bu’ats.” ‘Aisyah menegaskan: “Dan mereka berdua bukanlah penyanyi.” Lalu Abu Bakar datang dan berkata: “Layakkah seruling-seruling setan ditiup di rumah Rasulullah?” Saat itu sedang hari raya. Maka Rasulullah saw pun menjawab: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (Shahih al-Bukhari bab sunnatil-‘idain li ahlil-Islam no. 952)

Dari hadits-hadits di atas diketahui bahwa musik dibolehkan dalam moment bahagia, yang tentunya tidak bentrok dengan ibadah dan melalaikan ibadah. Kalau musik tersebut sampai menghalangi jalan Allah dan mempermainkan agama, maka hukumnya haram.