Home > Konsultasi Islam > Janaiz > Hukum Menuliskan Nama di Batu Nisan

Hukum Menuliskan Nama di Batu Nisan

Hukum Menuliskan Nama di Batu Nisan

Ustadz maaf bertanya. Bagaimana hukumnya menuliskan nama di batu nisan kuburan. Niatnya tidak untuk ghuluw Pak, cuma penanda saja. Apakah dalil innamal-a’mal bin-niyyat bisa dipake dalam hal ini Pak? 0838-2406-xxxx

Standar amal shalih itu bukan hanya niatnya saja yang ikhlas tetapi juga amalnya harus sesuai syari’at. Jadi meski niatnya baik, tetapi secara syari’at salah, maka tidak bisa menjadi baik hanya karena niat yang baik. Ibaratnya orang yang berniat membantu faqir miskin tetapi dengan cara mencuri barang orang lain. Tetap saja hukumnya haram meski niatnya untuk membantu faqir miskin. Hadits tentang niat harus diselaraskan dengan hadits:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهْوَ رَدٌّ

Siapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka dia tertolak (Shahih al-Bukhari kitab al-i’tisham bil-kitab bab idza-ijtahada al-‘amil au al-hakim fa akhtha`a secara mu’allaq; Shahih Muslim kitab al-aqdliyah bab naqdlil-ahkam al-bathilah wa raddu muhdatsat al-umur no. 4590).

Aturan syari’at dalam hal makam/kuburan adalah cukup tanahnya ditinggikan sedikit sekitar satu jengkal sebagai penanda, tetapi jangan sampai ditembok, atau sekedar ditulisi, apalagi dijadikan bangunan baru.

        وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ  قَالَ: اِلْحَدُوا لِي لَحْدًا, وَانْصِبُوا عَلَى اللَّبِنِ نُصْبًا, كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللهِ ﷺ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ جَابِرٍ نَحْوُهُ, وَزَادَ: وَرُفِعَ قَبْرُهُ عَنِ الْأَرْضِ قَدْرَ شِبْرٍ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

Dari Sa’ad ibn Abi Waqqash ra, ia berpesan: “Buatkanlah lahad (ruang menjorok di arah kiblat—pen) untukku dan tutuplah dengan papan-papan/bebatuan sekuatnya, sebagaimana diberlakukan pada kuburan Rasulullah.” Muslim meriwayatkannya. Dalam riwayat al-Baihaqi dari Jabir seperti itu dan ada tambahan: “Dan ditinggikan kuburannya dari tanah sekitar satu jengkal.” Ibn Hibban menshahihkannya (Bulughul-Maram kitab al-jana`iz no. 600-601).

وَلِمُسْلِمٍ عَنْهُ: نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Masih dalam riwayat Muslim dari Jabir: “Rasulullah saw melarang kuburan ditembok, diduduki, dan dibuatkan bangunan di atasnya.” (Bulughul-Maram kitab al-jana`iz no. 602).

Dalam riwayat an-Nasa`i dari sanad Sulaiman ibn Musa ada tambahan larangan:

أَوْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ

Atau ditulisi padanya (Sunan an-Nasa`i bab az-ziyadah ‘alal-qabri no. 2027)

Aturan syari’at ini jelas melarang penembokan dan penulisan pada nisan kuburan yang lumrah dipraktikan pada saat ini. Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ menjelaskan:

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ يُكْرَهُ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ اسْمُ صَاحِبِهِ أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ وَهَذَا لَا خِلَافَ فِيهِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَدَاوُد وَجَمَاهِيرُ الْعُلَمَاءِ … قَالَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمُ اللَّهُ وَلَا فَرْقَ فِي الْبِنَاءِ بَيْنَ أَنْ يَبْنِيَ قُبَّةً أَوْ بَيْتًا أَوْ غَيْرَهُمَا … قَالَ أَصْحَابُنَا وَيُهْدَمُ هَذَا الْبِنَاءُ بِلَا خِلَافٍ قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ وَرَأَيْت مِنْ الْوُلَاةِ مَنْ يهدم ما بني فيها قال وَلَمْ أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ عَلَيْهِ ذَلِكَ

Imam as-Syafi’i dan ulama-ulama madzhabnya menyatakan: Dibenci kuburan ditembok, ditulisi di atasnya baik itu nama jenazahnya atau tulisan lainnya, dan didirikan bangunan di atasnya. Ini tidak diperselisihkan di madzhab kami (Syafi’i), dan seperti itu juga pendapat Imam Malik, Ahmad, Dawud, dan mayoritas/jumhur ulama… Para ulama madzhab kami—semoga Allah merahmati mereka—berkata: Tidak ada perbedaan apakah bangunan yang dimaksud itu sekedar membuat kubah/atap, bangunan rumah, atau selain keduanya… Para ulama madzhab kami berkata: Bangunan tersebut harus dihancurkan. Hal ini tidak diperselisihkan. Imam as-Syafi’i dalam kitab al-Umm berkata: “Aku melihat Pemerintah menghancurkan bangunan di atas kuburan. Aku tidak melihat para fuqaha menyalahkan hal tersebut.” (al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab 5 : 298).