Home > Konsultasi Islam > Shalat > Hukum Menshalatkan Jenazah Pendukung Ahok

Hukum Menshalatkan Jenazah Pendukung Ahok

Hukum Menshalatkan Jenazah Pendukung Ahok

Bismillah, Ustadz apakah seorang muslim yang lebih memilih pemimpin kafir ketimbang pemimpin muslim jika kemudian meninggal apakah tidak perlu dishalatkan Ustadz? Mohon penjelasannya. 08212847xxxx

Sebagaimana sudah dijelaskan dalam Istifta edisi 24 Februari 2017, orang Islam yang memilih pemimpin kafir statusnya masih sah sebagai muslim. Hanya muslim pelaku dosa besar. Karena status muslimnya masih ada, maka haknya sebagai muslim tidak hilang. Ia tetap berhak diurus, dishalatkan, dan diantarkan ke kuburan oleh orang Islam sebagaimana umumnya jenazah-jenazah muslim.

Akan tetapi bagi mereka yang enggan menshalatkan jenazah pelaku dosa besar juga tidak bisa disalahkan, sebab Nabi saw pernah enggan menshalatkan jenazah pelaku dosa besar.

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ تُوُفِّىَ يَوْمَ خَيْبَرَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ فَقَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. فَتَغَيَّرَتْ وُجُوهُ النَّاسِ لِذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِى سَبِيلِ اللَّهِ. فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ فَوَجَدْنَا خَرَزًا مِنْ خَرَزِ يَهُودَ لاَ يُسَاوِى دِرْهَمَيْنِ.

Dari Zaid ibn Khalid al-Juhani, bahwasanya seorang lelaki dari shahabat Nabi saw wafat pada hari Khaibar. Para shahabat pun melaporkannya kepada Rasulullah saw. Tetapi beliau bersabda: “Shalatkanlah sahabat kalian.” Maka wajah orang-orang pun berubah (keheranan) karena sabda Nabi saw tersebut. Lalu Nabi saw pun bersabda lagi: “Sahabatmu ini sudah ghulul di jalan Allah.” Lalu kami memeriksa barang-barangnya dan kami temukan perhiasan Yahudi yang nilainya tidak sampai dua dirham (Sunan Abi Dawud kitab al-jihad bab fi ta’zhim al-ghulul no. 2712).

قَالَ جَابِرُ بْنُ سَمُرَةَ مَرِضَ رَجُلٌ فَجَاءَ جَارُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَدْ مَاتَ فَقَالَ وَمَا يُدْرِيكَ قَالَ رَأَيْتُهُ يَنْحَرُ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ مَعَهُ قَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ إِذًا لَا أُصَلِّيَ عَلَيْهِ

Jabir bin Samurah berkata: Ada seseorang yang sakit, lalu tetangganya datang kepada Rasulullah saw dan mengabarkan kepada beliau bahwa ia telah meninggal. Lalu beliau bersabda: “Bagaimana engkau mengetahui?” Ia berkata: “Saya melihatnya bunuh diri menggunakan anak panah bermata lebar.” Beliau bertanya: “Apakah engkau melihatnya?” Ia berkata: “Ya.” Beliau bersabda: “Jika demikian maka aku tidak akan menshalatinya.” (Sunan Abi Dawud bab al-imam la yushalli ‘ala man qatala nafsahu no. 2770)

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا دُعِيَ لِجِنَازَةٍ سَأَلَ عَنْهَا فَإِنْ أُثْنِيَ عَلَيْهَا خَيْرٌ قَامَ فَصَلَّى عَلَيْهَا وَإِنْ أُثْنِيَ عَلَيْهَا غَيْرُ ذَلِكَ قَالَ لِأَهْلِهَا شَأْنُكُمْ بِهَا وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهَا

Dari Abu Qatadah: Rasulullah saw apabila dipanggil untuk shalat jenazah, beliau bertanya terlebih dahulu tentang jenazah itu. Apabila jenazah itu dipuji baik beliau menshalatinya, dan bila dipuji selainnya beliau bersabda kepada keluarganya: “Itu urusan kalian” dan beliau tidak menshalatinya (Musnad Ahmad hadits Abu Qatadah al-Anshari no. 21513).