Home > Konsultasi Islam > Keluarga > Hukum Menjadi Wali Nikah Anak Yang Hamil

Hukum Menjadi Wali Nikah Anak Yang Hamil

Hukum Menjadi Wali Nikah Anak Yang Hamil

Kalau orangtua menjadi wali nikah anak yang sedang hamil hukumnya bagaimana? Kalau orangtua enggan menjadi wali nikah, hukumnya bagaimana? 08535355xxxx

Hemat kami ada beberapa hukum terkait pertanyaan di atas: (1) Status kehamilan. (2) Pernikahan wanita yang hamil. (3) Pernikahan pelaku zina yang belum dihukum. (4) Status orangtua sebagai wali nikah.

Pertama, status kehamilan. Jika yang dimaksud hamil karena zina maka jelas itu perbuatan dosa besar. Hukumannya: Didera seratus kali, diasingkan selama satu tahun, dan kedua hukuman itu disaksikan oleh masyarakat, tidak boleh ditutup-tutupi dan tidak boleh ada rasa belas kasihan (QS. an-Nur [24] : 2 dan Shahih al-Bukhari no. 2695). Meski hukuman dera mustahil dilakukan, hukuman pengasingan masih mungkin diterapkan.

Kedua, menikahkan wanita hamil hukumnya haram sampai ia melahirkan, berdasarkan firman Allah swt dalam QS. at-Thalaq [65] : 4. Menikahkan yang dimaksud juga haram kecuali kepada lawan zinanya atau orang kafir (QS. an-Nur [24] : 3).

Ketiga, pernikahan pelaku zina yang belum dihukum tetap sah, sebab hukuman dera dan pengasingan untuk pezina tidak menjadi syarat sahnya pernikahan. Bahkan pelaksanaan hukuman itu juga bukan syarat sahnya taubat.  Kalau ternyata perbuatan zinanya tidak diketahui oleh pemerintah yang berwenang, lalu sang pelaku bertaubat tulus, maka taubatnya bisa diterima. Nabi saw bersabda:

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ اِجْتَنِبُوا هَذِهِ اَلْقَاذُورَاتِ اَلَّتِي نَهَى اَللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا فَمَنْ أَلَمَّ بِهَا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اَللَّهِ تَعَالَى, وَلِيَتُبْ إِلَى اَللَّهِ تَعَالَى, فَإِنَّهُ مَنْ يَبْدِ لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللهِ رَوَاهُ اَلْحَاكِمُ, وَهُوَ فِي “اَلْمُوْطَّإِ” مِنْ مَرَاسِيلِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ

Dari Ibn ‘Umar, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jauhilah perbuatan-perbuatan asusila (zina) yang telah Allah larang ini. Siapa saja yang sudah melakukannya, maka bersembunyilah dengan penutupan dari Allah dan bertaubatlah kepada Allah. Sebab siapa saja yang menampakkan kepada kami perbuatan asusilanya, kami akan menegakkan kepadanya hukum Allah awj.” Al-Hakim meriwayatkannya. Hadits ini dalam al-Muwaththa` termasuk mursal Zaid ibn Aslam (Bulughul-Maram kitab al-hudud bab haddiz-zina no. 1248).

Keempat, status orangtua sebagai wali nikah, tepatnya izin darinya untuk menikahkan anaknya, menjadi syarat sahnya nikah. Izin yang dimaksud tentu di dalam batas-batas syari’at. Jika orangtua tidak memberi izin kepada anaknya menikah, sementara anaknya sudah memenuhi persyaratan secara syari’at, maka izin orangtua itu gugur dengan sendirinya. Jika orangtua tidak memberi izin karena anaknya melanggar syari’at, misalnya menikah dengan pria non-muslim, menikah kepada pelacur yang belum bertaubat, atau menikah di masa hamil, maka izin itu dibenarkan syari’at dan pernikahan anaknya menjadi batal.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا, فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ, فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا, فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ.

Perempuan mana saja yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya batal. Jika seseorang mencampuri istrinya, maka istri berhak mendapatkan mahar karena ia sudah menghalalkan farjinya. Jika mereka berkonflik (tentang siapa yang harus jadi wali), maka pemerintah wali bagi orang yang tidak memiliki wali (Bulughul-Maram kitab an-nikah no. 1010. Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibn Majah. Dinilai shahih oleh Abu ‘Awanah, Ibn Hibban, al-Hakim).

Tetapi ketika anak yang hamil hasil zina itu sudah melahirkan dan kemudian ingin menikah, tidak ada alasan syari’at yang dibenarkan untuk orangtua enggan menikahkannya. Wal-‘Llahu a’lam.