Home > Konsultasi Islam > Keluarga > Hukum Menikahkan Wanita Hamil

Hukum Menikahkan Wanita Hamil

Hukum Menikahkan Wanita Hamil

Bismillah. Ustadz saya mau tanya, bagaimana hukumnya orang yang menikahkan wanita yang hamil di luar nikah? Dan apabila kita sebagai orangtua apa yang harus kita upayakan? Terima kasih Ustadz. 08382072xxxx

Sebagaimana sudah dibahas dalam Istifta edisi 25 Desember 2015, wanita hamil di luar nikah atau hasil zina, hanya boleh menikah dengan lelaki yang menzinahinya berdasarkan firman Allah swt:

ٱلزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوۡ مُشۡرِكَةٗ وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ إِلَّا زَانٍ أَوۡ مُشۡرِكٞۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٣

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin (QS. an-Nur [24] : 3).

Jadi jika yang ditanyakan itu menikahkan wanita tersebut dengan yang menzinahinya maka hukum asalnya wajib seperti itu. Jika dengan pria lain yang tidak menzinahinya, maka pernikahan itu haram dan tidak sah.

Akan tetapi, pernikahan itu boleh dilakukan setelah yang berzina, baik laki-laki atau wanitanya, dihukum sesuai syari’at Islam. Hukuman yang dimaksud adalah: (1) Didera seratus kali, (2) diasingkan selama satu tahun, dan (3) kedua hukuman itu disaksikan oleh masyarakat, tidak boleh ditutup-tutupi dan tidak boleh ada rasa belas kasihan, mengingat kekejian perbuatan zina dan dampaknya yang akan menular pada masyarakat lainnya. Ketiga hukuman itu didasarkan pada ayat dan hadits berikut ini:

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman (QS. an-Nur [24] : 2).

وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ

Anakmu (yang berzina sebelum menikah) didera 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun (Shahih al-Bukhari kitab as-shulh bab idza ishthalahu ‘ala shulhin jaurin fas-shulhu mardud no. 2695).

Untuk hukuman dera, saat ini mungkin tidak bisa dilakukan karena dilarang oleh negara. Akan tetapi dua hukuman terakhir tidak akan dilarang dan sangat mungkin dijalankan. Terlebih faktanya sering ditemukan bahwa menikahkan wanita hamil itu untuk menutupi aib. Seharusnya pernikahan ditunda sampai satu tahun, para pezina dikucilkan oleh masyarakat—bukan disembunyikan oleh keluarga—selama satu tahun, baru kemudian dinikahkan. DKM dan tokoh masyarakat dalam hal ini harus terlibat dalam memberikan hukuman jera kepada para pezina. Wal-‘Llahu a’lam.