Home > Konsultasi Islam > Akhlaq > Hukum Kencing Sambil Berdiri

Hukum Kencing Sambil Berdiri

Hukum Kencing Sambil Berdiri

Saya mendapatkan postingan di media social tentang ceramah seorang Ustadz yang menyatakan bahwa kencing sambil berdiri itu terlarang. Apakah benar demikian? 0819-1019-xxxx

Hadits yang melarang kencing sambil berdiri tidak ada yang shahih. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim bab al-mash ‘alal-khuffain dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari bab al-baul ‘inda subathah qaum memberi kesimpulan demikian. Yang ada hanya informasi dari ‘Aisyah ra bahwa Nabi saw tidak pernah kencing sambil berdiri riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa`i. Akan tetapi ada hadits lain dari Hudzaifah ra, bahwa Nabi saw pernah kencing sambil berdiri, diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim. Kedua hadits tersebut tidak bertentangan, karena hanya informasi dari masing-masing terkait apa yang mereka ketahui. Jadi sepanjang pengetahuan ‘Aisyah ra Rasulullah saw selalu kencing sambil duduk, sementara Hudzaifah ra tahu bahwa Rasulullah saw pernah kencing sambil berdiri.

Hadits ‘Aisyah ra yang menginformasikan Nabi saw selalu kencing sambil duduk—atau kemungkinan besar jongkok—adalah:

مَا بَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا مُنْذُ أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْفُرْقَانُ

Rasulullah saw tidak pernah kencing sambil berdiri sejak diturunkan al-Qur`an kepada beliau (al-Mustadrak al-Hakim kitab at-thaharah no. 644, 659)

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُولُ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوهُ، مَا كَانَ يَبُولُ إِلَّا قَاعِدًا

Siapa yang menyampaikan kepada kalian bahwasanya Nabi saw kencing sambil berdiri maka janganlah kalian mempercayainya. Beliau tidak pernah kencing melainkan sambil duduk (Sunan at-Tirmidzi bab an-nahy ‘anil-baul qa`iman no. 12).

Sementara hadits yang menginformasikan Nabi saw pernah kencing sambil berdiri riwayat al-Bukhari Muslim yang secara status hadits lebih kuat adalah:

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ رَأَيْتُنِي أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَتَمَاشَى فَأَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ خَلْفَ حَائِطٍ فَقَامَ كَمَا يَقُومُ أَحَدُكُمْ فَبَالَ فَانْتَبَذْتُ مِنْهُ فَأَشَارَ إِلَيَّ فَجِئْتُهُ فَقُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ حَتَّى فَرَغَ

Dari Hudzaifah ra, ia berkata: “Aku pernah berjalan bersama Nabi saw (di Madinah) lalu beliau menepi ke belakang pekarangan rumah satu kaum (yang biasa dijadikan tempat buang sampah) di balik sebuah banteng. Beliau lalu berdiri sebagaimana berdirinya salah seorang di antara kalian dan kemudian kencing. Aku menjauh dari beliau, tetapi beliau berisyarat kepadaku untuk mendekat, dan aku pun lalu mendekat. Aku berdiri di belakang beliau hingga beliau selesai.” (Shahih al-Bukhari bab al-baul ‘inda shahibihi no. 225).

Keterangan: Pernyataan “sebagaimana berdirinya salah seorang di antara kalian” menunjukkan bahwa kencing sambil berdiri sudah umum diamalkan oleh para shahabat waktu itu.

Dalam riwayat Muslim ada tambahan:

فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ فَتَوَضَّأَ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ

“Aku lalu mendekat hingga berdiri di belakang beliau. Setelah itu beliau berwudlu dengan mengusap bagian atas sepatunya.” (Shahih Muslim bab al-mash ‘alal-khuffain no. 647).

Terkait hadits-hadits di atas, al-Hafizh Ibn Hajar menyimpulkan:

وَالْجَوَاب عَنْ حَدِيثِ عَائِشَة إِلَى مُسْتَنَد إِلَى عِلْمِهَا فَيُحْمَلُ عَلَى مَا وَقَعَ مِنْهُ فِي الْبُيُوتِ وَأَمَّا فِي غَيْرِ الْبُيُوتِ فَلَمْ تَطَّلِعْ هِيَ عَلَيْهِ وَقَدْ حَفِظَهُ حُذَيْفَة وَهُوَ مِنْ كِبَارِ الصَّحَابَةِ وَقَدْ بَيَّنَّا أَنَّ ذَلِكَ كَانَ بِالْمَدِينَةِ فَتَضَمَّنَ الرَّدَّ عَلَى مَا نَفَتْهُ مِنْ أَنَّ ذَلِكَ لَمْ يَقَعْ بَعْدَ نُزُولِ الْقُرْآنِ . وَقَدْ ثَبَتَ عَنْ عُمَر وَعَلِيّ وَزَيْد بْن ثَابِت وَغَيْرهمْ أَنَّهُمْ بَالُوا قِيَامًا وَهُوَ دَالٌّ عَلَى الْجَوَازِ مِنْ غَيْرِ كَرَاهَةٍ إِذَا أَمِنَ الرَّشَاشَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Jawaban untuk hadits ‘Aisyah karena itu berdasar pada pengetahuannya yang biasa diamalkan di rumah. Adapun yang di luar rumah maka ‘Aisyah tidak mengetahuinya. Tetapi Hudzaifah mengingatnya dan ia termasuk shahabat senior. Kami sudah jelaskan bahwa itu terjadi di Madinah, sehingga membantah pernyataan ‘Aisyah bahwa Nabi saw tidak pernah kencing berdiri setelah turun al-Qur`an. Sungguh kuat riwayat dari ‘Umar, ‘Ali, Zaid ibn Tsabit, dan lainnya bahwa mereka kencing sambil berdiri. Itu semua menunjukkan boleh tanpa makruh, tentunya jika aman dari percikan air kencing. Wal-‘Llahu a’lam (Fathul-Bari bab al-baul ‘inda subathah qaum).

Hemat kami, untuk konteks hari ini bagi laki-laki justru lebih aman kencing sambil berdiri dan diarahkan ke dinding agar tidak ada percikan air kencing yang kena ke badan dan pakaian dibanding dengan kencing sambil duduk jongkok. Wal-‘Llahu a’lam.