Hukum Isbal

Hukum Isbal

Ustadz mohon diterangkan ulang dalil-dalil seputar isbal. Mengingat masih banyak saudara-saudara kita yang bersikukuh mewajibkan isbal. 0818226xxx

Isbal atau menjulurkan pakaian melebihi batas yang ditentukan Nabi saw adalah persoalan ikhtilaf yang sudah ada sejak era para ulama madzhab. Batas yang dimaksud adalah pergelangan tangan untuk baju dan dua mata kaki untuk pakaian bawah (celana panjang/sarung/gamis). Sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari kitab al-libas bab man jarra izarahu min ghairi khuyala`, hadits-hadits seputar isbal ini ada tiga macam: (1) Melarang isbal secara mutlak. (2) Membolehkan isbal bagi yang tidak sombong. (3) Menganjurkan tidak isbal meski tidak sombong. Hadits jenis pertama disabdakan Nabi saw kepada Sufyan ibn Sahl sambil memegang pakaian bagian bawahnya:

يَا سُفْيَانُ بْنَ سَهْلٍ لَا تُسْبِلْ إِزَارَكَ فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

Hai Sufyan ibn Sahl, jangan kamu isbalkan celanamu, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang isbal (as-Sunan al-Kubra an-Nasa`i bab isbalil-izar no. 9624).

Hadits jenis kedua diriwayatkan oleh al-Bukhari dari shahabat Ibn ‘Umar sebagai berikut:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ

“Siapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu bagian sarungku melorot kecuali jika aku terus memegangnya.” Nabi saw bersabda: “Kamu tidak termasuk yang melakukannya karena sombong.” (Shahih al-Bukhari kitab al-libas bab man jarra izarahu min ghairi khuyala` no. 5784)

Hadits jenis ketiga disampaikan Nabi saw kepada ‘Amr ibn Zurarah, dimana beliau sampai merunduk memegang celana ‘Amr dan menegurnya isbal. ‘Amr berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَحْمَسُ السَّاقَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ : يَا عَمْرَو بن زُرَارَةَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَحْسَنَ كُلَّ خَلْقِهِ، يَا عَمْرَو بن زُرَارَةَ إِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

“Wahai Rasulullah sungguh saya orang yang sangat kecil betisnya.” Rasulullah saw bersabda: “Hai ‘Amr ibn Zurarah, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla sungguh telah membaguskan semua ciptaannya. Hai ‘Amr ibn Zurarah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang isbal.” (al-Mu’jamul-Kabir at-Thabrani no. 7834)

Hadits terakhir ini, menurut Ibn Hajar, jelas ditujukan kepada shahabat yang tidak bermaksud sombong. Tetapi Nabi saw tetap menganjurkannya tidak isbal.

Dari hadits-hadits di atas para ulama madzhab Hanbali menyimpulkan bahwa isbal itu haram, baik sombong atau tidak, sebab Nabi saw tetap melarangnya. Adapun Abu Bakar dikecualikan oleh Nabi saw karena beliau isbal tidak sengaja dan tetap berusaha untuk memegangnya.

Adapun Imam as-Syafi’i dan para ulama pengikutnya menyimpulkan bahwa isbal dengan sombong haram. Sementara isbal dengan tidak sombong makruh (Fathul-Bari kitab al-libas bab man jarra izarahu min ghairi khuyala`). Wal-‘Llahu a’lam.