Home > Aqidah > Hujan Laknat

Hujan Laknat

Hujan Laknat

Hujan Laknat – Sejatinya hujan adalah rahmat. Ia adalah anugerah Allah swt terbesar untuk makhluk hidup di muka bumi karena menjadi sumber utama kehidupan itu sendiri. Akan tetapi tingginya curah hujan akhir-akhir ini malah menjadi bencana di beberapa tempat. Itu pertanda bahwa hujan sudah menjadi laknat. Ironinya, banyak manusia yang tidak juga sadar bahwa hidupnya sudah dilaknat Allah swt. Mereka masih saja hidup tenang dalam laknat; menikmati hidup sebagai orang-orang yang terlaknat.

Perkembangan sains yang pesat memberikan dampak negatif tersendiri bagi aqidah umat Islam. Umat jadi sempit aqidahnya karena meyakini bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini berlangsung berdasarkan “hukum alamiah”. Umat manusia pada umumnya memang sudah tidak meyakini lagi bahwa ada banyak roh yang mengendalikan alam ini. Tetapi umat manusia pada umumnya juga meyakini bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini hanya gejala-gejala alamiah semata; alam semesta dengan semua keteraturannya, semuanya ini karena hukum alamiah, teratur dengan sendirinya, tidak ada peran Rabbul-‘alamin; Sang Maha Pengatur alam semesta. Matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di barat; bulan dan bintang yang menampakkan dirinya di malam hari; hujan dan panas yang datang silih berganti; angin kering dan angin basah yang bertiup saling bergantian sepanjang tahun; semuanya terjadi secara alamiah semata, secara saintis semata, tanpa ada Sang Maha Pengaturnya.

Pendidikan sains yang massif di semua lembaga pendidikan mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi juga sudah menyempitkan aqidah umat Islam pada satu “hukum kausalitas”; sebab-akibat. Gemba bumi tektonik terjadi karena ada lempengan bumi yang bertubrukan; gempa bumi vulkanik terjadi karena gunung berapi meletus; kemarau berkepanjangan terjadi karena ada badai angin kering/el nino; musim hujan yang tiada henti terjadi karena ada badai angin basah/la nina; musibah banjir di mana-mana terjadi karena ada penyempitan dan sedimentasi sungai, ditambah alih fungsi daerah serapan air di pegunungan-pegunungan. Hanya cukup sampai di situ, tidak pernah dikaitkan dengan aqidah al-hamdu lil-‘Llah Rabbil-‘alamin. Keyakinan bahwa Allah swt murka kepada umat manusia melalui bencana alam hanya dianggap sebagai mitos orang-orang kolot para pengkhutbah keagamaan; atau yang sering disebut oleh al-Qur`an terkait celotehan orang-orang kafir: in hadza illa asathirul-awwalin; yang beginian hanya mitos orang-orang tua terdahulu (ada sembilan ayat yang menjelaskan celotehan orang kafir ini, di antaranya QS. al-An’am [6] : 25 dan al-Muthaffifin [83] : 13).

Perkembangan sains dan teknologi yang maju juga telah menjebak umat Islam pada budaya tontonan, bukan tuntunan. Bencana banjir, longsor, gempa bumi, gunung meletus, dan tabrakan hebat bisa dengan mudah direkam oleh telepon genggam. Setelah itu dibagikan melalui media sosial atau aplikasi berbagi video. Ditontonlah dan diunduhlah oleh jutaan orang. Disiarkan juga secara mudah di media-media elektronik, dan bahkan sampai dulang-ulang. Semuanya tertarik untuk menontonnya karena “langka”-nya atau karena “dahsyat”-nya. Tetapi hanya sebatas tontonan, tidak menjadi tuntunan. Tidak serta merta dengan banyaknya video bencana yang ditonton dan diunduh, semakin banyak pula orang-orang yang menjadi takut kepada Allah swt; semakin banyak orang yang mengkaji al-Qur`an, semakin penuh majelis-majelis pengajian, atau semakin sesak jama’ah-jama’ah shalat di masjid. Faktanya tetap saja masjid dan majelis pengajian diisi oleh orang yang itu-itu juga. Berarti perkembangan sains dan teknologi hanya menjadikan umat Islam lebih menikmati dunianya, bukan semakin tinggi ketakutan pada akhiratnya. Semakin permisif dan hedonis hidup di dunia dengan melupakan akhirat. Ini juga gambaran nyata dari aqidahnya orang-orang kafir, yang disebut oleh para ulama dengan istilah kaum dahriyyin; meyakini bahwa hidup yang utama itu di dunia saja, sehingga nikmati saja dan manfaatkan sebaik-baiknya untuk bersenang-senang dengan tidak meyakini adanya hari akhir. Mereka selalu berceloteh: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (dahr).” (QS. al-Jatsiyah [45] : 24).

Artinya umat Islam secara tidak sadar sudah digiring oleh pendidikan dan perkembangan sains pada aqidahnya orang-orang kafir. Hal ini tidak aneh karena memang sains dan teknologi yang diajarkan hari ini dilahirkan dari rahim Barat dalam wujud bayi sekularisme. Seruan dan gerakan islamisasi sains yang digelindingkan oleh beberapa ilmuwan muslim sering dianggap sepi oleh para praktisi pendidikan Islam itu sendiri. Tidak banyak Perguruan Tinggi Islam yang merespons. Pesantren dan Madrasah pun menganggapnya sebagai angin lalu saja. Padahal dampaknya pada perusakan aqidah sungguh sangat membahayakan.

Islam tentu tidak memusuhi sains/ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi Islam menuntut umatnya untuk melampaui sains dan teknologi itu. Jangan sebatas terjebak pada “kehidupan dunia” saja, tetapi harus mampu melampauinya pada “kehidupan akhirat”. Tidak terbatas pada hukum alamiah dan kausalitasnya semata, tetapi harus sampai pada “Sang Maha Penyebab” hukum alamiah dan kausalitas itu sendiri. Sebab Allah swt mengingatkan, penyebab awalnya memang perbuatan fasad dari manusia itu sendiri. Tetapi “Sang Maha Penyebab”-nya itu sendiri adalah Allah swt. Maka manusia jangan hanya terbatas pada memikirkan ‘penyebab’-nya semata, tetapi juga harus mampu kembali kepada “Sang Maha Penyebab”-nya itu sendiri.

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٤١

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. ar-Rum [30] : 41).

Fasad yang dimaksudkan al-Qur`an bukan hanya fasad alamiah atau materi saja (QS. al-A’raf [7] : 56, 85; an-Naml [27] : 34), tetapi juga fasad ruhaniah atau agama (QS. al-Baqarah  [2] : 11-13). Semua bencana yang terjadi penyebabnya pasti selalu dua; manusia yang sudah berani merusak alam karena keserakahannya, dan manusia yang sudah tidak lagi tunduk pada syari’at Allah swt. Kedua-duanya ini harus selalu diperhatikan oleh manusia, agar hujan yang seyogianya adalah rahmat (QS. al-A’raf [7] : 57), tidak malah menjadi laknat sebagaimana halnya hujan yang menimpa kaum ‘Ad dan Luth (QS. al-Ahqaf [46] : 24-25; al-A’raf [7] : 83-84).

وَهُوَ ٱلَّذِي يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشۡرَۢا بَيۡنَ يَدَيۡ رَحۡمَتِهِۦۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَقَلَّتۡ سَحَابٗا ثِقَالٗا سُقۡنَٰهُ لِبَلَدٖ مَّيِّتٖ فَأَنزَلۡنَا بِهِ ٱلۡمَآءَ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِۚ كَذَٰلِكَ نُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ٥٧

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran (QS. al-A’raf [7] : 57).

فَلَمَّا رَأَوۡهُ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ قَالُواْ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ ٢٤ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۢ بِأَمۡرِ رَبِّهَا فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ٢٥

Maka tatkala mereka (kaum ‘Ad) melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan)! Bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa (QS. al-Ahqaf [46] : 24-25).

فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ٨٣ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ٨٤

Kemudian Kami selamatkan dia (Luth) dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (bercampur batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu (QS. al-A’raf [7] : 83-84).

Wa Rabbunar-Rahmanul-Musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.