Pendidikan

Harta Paling Berharga: Wakaf Pendidikan

Harta Paling Berharga: Wakaf Pendidikan

Shadaqah sebagai harta yang sebenarnya seorang mukmin tidak semuanya sama nilainya. Ada shadaqah yang paling berharga dan bernilai lebih dari shadaqah lainnya, yakni shadaqah yang kemanfaatannya berlangsung lama, terkait dengan ilmu yang bermanfaat, dan memperoleh do’a dari anak-anak yang shalih. Itulah wakaf pendidikan, karena wakaf untuk pendidikan kemanfaatannya berlangsung lama, akan terus mengalir seiring ilmu yang terus dimanfaatkan, dan do’a keselamatan dari anak-anak shalih akan sampai kepada para muwakifnya. Bahkan sampai para muwakif sudah meninggal dunia sekalipun.

Sungguh berbahagia orang-orang yang jasadnya tinggal nama tetapi amal kebaikannya terus mengalir. Mereka adalah orang-orang yang hartanya masih mengalirkan keuntungan dalam wujud wakaf; masjid yang masih dimakmurkan; sekolah, pesantren, dan madrasah yang masih kokoh mendidik umat; rumah sakit dan puskesmas yang melayani kebutuhan kesehatan masyarakat; sumur air yang masih mengalir mengairi kedahagaan umat; serta lahan garapan produktif yang kemanfaatannya masih dirasakan umat. Mereka sudah sampai pada tahap ‘ainal-yaqin (meyakini, menyaksikan, dan merasakan langsung) bahwa harta yang benar-benar menjadi harta mereka dan mengalir abadi hanyalah wakaf-wakaf tersebut, bukan harta jutaan atau miliaran yang habis entah ke mana. Mereka sudah merasakan betul bahwa harta yang tidak diwakafkan hilang setelah mereka wafat, karena sudah berpindah kepemilikan melalui mekanisme waris, sementara wakaf tidak. Sabda Nabi saw berikut sudah dirasakan betul kebenarannya oleh mereka:

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

Seorang hamba berkata: “Ini adalah hartaku, hartaku.” Padahal harta yang ia miliki itu hanya tiga saja: Apa yang dimakan lalu habis, apa yang dipakai lalu rusak, atau apa yang didermakan lalu menjadi bekal yang cukup. Selebihnya dari itu akan habis dan ditinggalkan untuk orang lain (Shahih Muslim kitab az-zuhd war-raqa`iq no. 7611 [hadits Abu Hurairah]. Dalam hadits ‘Abdullah ibnus-Syikhkhir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam bab yang sama no. 7609 disebutkan bahwa Nabi saw bersabda di atas ketika menjelaskan surat at-Takatsur).

Anjuran Nabi saw untuk memperkaya harta melalui wakaf disabdakannya dalam hadits yang populer dari Abu Hurairah ra:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang meninggal maka akan terputus amalnya kecuali dari tiga hal; shadaqah yang terus mengalir, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akannya (Shahih Muslim bab ma yalhaqul-insan minats-tsawab ba’da wafatihi no. 4310).

Terkait hadits di atas, Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan:

قَالَ الْعُلَمَاء: مَعْنَى الْحَدِيث أَنَّ عَمَل الْمَيِّت يَنْقَطِع بِمَوْتِهِ وَيَنْقَطِع تَجَدُّد الْجَوَاب لَهُ إِلَّا فِي هَذِهِ الْأَشْيَاء الثَّلَاثَة لِكَوْنِهِ كَانَ سَبَبهَا؛ فَإِنَّ الْوَلَد مِنْ كَسْبه، وَكَذَلِكَ الْعِلْم الَّذِي خَلَّفَهُ مِنْ تَعْلِيم أَوْ تَصْنِيف، وَكَذَلِكَ الصَّدَقَة الْجَارِيَة وَهِيَ الْوَقْف

Para ulama menjelaskan: Makna hadits di atas adalah sungguh amal mayit itu terputus dengan kematiannya dan terputus pembaruan ijabah untuknya kecuali dalam tiga hal ini karena ia menjadi penyebabnya: (1) Anak itu hasil dari usahanya, (2) demikian juga ilmu yang ia tinggalkan berupa pengajaran atau karya tulis, dan (3) termasuk shadaqah yang mengalir seperti wakaf.

Imam an-Nawawi menjelaskan lebih lanjut:

وَفِيهِ دَلِيل لِصِحَّةِ أَصْل الْوَقْف وَعَظِيم ثَوَابه، وَبَيَان فَضِيلَة الْعِلْم وَالْحَثّ عَلَى الِاسْتِكْثَار مِنْهُ وَالتَّرْغِيب فِي تَوْرِيثه بِالتَّعْلِيمِ وَالتَّصْنِيف وَالْإِيضَاح، وَأَنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يَخْتَار مِنْ الْعُلُوم الْأَنْفَع فَالْأَنْفَع. وَفِيهِ أَنَّ الدُّعَاء يَصِل ثَوَابه إِلَى الْمَيِّت وَكَذَلِكَ الصَّدَقَة وَهُمَا مُجْمَع عَلَيْهِمَا

Dalam hadits ini jadi dalil keabsahan wakaf dan pahalanya sangat besar. Demikian juga keutamaan ilmu, anjuran untuk memperbanyak ilmu, dan dorongan untuk mewariskannya melalui pengajaran, penulisan karya, dan penjelasan. Dalam konteks ini sudah sepatutnya seseorang memilih ilmu yang paling bermanfaat terlebih dahulu. Dalam hadits ini juga diketahui bahwasanya do’a sampai pahalanya kepada mayit, demikian juga shadaqah. Kedua hal ini sudah disepakati kedudukannya.

Sementara itu Imam as-Suyuthi sebagaimana dikutip dari penjelasan Imam al-‘Azhim Abadi dalam ‘Aunul-Ma’bud syarah Sunan Abi Dawud menjelaskan bahwa di antara contoh-contoh shadaqah yang mengalir itu adalah menanam pohon kurma, mewariskan mushhaf, bersiaga di daerah perbatasan musuh, menggali sumur, membuat aliran baru sungai, membangun rumah untuk tempat singgah para pendatang, membangun tempat untuk dzikir, dan mengajarkan al-Qur`an.

Terkait anak shalih yang disebutkan secara khusus meski sebenarnya do’a dari siapapun akan sampai kepada mayit sebagaimana disinggung Imam an-Nawawi di atas, menurut Imam al-Munawi untuk menegaskan kepada kaum anak agar bersemangat untuk mendo’akan orangtuanya.

Meski ketiga hal yang Nabi saw sebutkan di atas masing-masingnya berdiri sendiri dan tidak harus saling berkaitan satu sama lain, tetapi tidak salah jika kemudian ketiga-tiganya mau diraih sekaligus; seseorang terobsesi menjadi orang kaya dan banyak wakafnya, ia juga bersemangat mencari ilmu dan mengajarkan ilmu serta menuliskannya, dan ia juga mendidik anak-anaknya dengan baik sehingga menjadi anak shalih yang pasti akan mendo’akannya. Itulah kekayaan yang paling berharga bagi setiap orang.

Bisa juga meraih ketiga pahala tersebut melalui satu amal yang sama, yakni wakaf untuk dunia pendidikan dan dakwah. Wakaf untuk pendidikan akan ada unsur shadaqah yang mengalir lama sampai seseorang sudah menisnggal dunia sekalipun. Bangunan masjid dan madrasah umurnya selalu ratusan tahun dan bahkan ada yang sampai lewat dari seribu tahun. Berarti selama ratusan dan seribuan tahun tersebut juga pahalanya akan mengalir. Bandingkan dengan harta yang tidak diwakafkan dan otomatis hilang ketika seseorang meninggal karena sudah otomatis berpindah kepemilikan melalui waris.

Wakaf untuk pendidikan juga terkait dengan ilmu yang akan bermanfaat sampai akhir zaman karena akan terus diajarkan ke generasi berikutnya, diajarkan lagi, dan diajarkan lagi terus sampai hari kiamat. Demikian halnya jika di antara orang-orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut mampu menulis karya yang akan dibaca sampai akhir zaman, sebagaimana Imam al-Bukhari dan Muslim yang jasadnya sudah wafat 1200 tahun yang lalu tetapi pahala ilmunya masih terus mengalir sampai sekarang bahkan sampai akhir zaman. Demikian halnya ulama-ulama lainnya yang karyanya masih akan terus dibaca sampai akhir zaman. Shadaqah sebesar apapun yang disalurkan untuk membantu menyebarnya ilmu tersebut maka pahalanya sama akan mengalir kepada pemberi shadaqahnya.

Dalam wakaf pendidikan juga hampir dipastikan akan melahirkan anak-anak yang shalih dan pasti rajin berdo’a serta do’anya pasti diijabah. Do’a mereka dalam shalat dan dalam setiap kesempatan berdo’a untuk semua yang telah membantu mereka pasti akan sampai dan diijabah Allah swt untuk para pemberi shadaqah yang membantu pendidikan keshalihan mereka.

Sungguh sangat disayangkan jika harta yang paling berharga ini tidak dimiliki oleh orang-orang yang terobsesi untuk kaya selama-lamanya sampai ke akhirat.

Wal-‘Llahu a’lam.