Home > Konsultasi Islam > Haji dan Qurban > Harga Hewan Qurban Standar Bobot dan Fee untuk Panitia

Harga Hewan Qurban Standar Bobot dan Fee untuk Panitia

Mohon pencerahannya. Jika seseorang beli sapi H-10 dengan berat 400 kg, kemudian ketika dikirim naik bobotnya atau mungkin berkurang 20 kg, bagaimana statusnya yang 20 kg tersebut? Apakah pembeli harus membeli sisa kelebihan atau pedagang mengembalikan sisa kekurangan dari bobot yang dibeli semula? Kemudian bagaimana hukum panitia yang mengambil fee pembelian sapi dari penjual? 0813-2229-xxxx

Jual beli hewan qurban, hemat kami kembali pada standar keumuman yang sudah biasa berlaku (‘urfi/‘adah). Penentuan harga yang didasarkan pada bobot sifatnya prediktif, kalkulatif, tetapi tidak spekulatif. Penjual akan menyebutkan sebatas kisaran bobotnya, bukan kepastian bobotnya, sebab memang susah dipastikan. Kalaupun ada yang ditimbang hewan hidupnya dan diketahui pasti bobotnya, tetap saja susah dipastikan bahwa nanti ketika disembelihnya bobotnya akan sama dengan penimbangan awal. Maka dari itu penimbangan awal tersebut juga sifatnya hanya untuk kisaran semata. Dan itu untuk patokan pembedaan harga saja, bukan berarti jual beli didasarkan pada bobot tersebut. Dalam praktik lapangannya, jual beli hewan qurban selalu tertuju langsung pada objek hewannya dan dilakukan secara tatap muka langsung, bukan pada objek bobot hewan qurbannya. Persoalan bobot hewannya kemudian naik atau turun dari yang semula diprediksikan itu sudah sama-sama maklum pasti akan terjadi. Ketika penjual dan pembeli sudah saling ridla dengan mekanisme jual beli hewan qurban seperti itu, maka tidak ada yang perlu disalahkan dari transaksi hewan qurban seperti itu.

Kalaupun ada yang bersikeras mendasarkan transaksi pada bobot, berarti harus ada kejelasan dari sejak awal bahwa pembeli membeli hewan qurban itu dengan kepastian ketika disembelih bobotnya sekian. Jika ternyata susut maka penjual harus mengembalikan uang lebihnya dan jika ternyata bertambah maka pembeli harus membayar untuk bobot yang lebihnya. Tetapi ini tidak bisa dilakukan sepihak oleh pembeli atau penjual saja, harus disepakati oleh kedua pihak dari sejak awal. Sehingga ketika satu pihak menuntut pembayaran/pengembalian lebih setelah penyembelihan selesai tidak otomatis harus dipenuhi jika memang tidak ada kesepakatan dari awal, sebab bertentangan dengan ‘urfi/‘adah yang berlaku. Sementara hukum dalam transaksi itu dikembalikannya pada ‘urfi/‘adah (standar keumuman yang biasa berlaku)-nya.

Selanjutnya terkait fee untuk panitia yang membeli hewan qurban dari penjual, maka itu statusnya karena ia membeli atas nama panitia, jadi harus dikembalikan kepada panitia secara kelembagaan dan haram dimakan oleh sendiri. Jika dimakan oleh sendiri itu termasuk memakan harta yang haram dan penggelapan atas harta yang tidak halal. Nabi saw mengingatkan:

فَإِنِّي أَسْتَعْمِلُ الرَّجُلَ مِنْكُمْ عَلَى الْعَمَلِ مِمَّا وَلَّانِي اللَّهُ فَيَأْتِي فَيَقُولُ هَذَا مَالُكُمْ وَهَذَا هَدِيَّةٌ أُهْدِيَتْ لِي أَفَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ حَتَّى تَأْتِيَهُ هَدِيَّتُهُ وَاللَّهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ يَحْمِلُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Saya menugaskan seseorang di antara kalian untuk satu tugas yang telah diwenangkan Allah kepadaku. Tetapi ketika datang ia malah berkata: Ini harta kalian dan ini hadiah untukku. Maka mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya sehingga hadiah itu datang kepadanya. Demi Allah, tidaklah seseorang di antara kalian mengambil sedikit pun dengan tidak haq, melainkan ia akan memikulnya pada hari kiamat—dalam keadaan dicemarkan. (Shahih al-Bukhari kitab al-hiyal bab ihtiyalil-‘amil li yuhda lahu no. 6979).

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَلْيَجِئْ بِقَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ فَمَا أُوتِىَ مِنْهُ أَخَذَ وَمَا نُهِىَ عَنْهُ انْتَهَى

Siapa di antara kalian yng kami beri pekerjaan, maka hendaklah ia datang kembali dengan membawa harta yang banyaknya dan yang sedikitnya (hadiah/tip/fee). Maka apa yang diberikan kepadanya (oleh pimpinan) dari harta itu, ambillah, dan apa yang tidak diberikan jangan ia mengambil (Shahih Muslim kitab al-imarah bab tahrim hadayal-‘ummal no. 4848).