Akhlaq

Hanzhalah Munafiq!

Hanzhalah Munafiq!

Pernyataan yang mengejutkan tersebut diucapkan oleh Hanzhalah ra di hadapan Abu Bakar ra. Abu Bakar ra pun terkejut, mana bisa seorang shahabat yang menjadi sekretaris Rasulullah ﷺ berstatus munafiq. Hanzhalah ra menyatakan itu karena hatinya selalu merasakan yang beda antara ketika berada dekat dengan Nabi ﷺ dan ketika pulang ke rumahnya. Ketika berada di majelis Nabi ﷺ teringat akhirat, sementara ketika di rumah terbuai oleh dunia.

Imam Muslim meriwayatkan hadits Hanzhalah ra yang memvonis dirinya munafiq tersebut dalam bab:

باب فَضْلِ دَوَامِ الذِّكْرِ وَالْفِكْرِ فِى أُمُورِ الآخِرَةِ وَالْمُرَاقَبَةِ وَجَوَازِ تَرْكِ ذَلِكَ فِى بَعْضِ الأَوْقَاتِ وَالاِشْتِغَالِ بِالدُّنْيَا

Bab: Keutamaan mendawamkan (mempertahankan selalu) dzikir dan merenungkan urusan akhirat termasuk murqabah (merasa selalu diawasi Allah swt), tetapi boleh meninggalkannya sewaktu-waktu dan boleh juga sibuk oleh dunia.

Tidak banyak data yang diketahui seputar biografi Hanzhalah, selain yang disebutkan dalam haditsnya itu sendiri sebagai seorang sekretaris Rasulullah saw. Tentunya beliau bukan satu-satunya sekretaris Nabi saw, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul-Jauzi dalam kitab Talqih Fuhum Ahlil-Atsar, ada banyak sekretaris Nabi saw. Mereka di antaranya Abu Bakar, ‘Umar ibnul-Khaththab, ‘Utsman ibn ‘Affan, ‘Ali ibn Abi Thalib, Ubay ibn Ka’ab, Zaid ibn Tsabit, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Hanzhalah al-Usaidi, Khalid ibn Sa’id, Aban ibn Sa’id, dan al-‘Ala ibn al-Hadlrami. Dari semua sekretaris Rasul saw ini yang paling sering ditugasi oleh Rasul saw adalah Mu’awiyah dan Zaid (Tuhfatul-Ahwadzi).

Pernyataan Hanzhalah bahwa dirinya munafiq diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut:

عَنْ حَنْظَلَةَ الأُسَيِّدِىِّ قَالَ وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ – لَقِيَنِى أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا.

Dari Hanzhalah al-Usaidi ra—salah seorang sekretaris Rasulullah saw—ia berkata: Abu Bakar menemuiku lalu ia berkata: “Bagaimana kabarmu wahai Hanzhalah.” Aku menjawab: “Hanzhalah munafiq.” Abu Bakar berkata: “Subhanal-‘Llah, apa yang kamu katakan!?” Aku menjelaskan: “Kita ketika bersama Rasulullah saw dan beliau mengingatkan neraka dan surga seakan-akan kita melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tetapi ketika kita keluar dari Rasulullah saw kita bersenang-senang dengan keluarga, anak-anak, dan kesibukan dunia, sehingga kita melupakannya lama sekali.” Abu Bakar berkata: “Demi Allah, sungguh kita memang merasakan hal tersebut.”

فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَمَا ذَاكَ. قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالأَوْلاَدَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Hanzhalah berkata: Aku dan Abu Bakar lantas pergi dan masuk menemui Rasulullah saw. Aku berkata: “Hanzhalah munafiq wahai Rasulullah.” Rasul saw bertanya: “Mengapa?” Aku menjawab: “Ketika kami bersama anda, lalu anda mengingatkan kami dengan surga dan neraka, seakan-akan kami merasa betul-betul melihatnya. Tetapi ketika kami pulang, kami bersenang-senang dengan keluarga, anak-anak, dan kesibukan dunia, kami banyak lupanya.” Rasulullah saw menjawab: “Demi Allah, seandainya kalian tetap dalam keadaan seperti ketika bersamaku dan dalam keadaan dzikir, pasti malaikat akan bersalaman dengan kalian di tempat diam dan berjalan kalian. Tetapi wahai Hanzhalah, sekali-kali, sekali-kali, dan sekali-kali (tidak apa-apa).” (Shahih Muslim kitab at-taubah bab fadlli dawamidz-dzikr wal-fikr fi umuril-akhirah no. 7142)

Dalam sanad lain Hanzhalah menyatakan:

ثُمَّ جِئْتُ إِلَى الْبَيْتِ فَضَاحَكْتُ الصِّبْيَانَ وَلاَعَبْتُ الْمَرْأَةَ

Kemudian aku pulang ke rumah, lalu aku tertawa bersama anak-anak dan bersenang-senang dengan istri (Shahih Muslim no. 7143).

Hadits di atas menunjukkan bahwa kekhawatiran Hanzhalah terlalu berlebihan. Apa yang dirasakan oleh Hanzhalah dan Abu Bakar, Nabi saw menegaskan, tidak termasuk kemunafiqan. Meski demikian, Nabi saw tetap menganjurkan agar perasaan dzikir itu tidak pernah hilang sama sekali agar malaikat menyalami dalam setiap aktivitas. Para ulama umumnya menjelaskan bahwa yang dimaksud malaikat menyalami itu dalam makna yang sebenarnya. Hanya tentunya karena makhluk ghaib tidak terasa oleh manusia secara lahir. Dalam hadits lain tentang keutamaan majelis dzikir disebutkan bahwa malaikat yang turun dan mengerubungi manusia itu maknanya turunnya rahmat dan sakinah (ketenteraman) kepada manusia (Shahih Muslim bab fadllil-ijtima’ ‘ala tilawatil-qur`an no. 7028). Maka malaikat yang menyalami seseorang yang dawam dzikir pun artinya menganugerahkan rahmat dan sakinah kepadanya, sebagaimana sudah ditegaskan Allah swt dalam ayat-ayat al-Qur`an bahwa orang yang senantiasa dzikir hatinya akan tenteram (QS. ar-Ra’d [13] : 28).

Kecemasan Hanzhalah di atas sangat beralasan karena munafiq sebagaimana dijelaskan dalam berbagai dalil adalah orang yang berbeda antara lahir dan batinnya. Batinnya merasakan takut neraka ketika bersama Nabi saw saja, tetapi ketika ia pulang tidak merasakan demikian, malah bersenang-senang dengan keluarga, ini semacam kemunafiqan, maka dari itu ia khawatir. Meski Nabi saw kemudian menepis kecemasan Hanzhalah tersebut dan menyatakan tidak apa-apa jika untuk sekali-kali menikmati dunia, asal selalu sigap kembali untuk berdzikir.

Hanzhalah juga pantas cemas dengan kemunafiqan yang ada dalam dirinya karena dalam berbagai ayat al-Qur`an dijelaskan orang-orang munafiq itu orang-orang yang total mengurus keluarganya dengan melupakan dzikrullah dan termasuk jihad fi sabilillah (QS. at-Taubah [9] : 42, 55, 81, 85; al-Fath [48] : 11; al-Mujadilah [58] : 17). Maka dari itu Allah swt mengingatkan khusus kepada orang-orang beriman agar tidak berakhlaq munafiq:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ  ٩

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi (QS. al-Munafiqun [63] : 9).

Kecaman Hanzhalah kepada dirinya tersebut pada hakikatnya merupakan teguran keras untuk siapa saja yang masih memprioritaskan kesibukan dunia sehingga melalaikan dzikrul-‘Llah. Mereka pada umumnya orang-orang yang tidak bisa menyempatkan shalat malam karena terlalu capek dengan kesibukan dunia. Anehnya jika itu untuk kesenangan dunia seperti tamasya atau nonton sepakbola bangun malam tersebut sempat untuk dilakukan (QS. al-Insan [76] : 26-27). Mereka juga adalah orang-orang yang saking sibuknya dengan dunia tidak ada waktu untuk belajar dan mengamalkan membaca al-Qur`an dengan baik dan benar (QS. al-Qiyamah [75] : 20-21). Saking sibuknya dengan dunia mereka selalu terlambat shalat dan baru bisa menyempatkan shadaqah kalau terpaksa (QS. an-Nisa` [4] : 142; at-Taubah [9] : 54).

Hanzhalah sendiri sudah dipastikan bebas dari kemunafiqan, dan Nabi saw sendiri yang memastikan hal tersebut dalam hadits di atas. Bahkan kekhawatiran Hanzhalah itu menunjukkan keimanannya yang sangat tinggi, sebab orang-orang beriman adalah orang-orang yang selalu diliputi kecemasan karena takut amal-amalnya tidak diterima. Imam al-Bukhari menulis dalam kitab Shahihnya pada kitab al-iman:

بَاب خَوْفِ الْمُؤْمِنِ مِنْ أَنْ يَحْبَطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ التَّيْمِيُّ مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا وَقَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَيُذْكَرُعَنْ الْحَسَنِ مَا خَافَهُ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا أَمِنَهُ إِلَّا مُنَافِقٌ

Bab: Ketakutan seorang mukmin amalnya hancur tanpa ia sadari. Ibrahim at-Taimi berkata: “Tidaklah aku bandingkan perkataanku dengan amalku melainkan karena aku takut menjadi seorang pendusta.” Ibn Abi Mulaikah berkata: “Aku bertemu dengan 30 shahabat Nabi saw semuanya merasa takut ada kemunafiqan dalam dirinya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa keimanannya sudah selevel iman Jibril dan Mikail.” Diriwayatkan dari al-Hasan ia berkata: “Tidak ada yang merasa cemas dengannya kecuali seorang mu`min. Dan tidak merasa aman darinya kecuali orang munafiq.”