Home > Konsultasi Islam > Ibadah > Hadits Shalat Dua-dua Raka’at Shahih

Hadits Shalat Dua-dua Raka’at Shahih

Ustadz, saya menyimak ceramah salah seorang Ustadz di salah satu media menyatakan bahwa hadits shalat malam dan siang dua-dua raka’at itu dla’if. Apakah memang benar demikian?

Hadits yang saudara tanyakan adalah:

صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

Shalat (sunat) malam dan siang itu dua raka’at-dua raka’at [salam pada setiap dua raka’at].

Hadits ini dituliskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Bulughul-Maram no. 391. Al-Hafizh menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh lima imam, yakni Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, dan Ibn Majah, dan dinilai shahih oleh Ibn Hibban. Akan tetapi al-Hafizh juga mengutip pernyataan Imam an-Nasa`i: hadza khata`; ini keliru.

Dalam as-Sunanul-Kubra, Imam an-Nasa`i menjelaskan: “Ini adalah sanad yang bagus. Akan tetapi para periwayat dari Ibn ‘Umar berbeda dengan ‘Ali al-Azdi (yang meriwayatkan hadits di atas—pen), yakni Salim, Nafi’, dan Thawus (yang meriwayatkan hanya “shalat malam dua-dua raka’at” tanpa ada kata “siang”).

Dalam menyikapi data rawi seperti di atas, ‘ulama hadits terbelah pada dua madzhab:

Pertama, kelompok yang menilai riwayat ‘Ali al-Azdi syadz; lemah, karena berbeda dan bertentangan dengan riwayat lain yang lebih kuat dan lebih banyak, yakni riwayat Salim, Nafi’, dan Thawus yang sama-sama menerima hadits di atas dari Ibn ‘Umar tanpa ada kata “siang”. Jadi yang shahih menurut kelompok ini hanya yang “shalat malam dua-dua raka’at” saja. Hadits yang menyebut “shalat malam” saja ini muttafaq ‘alaih; disepakati shahihnya berdasarkan standar shahih Imam al-Bukhari dan Muslim. Yang menempuh metode kelompok ini dan menilai hadits di atas syadz di antaranya Imam Yahya ibn Ma’in.

Kedua, kelompok yang menilai riwayat ‘Ali al-Azdi ini tetap shahih meski memang faktanya berbeda dengan sanad lain yang meriwayatkan sama dari Ibn ‘Umar dan hanya menyebutkan “shalat malam” saja. Sebabnya karena ‘Ali al-Azdi ini seorang rawi yang shaduq (jujur) dan dijadikan hujjah oleh Imam Muslim. Model sanad seperti ini masuk kategori ziyadah minats-tsiqah; ada tambahan data dari rawi lain yang tsiqah (terpercaya). Jadi yang hanya menyebutkan “shalat malam” saja statusnya shahih, dan yang menyebutkan “shalat malam dan siang” juga shahih sekaligus menjadi informasi tambahan atas riwayat lain. Jadi model seperti ini “tidak bertentangan” melainkan “berbeda dan ada tambahan informasi”.

Ulama yang menempuh metode kedua dan menilai hadits di atas shahih adalah Imam Ahmad dan al-Bukhari sebagaimana diriwayatkan al-Baihaqi dari Muhammad ibn Sulaiman ibn Faris. Imam al-Baihaqi juga ikut menshahihkannya, demikian juga al-Khaththabi, al-Hafizh Ibn Hajar dalam at-Talkhishul-Habir, as-Syaukani dalam Nailul-Authar, as-Shan’ani dalam Subulus-Salam, dan al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah.

Karena ada dua metode penilaian maka konsekuensinya juga melahirkan dua kesimpulan fiqih sebagaimana disebutkan Imam at-Tirmidzi berikut ini:

وَقَدْ اخْتَلَفَ أَهْلُ العِلْمِ فِي ذَلِكَ، فَرَأَى بَعْضُهُمْ: أَنَّ صَلَاةَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى، وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ وقَالَ بَعْضُهُمْ: صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، وَرَأَوْا صَلَاةَ التَّطَوُّعِ بِالنَّهَارِ أَرْبَعًا، مِثْلَ الأَرْبَعِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَغَيْرِهَا مِنْ صَلَاةِ التَّطَوُّعِ، وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، وَابْنِ المُبَارَكِ، وَإِسْحَاقَ

Para ulama berbeda pendapat dalam hal itu. Sebagian mereka menilai bahwa shalat malam dan siang adalah dua-dua raka’at. Ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i dan Ahmad. Sebagian lainnya berpendapat: Shalat malam saja yang dua-dua raka’at. Mereka menilai shalat sunat siang empat raka’at seperti empat raka’at qabla zhuhur dan shalat sunat lainnya. Ini adalah pendapat Sufyan ats-Tsauri, Ibnul-Mubarak, dan Ishaq ibn Rahawaih (Sunan at-Tirmidzi bab anna shalatal-lail wan-nahar matsna matsna no. 597).

Hemat kami yang lebih kuat adalah yang menilai hadits di atas shahih karena ada ziyadah minats-tsiqah. Itu juga yang hari ini diamalkan oleh kaum muslimin dalam shalat intizhar sebelum khatib jum’at naik mimbar, yakni dilaksanakan dua-dua raka’at. Meski demikian kami juga harus menghargai pendapat lain yang mengikuti kelompok pertama. Atau yang lebih baik adalah yang ditempuh oleh Imam an-Nawawi dimana beliau menggabungkan dua pendapat tersebut dengan menyatakan kedua-duanya boleh diamalkan (Syarah Shahih Muslim bab shalatil-lail matsna-matsna). Wal-‘Llahu a’lam.