Home > Akhlaq > Fatwa Zakat Abu Dzar Yang Meresahkan

Fatwa Zakat Abu Dzar Yang Meresahkan

Fatwa Zakat Abu Dzar Yang Meresahkan

Shahabat Abu Dzar berfatwa bahwa setiap orang tidak boleh menyimpan hartanya. Setiap orang harus menginfaqkan semua harta yang di luar kebutuhannya dalam masa maksimal tiga hari. Fatwanya ini jelas meresahkan orang-orang berharta yang umumnya mempunyai tabungan harta. Para ulama di zamannya dan bahkan Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan menegurnya atas fatwanya yang bertentangan dengan jumhur (mayoritas) ulama tersebut. Karena kukuh dengan pendapatnya, Khalifah ‘Utsman pun menganjurkannya untuk tinggal di Rabadzah, sebuah pedusunan yang tidak jauh dari Madinah.

Abu Dzar, nama aslinya Jundub ibn Junadah, dari Bani Ghifar, salah satu suku Quraisy, sehingga sering dipanggil Abu Dzar al-Ghifari. Ia disebutkan sebagai shahabat yang kelima masuk Islam di Makkah. Tetapi kemudian ia diperintahkan oleh Nabi saw untuk tinggal di tengah-tengah kaumnya, bukan di Makkah bersama bangsa Quraisy. Setelah Nabi saw hijrah ke Madinah, maka Abu Dzar pun ikut hijrah ke Madinah. Ia diangkat sebagai mufti pada zaman Abu Bakar sampai ‘Utsman, yakni sampai ia mengeluarkan fatwa yang meresahkan tentang zakat. Ia dikenal sebagai tokoh dalam hal zuhud, kejujuran, ilmu, amal, dan selalu kukuh dengan pendapatnya yang berdasarkan ilmu. Di masa-masa akhir hidupnya di Rabadzah, ia hidup sebagai penggembala kambing. Ia selalu mendahulukan memberi kepada tetangga dan para tamunya. Ia juga selalu mengisi waktu luangnya dengan shalat. Ketika wafat, ia hanya ditemani istri dan hamba sahayanya. Ia berpesan agar jenazahnya disimpan di pinggir jalan raya. Ketika rombongan Ibn Mas’ud dari Irak lewat, hamba sahaya Abu Dzar memberitahukan kepadanya bahwa ini adalah jenazah Abu Dzar, mohon bantuannya. Ibn Mas’ud dan rombongannya kemudian menangis dan menguburkan jenazahnya.

Fatwa Abu Dzar yang meresahkan itu ditulis oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya yang bersumber dari al-Ahnaf ibn Qais:

جَلَسْتُ إِلَى مَلَإٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَجَاءَ رَجُلٌ خَشِنُ الشَّعَرِ وَالثِّيَابِ وَالْهَيْئَةِ حَتَّى قَامَ عَلَيْهِمْ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ بَشِّرْ الْكَانِزِينَ بِرَضْفٍ يُحْمَى عَلَيْهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ثُمَّ يُوضَعُ عَلَى حَلَمَةِ ثَدْيِ أَحَدِهِمْ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ نُغْضِ كَتِفِهِ وَيُوضَعُ عَلَى نُغْضِ كَتِفِهِ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ حَلَمَةِ ثَدْيِهِ يَتَزَلْزَلُ ثُمَّ وَلَّى فَجَلَسَ إِلَى سَارِيَةٍ وَتَبِعْتُهُ وَجَلَسْتُ إِلَيْهِ وَأَنَا لَا أَدْرِي مَنْ هُوَ فَقُلْتُ لَهُ لَا أُرَى الْقَوْمَ إِلَّا قَدْ كَرِهُوا الَّذِي قُلْتَ قَالَ إِنَّهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا

Ketika aku duduk bersama sekelompok orang Quraisy, tiba-tiba datang seseorang yang tidak halus rambutnya, bajunya, dan penampilannya (dalam sanad lain disebutkan ada yang berkata: “Ini adalah Abu Dzar”). Ia lantas berdiri di tengah-tengah mereka dan mengucapkan salam. Kemudian ia berkata: “Sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang menyimpan hartanya dengan batu yang dipanaskan di neraka Jahannam, kemudian diletakkan pada mata buah dadanya kemudian tembus ke tulang belakang punggungnya. Dan ditaruh juga batu panas itu di belakang punggungnya sampai tembus ke bagian dadanya, sambil bergejolak.” Ia kemudian pergi dan duduk di dekat tiang masjid. Aku pun mengikutinya dan duduk di dekatnya. Aku semula tidak tahu siapa orang itu. Aku bertanya kepadanya: “Aku lihat orang-orang tidak menyukai fatwa yang anda kemukakan?” Ia menjawab: “Karena sungguh mereka tidak mengerti.” (Shahih al-Bukhari bab ma uddiya zakatuhu fa laisa bi kanzin no. 1407)

Abu Dzar menjelaskan lebih lanjut:

قَالَ لِي خَلِيلِي قَالَ قُلْتُ مَنْ خَلِيلُكَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ … مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا أُنْفِقُهُ كُلَّهُ إِلَّا ثَلَاثَةَ دَنَانِيرَ وَإِنَّ هَؤُلَاءِ لَا يَعْقِلُونَ إِنَّمَا يَجْمَعُونَ الدُّنْيَا لَا وَاللَّهِ لَا أَسْأَلُهُمْ دُنْيَا وَلَا أَسْتَفْتِيهِمْ عَنْ دِينٍ حَتَّى أَلْقَى اللَّهَ

“Kekasihku telah mengajariku.” Aku (al-Ahnaf) bertanya: “Siapa kekasihmu?” Ia mejawab: “Nabi saw, beliau bersabda: …’Aku tidak senang memiliki emas sebesar gunung Uhud melainkan akan aku infaqkan semuanya kecuali tiga dinar saja.” Abu Dzar berkata: “Mereka orang-orang yang tidak mengerti. Mereka hanya menumpuk-numpuk dunia. Tidak, demi Allah, aku tidak akan meminta dunia kepada mereka, dan aku tidak akan meminta fatwa kepada mereka dalam hal agama sampai aku bertemu Allah.” (Shahih al-Bukhari bab ma uddiya zakatuhu fa laisa bi kanzin no. 1408).

Dalam sanad sebelumnya, Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Dzar sewaktu di Damaskus berbeda pendapat dengan Gubernur Mu’awiyah yang diangkat oleh Khalifah ‘Utsman tentang ayat berikut:

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡأَحۡبَارِ وَٱلرُّهۡبَانِ لَيَأۡكُلُونَ أَمۡوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۗ وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ  ٣٤ يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ  ٣٥

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”  (QS. at-Taubah [9] : 34-35).

Abu Dzar memahami ayat di atas ditujukan kepada setiap orang yang menyimpan harta dan tidak menginfaqkannya di jalan Allah. Pemahaman ini dirujukkan juga pada amalan Rasul saw sendiri sebagaimana disinggungnya di atas. Sementara Mu’awiyah menyatakan bahwa ayat di atas ditujukan secara khusus kepada orang-orang Yahudi dan Kristen, bukan untuk orang Islam. Mu’awiyah yang melaporkan fatwa meresahkan Abu Dzar tersebut kepada Khalifah ‘Utsman kemudian ditindaklanjuti dengan pemanggilan Abu Dzar oleh Khalifah ‘Utsman. Ia ditegur oleh Khalifah bahwa hadits-hadits Nabi saw banyak mengajarkan kewajiban zakat itu berlaku nishab. Selama harta yang dimiliki tidak sampai nishab, maka tidak haram disimpan. Kalaupun sudah jatuh nishab, bukan berarti wajib dikeluarkan semuanya, cukup sesuai persentase yang sudah ditentukan syari’at. Karena Abu Dzar bersikukuh dengan pendapatnya, Khalifah ‘Utsman pun menganjurkannya untuk tinggal di Rabadzah (Shahih al-Bukhari bab ma uddiya zakatuhu fa laisa bi kanzin no. 1406).

Apa yang difatwakan Abu Dzar pada hakikatnya adalah kritikan keras untuk orang-orang kaya yang melupakan orang-orang miskin. Ia keliru di satu sisi, tetapi benar di sisi lainnya. Ia bersikukuh dengan fatwa haramnya setiap orang kaya menyimpan hartanya, karena Nabi saw sendiri mencontohkan dan mengajarkan bahwa dirinya tidak senang memiliki harta banyak melainkan beliau akan bagikan semuanya kepada faqir miskin maksimal dalam masa tiga hari, kecuali yang digunakan untuk membayar utang:

مَا يَسُرُّنِي أَنَّ عِنْدِي مِثْلَ أُحُدٍ هَذَا ذَهَبًا تَمْضِي عَلَيَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِي مِنْهُ دِينَارٌ إِلَّا شَيْئًا أَرْصُدُهُ لِدَيْنٍ إِلَّا أَنْ أَقُولَ بِهِ فِي عِبَادِ اللَّهِ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَمِنْ خَلْفِهِ ثُمَّ مَشَى فَقَالَ إِنَّ الْأَكْثَرِينَ هُمْ الْأَقَلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ قَالَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَمِنْ خَلْفِهِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

“Aku tidak bahagia seandainya aku punya emas banyak sebesar gunung Uhud ini lalu masih tersimpan di rumahku sampai tiga hari meski itu tinggal hanya satu keping dinar, kecuali yang aku sisakan untuk membayar utang, melainkan aku akan bagikan kepada hamba-hamba Allah seperti ini, ini, dan ini—sambil berisyarat ke arah kanan, kiri dan belakang.” Kemudian beliau berjalan lagi dan bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling banyak hartanya (di dunia) adalah orang yang palling sedikit hartanya pada hari kiamat, kecuali mereka yang membagikannya seperti ini, ini, dan ini— sambil berisyarat ke arah kanan, kiri dan belakang. Tetapi sungguh sedikit mereka yang seperti itu.” (Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab qaulin-Nabi saw ma uhibbu anna li mitsla Uhud dzahaban no. 6444).

Kekeliruan Abu Dzar hanya dalam menyatakan bahwa menyimpan harta itu haram. Padahal yang wajib itu hanya sebatas zakat saja. Jika zakat sudah dibayarkan maka tidak haram menyimpan harta sisanya. Mengeluarkan harta yang selebihnya dari zakat itu hanya sebatas sunnah. Jika Abu Dzar sebatas menyatakan bahwa menumpuk harta tidak sunnah mungkin lebih tepat. Meski demikian, ada sisi benar fatwa Abu Dzar, yakni dalam hal kewajiban untuk selalu memperhatikan faqir miskin, anak yatim, dan orang lain yang membutuhkan, bukan malah menggunakan harta hanya untuk kemewahan sebagaimana halnya orang-orang mubadzdzir yang merupakan kawan-kawan setan (QS. al-Isra` [17] : 26-27). Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.