Home > Uncategorized > Fakta Ilmiah Fiqh Masbuq Mendapatkan Ruku’ Imam

Fakta Ilmiah Fiqh Masbuq Mendapatkan Ruku’ Imam

Masbuq Mendapatkan Ruku’ Imam Dihitung Raka’at?

Jawaban istifta penulis dalam bulletin at-Taubah edisi 2/Th. 6/2 Maret 2018 diprotes oleh beberapa santri di sebuah situs ormas Islam. Penulis dikritik karena tidak menerapkan “kejujuran ilmiah”. Padahal tentu niatan ke arah itu tidak ada sama sekali. Penulis dalam tulisan itu mengutip penjelasan al-Hafizh Ibn Hajar terkait hadits-hadits yang dijadikan pokok bahasannya dari kitabnya Fathul-Bari bab lâ yas’â ilas-shalât dan idzâ raka’a dûnas-shaff, juga Syaikh al-Abani dalam Irwa`ul-Ghalil no. 496, dan Imam an-Nawawi dalam Syarah an-Nawawi Shahih Muslim 1 : 441. Agar tidak menjadi tuhmah berikut penulis sajikan fakta ilmiah yang penulis ketahui seputar fiqh masbuq mendapatkan ruku imam.

Dalam mengawali jawaban istifta, penulis sudah menulis:

Persoalan ini merupakan persoalan ikthilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama fiqih yang mu’tabar (diakui keabsahan kedua-duanya). Tidak ada satu pun yang sesat atau bid’ah, hanya persoalan mana yang rajih (kuat) dan marjuh (kurang kuat) berdasarkan pilihan metodologi yang dianut.

Dalam Fathul-Bari, al-Hafizh mengutip pendapat Nashirudin Ibnul-Munir terkait fakta ilmiah ini:

فتح الباري باب إذا ركع دون الصف

وَقَالَ نَاصِرُ الدِّينِ اِبْنُ الْمُنِيرِ : هَذِهِ التَّرْجَمَةُ مِمَّا نُوزِعَ فِيهَا الْبُخَارِيُّ حَيْثُ لَمْ يَأْتِ : بِجَوَابِ ” إِذَا ” لِإِشْكَالِ الْحَدِيثِ وَاخْتِلَافِ الْعُلَمَاءِ فِي الْمُرَادِ بِقَوْلِهِ ” وَلَا تَعُدْ

Fathul-Bari bab idza raka’a dunas-shaff (apabila ruku’ di belakang shaf)

Nashiruddin Ibnul-Munir berkata: “Tarjamah ini di antara yang ditentang terhadap al-Bukhari karena beliau tidak menjelaskan jawaban dari “apabila (ruku’ di belakang shaf)—jadinya hukumnya bagaimana?—pen.” karena isykal (ketidakjelasan) hadits tersebut (hadits Abu Bakrah—pen) dan perbedaan pendapat ulama dalam hal maksud sabda beliau saw “jangalah kamu mengulanginya”.

Dalam bab lâ yas’â ilas-shalât, al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan:

فتح الباري باب لا يسعى إلى الصلاة وليأت بالسكينة والوقار

حديث: إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Fathul-Bari bab Tidak boleh tergesa-gesa menuju shalat, tetapi hendaklah datang dengan tenang dan khidmat.

Haditsnya: Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah menuju shalat dan kalian harus tenang dan khidmat. Jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian sampai, kerjakanlah. Apa yang tertinggal, sempurnakanlah

قَوْله : (وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا)

وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى أَنَّ مَنْ أَدْرَكَ الْإِمَام رَاكِعًا لَمْ تُحْسَبْ لَهُ تِلْكَ الرَّكْعَة لِلْأَمْرِ بِإِتْمَامِ مَا فَاتَهُ لِأَنَّهُ فَاتَهُ الْوُقُوف وَالْقِرَاءَة فِيهِ، وَهُوَ قَوْل أَبِي هُرَيْرَة وَجَمَاعَةٍ، بَلْ حَكَاهُ الْبُخَارِيّ فِي ” الْقِرَاءَة خَلْفَ الْإِمَام ” عَنْ كُلّ مَنْ ذَهَبَ إِلَى وُجُوب الْقِرَاءَة خَلْفَ الْإِمَام، وَاخْتَارَهُ اِبْن خُزَيْمَةَ وَالضُّبَعِيُّ وَغَيْرُهُمَا مِنْ مُحَدِّثِي الشَّافِعِيَّة، وَقَوَّاهُ الشَّيْخ تَقِيُّ الدِّين السُّبْكِيُّ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ. وَحُجَّةُ الْجُمْهُور حَدِيث أَبِي بَكْرَةَ حَيْثُ رَكَعَ دُونَ الصَّفِّ فَقَالَ لَهُ النَّبِيّ ﷺ زَادَك اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ وَلَمْ يَأْمُرْهُ بِإِعَادَةِ تِلْكَ الرَّكْعَة، وَسَيَأْتِي فِي أَثْنَاءِ صِفَةِ الصَّلَاة إِنْ شَاءَ اللَّه تَعَالَى

Perihal sabda beliau: (Apa yang tertinggal, sempurnakanlah)

Ini dijadikan dalil bahwa siapa yang mendapatkan imam dalam keadaan ruku’, raka’at tersebut tidak dihitung, karena ada perintah untuk menyempurnakan yang terlewat, karena juga ia terlewat berdiri dan membaca (al-Fatihah—pen) padanya. Ini adalah pendapat Abu Hurairah dan sekelompok lainnya. Bahkan Imam al-Bukhari menceritakan dalam (kitab/juz) al-Qira`ah khalfal-Imam dari setiap yang berpendapat wajibnya membaca (al-Fatihah—pen) di belakang imam. Ibn Khuzaimah, ad-Dluba’i, dan selain keduanya dari kalangan Muhaddits Syafi’iyyah memilih pendapat ini. Syaikh Taqiyyuddin as-Subki dari kalangan muta`akhkhirin juga menguatkannya. Wal-‘Llahu a’lam. Sementara hujjah jumhur adalah hadits Abu Bakrah dimana ia ruku’ di belakang shaf lalu Nabi saw bersabda kepadanya: “Semoga Allah menambah semangat kepadamu dan jangan kamu ulangi.” Beliau tidak menyuruhnya mengulangi raka’at tersebut. Akan datang pembahasannya pada pertengahan bab sifat shalat. In sya`a Allah ta’ala.

Hadits Abu Bakrah yang dijadikan hujjah oleh jumhur ulama adalah yang sudah ditulis dalam istifta bulletin at-Taubah, yaitu:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Dari Abu Bakrah, bahwasanya ia sampai ke (jama’ah shalat) Nabi saw ketika beliau sedang ruku’. Maka ia ruku’ sebelum masuk shaff (kemudian masuk shaff sambil ruku’). Ia lalu menceritakan hal tersebut kepada Nabi saw. Beliau lalu menjawab: “Semoga Allah menambahkan semangat kepadamu, jangan kamu ulangi lagi.” (Shahih al-Bukhari kitab al-adzan bab idza raka’a dunas-shaff no. 783.)

Perihal hadits Abu Bakrah tersebut dalam Fathul-Bari dijelaskan sebagai berikut:

(قَوْلُهُ : ( وَلَا تَعُدْ

أَيْ إِلَى مَا صَنَعْت مِنْ السَّعْيِ الشَّدِيدِ ثُمَّ الرُّكُوعِ دُونَ الصَّفِّ ثُمَّ مِنْ الْمَشْيِ إِلَى الصَّفِّ، وَقَدْ وَرَدَ مَا يَقْتَضِي ذَلِكَ صَرِيحًا فِي طُرُقِ حَدِيثِهِ كَمَا تَقَدَّمَ بَعْضُهَا، وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْمَذْكُورَةِ  فَقَالَ مَنْ السَّاعِي” وَفِي رِوَايَةِ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ الطَّبَرَانِيِّ “فَقَالَ أَيُّكُمْ صَاحِبُ هَذَا النَّفَسِ؟ قَالَ : خَشِيت أَنْ تَفُوتَنِي الرَّكْعَةُ مَعَك” وَلَهُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْهُ فِي آخِرِ الْحَدِيثِ “صَلِّ مَا أَدْرَكْت وَاقْضِ مَا سَبَقَك” وَفِي رِوَايَةِ حَمَّادٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ “أَيُّكُمْ الرَّاكِعُ دُونَ الصَّفِّ” وَقَدْ تَقَدَّمَ مِنْ رِوَايَتِهِ قَرِيبًا “أَيُّكُمْ دَخَلَ الصَّفَّ وَهُوَ رَاكِعٌ”

Perihal sabda beliau: (Jangan kamu ulangi)

Yaitu pada apa yang telah kamu perbuat berupa sangat tergesa-gesa, kemudian ruku’ di belakang shaf, kemudian berjalan menuju shaf. Sungguh termuat jelas yang memastikan makna demikian dalam sanad-sanad haditsnya sebagaimana telah disebutkan sebagiannya. Dalam riwayat ‘Abdul-‘Aziz yang telah disebutkan sebelumnya “Maka beliau bertanya: “Siapa yang tergesa-gesa?” Dalam riwayat Yunus ibn ‘Ubaid, dari al-Hasan, dari at-Thabrani “Maka beliau bertanya: “Siapa tadi di antara kalian yang bernafas terengah-engah ini?” Abu Bakrah menjawab: “Aku takut ketinggalan raka’at bersamamu.” Masih riwayatnya dari sanad lain darinya di akhir hadits tersebut: “Shalatlah yang kamu sampai, dan qadlalah yang terlewat bagimu”. Dalam riwayat Hammad pada Abu Dawud dan lainnya “Siapa di antara kalian yang ruku’ di belakang shaf?” Dan sungguh sudah disinggung baru saja dari riwayatnya di atas “Siapa di antara kalian yang masuk shaf sambil ruku’?”

وَاسْتَدَلَّ الشَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ بِحَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ عَلَى أَنَّ الْأَمْرَ فِي حَدِيثِ وَابِصَةَ لِلِاسْتِحْبَابِ لِكَوْنِ أَبِي بَكْرَةَ أَتَى بِجُزْءٍ مِنْ الصَّلَاةِ خَلْفَ الصَّفِّ وَلَمْ يُؤْمَرْ بِالْإِعَادَةِ، لَكِنْ نُهِيَ عَنْ الْعَوْدِ إِلَى ذَلِكَ، فَكَأَنَّهُ أُرْشِدَ إِلَى مَا هُوَ الْأَفْضَلُ

Imam as-Syafi’i dan yang lainnya berdalil dengan hadits Abu Bakrah tersebut bahwasanya perintah dalam hadits Wabishah (matannya: Nabi saw melihat seseorang shalat sendirian di belakang shaf, maka beliau memerintahnya mengulangi shalat—pen) sebagai perintah anjuran (tidak wajib—pen) karena keadaan Abu Bakrah melakukan sebagian rukun shalat di belakang shaf dan ia tidak diperintah untuk mengulangi (shalat/raka’at) lagi, tapi ia dilarang untuk mengulangi perbuatan tersebut lagi, maka seolah-olah ia ditunjukkan pada apa yang lebih baik.

وَاسْتَنْبَطَ بَعْضُهُمْ مِنْ قَوْلِهِ “لَا تَعُدْ” أَنَّ ذَلِكَ الْفِعْلَ كَانَ جَائِزًا ثُمَّ وَرَدَ النَّهْيُ عَنْهُ بِقَوْلِهِ لَا تَعُدْ، فَلَا يَجُوزُ الْعَوْدُ إِلَى مَا نَهَى عَنْهُ النَّبِيُّ ﷺ وَهَذِهِ طَرِيقَةُ الْبُخَارِيِّ فِي “جُزْءِ الْقِرَاءَةِ خَلْفَ الْإِمَامِ”

Sebagian ulama mengistinbath sabda beliau “Jangan kamu ulangi lagi” bahwasanya perbuatan tersebut asalnya boleh (sehingga Abu Bakrah ruku’ di belakang shaf—pen), kemudian ada larangan dari beliau dengan sabdanya “Jangan kamu ulangi lagi”, maka tidak boleh lagi mengulangi apa yang telah Nabi saw larang. Ini adalah metode al-Bukhari dalam kitab/juz al-Qira`ah khalfal-Imam.

Setahu penulis istilah thariqah terjemahnya adalah metode atau pendekatan. Oleh karenanya penulis menyimpulkan bahwa perbedaan fiqh masbuq mendapatkan ruku’ imam ini disebabkan perbedaan pilihan metodologi yang dianut. Dan hemat penulis, semuanya bermuara pada bagaimana metode memahami hadits Abu Bakrah di atas. Madzhab jumhur, di antaranya as-Syafi’i, adalah menilai bahwa larangan “Jangan kamu ulangi lagi” maksudnya sebaiknya (afdlal) jangan diulangi lagi karena faktanya Nabi saw tidak menyuruh Abu Bakrah untuk mengulangi raka’at tersebut. Sementara Imam al-Bukhari mutlak memahami “haram” untuk diulangi lagi. Sehingga otomatis kesimpulan fiqhnya juga berbeda.

Perihal penjelasan penulis:

Nabi saw membenarkan Abu Bakrah yang mengejar raka’at dengan mengejar ruku’, tetapi lain kali lebih baik datang lebih awal lagi. Penjelasan seperti ini merupakan penjelasan para shahabat yang memang lebih tahu tentang maksud hadits dari siapapun. Mereka adalah  Abu Bakar as-Shiddiq, ‘Abdullah ibn Mas’ud, ‘Abdullah ibn ‘Umar, Zaid ibn Tsabit, dan ‘Abdullah ibnuz-Zubair (Irwa`ul-Ghalil no. 496).

Tampak dibenarkan juga oleh pemrotes. Artinya pemrotes setuju bahwa hadits yang semula dla’if berikut bisa dijadikan hujjah dan menguatkan pendapat jumhur bahwa masbuq yang mendapatkan ruku’ tidak perlu mengulangi raka’at tersebut. Hadits yang semula dla’if tersebut adalah:

إرواء الغليل في تخريج أحاديث منار السبيل (2/ 260)

(حديث أبى هريرة مرفوعاً: “إذا جئتم إلى الصلاة, ونحن سجود فاسجدوا ولا تعدوها شيئاً, ومن أدرك ركعة فقد أدرك الصلاة”. رواه أبو داود وفى لفظ له: “من أدرك الركوع أدرك الركعة” (ص 119) .

Irwa`ul-Ghalil dalam hal Takhrij Hadits-hadits Manarus-Sabil (2 : 260)

496— Hadits Abu Hurairah marfu’: Apabila kalian datang pada shalat ketika kami sudah sujud, maka sujudlah, tetapi jangan menghitungnya sebagai sesuatu (raka’at). Tapi siapa yang mendapatkan ruku’, maka ia telah mendapatkan shalat (raka’at). Abu Dawud meriwayatkannya, dan dalam lafazh lain: Siapa yang mendapatkan ruku’ maka ia mendapatkan raka’at. (hlm. 119)

Atsar-atsar yang dituliskan Syaikh al-Albani dalam kitab tersebut adalah:

عن عبد العزيز بن رفيع عن رجل عن النبى ﷺ : “إذا جئتم والإمام راكع فاركعوا, وإن كان ساجداً فاسجدوا, ولا تعتدوا بالسجود إذا لم يكن معه الركوع

Dari ‘Abdul-‘Aziz ibn Rufai’, dari seseorang, dari Nabi saw: “Apabila kalian datang ketika imam ruku’ maka ruku’lah. Tetapi jika imam sujud, maka sujudlah. Janganlah kalian menghitung sujud jika tidak dengan ruku’nya.” (Tidak disebutkan “seseorang” dalam hadits ini menurut Syaikh al-Albani tidak masalah, mengingat ‘Abdul-‘Aziz ibn Rufai’ seorang tabi’in tsiqah yang biasa menerima dari shahabat. Jika ia seorang shahabat, maka haditsnya shahih. Jika ia seorang tabi’in, maka haditsnya mursal, tetapi tidak mengapa dijadikan sebagai syahid)

أولاً: ابن مسعود فقد قال: “من لم يدرك الإمام ركعاً لم يدرك تلك الركعة

Pertama: Ibn Mas’ud, sungguh ia berkata: “Siapa yang tidak mendapatkan imam sedang ruku’, berarti ia tidak mendapatkan raka’at itu.”

ثانياً: عبد الله بن عمر قال: “إذا جئت والإمام راكع, فوضعت يديك على ركبتيك قبل أن يرفع فقد أدركت

Kedua: ‘Abdullah ibn ‘Umar, ia berkata: “Jika kamu datang dan imam sedang ruku’ lalu kamu letakkan tanganmu di atas lututmu sebelum ia bangkit (i’tidal), maka sungguh kamu telah mendapatkan (raka’at).”

ثالثاً: زيد بن ثابت كان يقول: “من أدرك الركعة قبل أن يرفع الإمام رأسه فقد أدرك الركعة

Ketiga: Zaid ibn Tsabit, ia berkata: “Siapa yang mendapatkan ruku’ sebelum imam mengangkat kepalanya, maka sungguh ia telah mendapatkan raka’at.”

رابعاً: عبد الله بن الزبير, قال عثمان بن الأسود: “دخلت أنا وعمرو بن تميم المسجد, فركع الإمام فركعت أنا وهو ومشينا راكعين حتى دخلنا الصف, فلما قضينا الصلاة, قال لى عمرو: الذى صنعت آنفاً ممن سمعته؟ قلت: من مجاهد قال: قد رأيت ابن الزبير فعله”.

Keempat: ‘Abdullah ibn az-Zubair. ‘Utsman ibn al-Aswad berkata: Aku dan ‘Amr ibn Tamim masuk masjid, lalu imam ruku’, maka aku dan ia ruku’ lalu kami berjalan sambil ruku’ sampai masuk ke shaf. Ketika kami selesai shalat, ‘Amr bertanya kepadaku: “Yang tadi kamu lakukan, dari siapa kamu mendengar (dalil)-nya?” Aku jawab: “Dari Mujahid. Ia berkata: ‘Sungguh aku melihat Ibnuz-Zubair melakukannya.”

خامساً: أبو بكر الصديق. عن أبى بكر بن عبد الرحمن بن الحارث بن هشام أن أبا بكر الصديق وزيد بن ثابت دخلا المسجد والإمام راكع فركعا, ثم دبا وهما راكعان حتى لحقا بالصف.

Kelima: Abu Bakar as-Shiddiq. Dari Abu Bakar ibn ‘Abdirrahman ibn al-Harits ibn Hisyam, bahwasanya Abu Bakar as-Shiddiq dan Zaid ibn Tsabit masuk masjid ketika imam sedang ruku’, mereka berdua lalu ruku’, kemudian melangkah sambil ruku’, sampai masuk ke dalam shaf.

Perihal pendapat Imam an-Nawawi, memang benar bahwa itu dikemukakan olehnya ketika menjelaskan hadits tentang masbuqnya Rasulullah saw bersama al-Mughirah ibn Syu’bah, dimana yang menjadi imamnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dijelaskan dalam riwayat Muslim:

صحيح مسلم (1/ 158) باب المسح على الناصية والعمامة

… فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ النَّبِىُّ ﷺ وَقُمْتُ فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِى سَبَقَتْنَا.

Shahih Muslim (1/158) bab Mengusap bagian depan rambut dan sorban kepala.

… maka ketika ia (‘Abdurrahman ibn ‘Auf) salam, Nabi saw dan saya berdiri lalu kami melaksanakan raka’at yang tertinggal.

 

Imam an-Nawawi kemudian menjelaskan salah satu istinbath ahkamnya:

أَنَّ مَنْ سَبَقَهُ الْإِمَام بِبَعْضِ الصَّلَاة أَتَى بِمَا أَدْرَكَ، فَإِذَا سَلَّمَ الْإِمَام أَتَى بِمَا بَقِيَ عَلَيْهِ وَلَا يَسْقُط ذَلِكَ عَنْهُ بِخِلَافِ قِرَاءَة الْفَاتِحَة فَإِنَّهَا تَسْقُط عَنْ الْمَسْبُوق إِذَا أَدْرَكَ الْإِمَام رَاكِعًا

Sungguh siapa yang didahului oleh imam pada sebagian rukun shalat maka ia harus melakukan apa yang ia dapatkan. Ketika imam salam, ia melakukan yang tertinggal. Tidak ada yang gugur satu pun kecuali membaca al-Fatihah bagi yang masbuq mendapatkan imam sedang ruku’ (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim 1 : 441).

Dari data-data ilmiah di atas, maka penulis menyimpulkan:

Terlihat jelas mengapa pendapat raka’at dihitung dari ruku’ ini dianut oleh mayoritas ulama, sebab hadits-hadits yang ada tidak dipertentangkan, melainkan dikompromikan (thariqatul-jam’i). Wal-‘Llahu a’lam.

Penulis sengaja tidak mengutip sedikit pun fatwa Dewan Hisbah Persatuan Islam karena takut ada su`uzhan bahwa penulis hendak membantah fatwa Dewan Hisbah. Dari sejak awal penerbitan bulletin at-Taubah, penulis sering menekankan bahwa satu ijtihad tidak bisa dinyatakan batal oleh ijtihad lainnya. Apa yang penulis tulis murni karena pertanggungjawaban ilmiah menjelaskan fakta fiqh secara ilmiah, apa adanya. Jika ada perbedaan pendapat, penulis akan jelaskan kedua-duanya dengan data-data ilmiah yang penulis ketahui. Hemat penulis tidak ada satu patah kata pun dalam tulisan di istifta bulletin at-Taubah yang menyatakan bahwa pendapat yang menyatakan masbuq dihitung dari ketinggalan al-Fatihah adalah salah. Penulis bahkan menyebutnya bahwa itu pendapat Imam al-Bukhari.

Penulis sangat terobsesi dengan “persatuan Islam” dimana umat Islam bisa bersatu di tengah fakta keragaman fiqh dari berbagai madzhab. Silahkan pegang salah satu fiqh, tetapi jangan menilai bid’ah atau sesat pada ijtihad fiqh yang berbeda, jika faktanya ada rujukan ulamanya dan dalil-dalilnya. Inilah konsep ilmiah fiqh yang penulis fahami.

Mohon maaf atas segala kekurangannya. Wal-‘Llahu a’lam.