Home > Ibadah > Dzikir Pagi dan Sore

Dzikir Pagi dan Sore

Dzikir Pagi dan Sore

Dzikir yang disunnahkan Nabi saw tidak hanya ada sesudah shalat wajib (wiridan) dan di setiap aktivitas (seperti makan, tidur, berpakaian, dan sebagainya), tetapi juga di waktu pagi dan sore. Al-Qur`an dan hadits banyak memberikan tuntunan untuk mengamalkan dzikir ini.

Dalam al-Qur`an, Allah swt sering memerintah manusia untuk berdzikir kepada-Nya di waktu pagi (ghuduw, qabla thulû’is-syams, bukratan, ibkâr, isyrâq,) dan sore (âshâl, qabla ghurûbiha, ashîlan, ‘asyiy). Rujuk misalnya QS. al-A’raf [7] : 205, Thaha [20] : 130, an-Nur [24] : 36-37, al-Ahzab [33] : 42, Shad [38] : 18, Ghafir [40] : 55, al-Fath [48] : 9 dan al-Insan [76] : 25. Maksud dari ayat-ayat itu adalah perintah untuk beribadah sepanjang hari dari sejak pagi sampai sore, atau shalat wajib dan sunat di antara waktu-waktu itu, dan yang paling pokok adalah berdzikir khusus di waktu pagi dan sore. Disebut yang paling pokok karena memang Nabi saw memberi contoh dzikir-dzikir khusus untuk waktu pagi dan sore. Syaikh al-‘Utsaimin dalam hal ini menjelaskan, waktu pagi yang dimaksud oleh istilah al-Qur`an dan hadits adalah dari sejak shubuh sampai dluha (sekitar jam 10.00 pagi). Sementara sore adalah dari sejak shalat ‘ashar sampai ‘isya atau menjelang ‘isya. Itu berarti dzikir-dzikir pagi dan sore bisa diamalkan setiap ba’da shalat shubuh dan dluha untuk waktu pagi, dan ba’da shalat ‘ashar dan maghrib untuk waktu sore, tepatnya sesudah bacaan dzikir/wirid ba’da shalat wajib. Bisa juga menyengajakan diri di luar moment shalat untuk duduk berdzikir sebagaimana halnya dzikir ba’da shalat wajib (wiridan) asal tetap di waktu pagi dan sore.

Berikut ini di antara dzikir-dzikir yang Nabi saw sunnahkan untuk diamalkan di kedua waktu tersebut (bacaan dzikir yang digarisbawah):

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ  يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ

Dari ‘Utsman ibn ‘Affan ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang hamba membaca di waktu pagi setiap hari dan di waktu sore setiap malam: [Dengan nama Allah yang tidak akan berbahaya bersama nama-Nya sesuatu pun yang ada di bumi dan langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui] sebanyak 3 kali, lalu ada yang membahayakannya sesuatu.” (Sunan at-Tirmidzi no. bab ma ja`a fid-du’a idza ashbaha wa idza amsa no. 3388. At-Tirmidzi dan al-Albani: Hadits hasan shahih).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  أَنَّهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا لَقِيتُ مِنْ عَقْرَبٍ لَدَغَتْنِى الْبَارِحَةَ قَالَ أَمَا لَوْ قُلْتَ حِينَ أَمْسَيْتَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ تَضُرُّكَ

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Ada seorang lelaki datang kepada Nabi saw dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah sebelumnya disengat kalajengking seperti tadi (sampai tidak bisa tidur semalaman [riwayat Abu Dawud]).” Beliau menjawab: “Seandainya kamu membaca ketika di sore harinya [Aku berlindung pada kalimah-kalimah Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya] niscaya itu tidak akan membahayakanmu, (jika Allah menghendaki [riwayat Abu Dawud]).” (Shahih Muslim bab fit-ta’awwudz min su`il-qadla no. 7055; Sunan Abi Dawud bab kaifar-ruqa no. 3900)

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِى سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ. لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

Barang siapa, ketika pagi dan sore, membaca dzikir [Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya] sebanyak 100 kali, maka pada hari kiamat tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu (Shahih Muslim kitab adz-dzikr wad-du’a wat-taubah no. 7019).

عَنْ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِىَ فِى مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِىَ جَالِسَةٌ فَقَالَ: مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِى فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا؟ قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ النَّبِىُّ ﷺ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dari Juwairiyah—istri Nabi saw—bahwasanya Nabi saw keluar dari sisinya di pagi hari setelah shalat Shubuh, sedangkan ia diam di tempat shalatnya. Kemudian beliau kembali di waktu Dluha, dan Juwairiyah masih duduk berdzikir di tempat yang sama. Beliau bertanya: “Kamu dari tadi masih seperti ketika aku meninggalkanmu?” Juwairiyah menjawab: “Ya.” Nabi saw bersabda: “Sungguh aku tadi mengucapkan sesudahmu empat kalimat sebanyak 3 kali yang seandainya ditimbang dengan apa yang kamu baca dari sejak shubuh tadi (sampai dluha ini) pasti akan seimbang: [Mahasuci Allah dan terpuji. Sebanyak makhluk-Nya. Sekeridlaan diri-Nya. Seluas ‘arsy-Nya. Sebanyak kalimah-kalimah-Nya—dibaca sebanyak 3 kali—].” (Shahih Muslim bab at-tasbih awwalan-nahar no. 7088)

Keterangan: Hadits ini mengajarkan bahwa jika dzikir ingin dilebihkan dari 100 kali cukup disertakan saja empat kalimat di akhir setiap lafazh dzikir, yaitu: ‘adada khalqihi wa ridlâ nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midâda kalimâtihi. Dari semua riwayat shahih yang ditemukan, Nabi saw tidak pernah mengajarkan dzikir yang lebih dari 100 kali. Meski beliau tidak melarang, tetapi tidak menganjurkan. Yang beliau anjurkan adalah empat kalimat tersebut di atas.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ  قَالَ كَانَ نَبِىُّ اللهِ ﷺ إِذَا أَمْسَى قَالَ: أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِى النَّارِ وَعَذَابٍ فِى الْقَبْرِ. وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ذَلِكَ أَيْضًا: أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ (وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِى هَذَا النَّهَارِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِى هَذَا النَّهَارِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِى النَّارِ وَعَذَابٍ فِى الْقَبْرِ).

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud ra, ia berkata: Nabi saw di sore hari suka membaca: “[Kami berada di waktu sore dan di waktu sore ini semua kekuasaan milik Allah. Segala puji bagi Allah. Tidak ada tuhan selain Allah Yang Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya-lah semua kekuasaan dan hanya milik-Nya-lah semua pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu yang terbaik dari yang ada pada malam ini dan yang terbaik dari yang ada sesudah malam. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada pada malam ini dan kejahatan yang ada sesudah malam ini. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari malas dan jeleknya usia tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur].” Jika itu di waktu pagi Nabi saw membacanya juga (tetapi kalimat amsaina wa amsal-mulku lil-‘Llah diganti dengan): “Ashbahna… [Kami berada di waktu pagi dan di waktu pagi ini semua kekuasaan milik Allah. Segala puji bagi Allah. Tidak ada tuhan selain Allah Yang Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya-lah semua kekuasaan dan hanya milik-Nya-lah semua pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu yang terbaik dari yang ada pada siang ini dan yang terbaik dari yang ada sesudah siang. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang ada pada siang ini dan kejahatan yang ada sesudah siang ini. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari malas dan jeleknya usia tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur].” (Shahih Muslim bab at-ta’awwudz min syarri ma ‘amila no. 7083)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  عَنِ النَّبِىِّ ﷺ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِذَا أَصْبَحَ اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. وَإِذَا أَمْسَى قَالَ: اَللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ النُّشُورُ

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, bahwasanya beliau di waktu pagi membaca: “[Ya Allah, dengan sebab-Mu kami berada di waktu pagi dan dengan sebab-Mu kami berada di waktu sore. Dengan sebab-Mu juga kami hidup dan mati. Dan hanya kepada-Mu tempat kembali].” Jika di waktu sore beliau membaca: “[Ya Allah, dengan sebab-Mu kami berada di waktu pagi dan dengan sebab-Mu kami berada di waktu sore. Dengan sebab-Mu juga kami hidup dan mati. Dan hanya kepada-Mu tempat kembali].” (Sunan at-Tirmidzi bab ad-du’a idza ashbaha wa idza amsa no. 3391. Al-Albani: Hadits shahih)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ  قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مُرْنِى بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْتُ وَإِذَا أَمْسَيْتُ. قَالَ قُلْ: اَللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ رَبَّ كُلِّ شَىْءٍ وَمَلِيكَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِى وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ. قَالَ قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ وَإِذَا أَمْسَيْتَ وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Abu Bakar ra berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukilah aku bacaan-bacaan yang bisa aku baca di waktu pagi dan sore.” Nabi saw menjawab: “Katakanlah [Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan tampak, Rabb segala sesuatu dan Penguasanya. Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan sekutunya.” Sabda Nabi saw: “Bacalah itu di waktu pagi, sore, dan sebelum tidur.” (Sunan Abi Dawud bab ma yaqulu idza ashbaha no. 5069. Al-Albani: Hadits shahih)

عَنِ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَدَعُ هَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِى وَحِينَ يُصْبِحُ: اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِى وَدُنْيَاىَ وَأَهْلِى وَمَالِى اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى اَللَّهُمَّ احْفَظْنِى مِنْ بَيْنِ يَدَىَّ وَمِنْ خَلْفِى وَعَنْ يَمِينِى وَعَنْ شِمَالِى وَمِنْ فَوْقِى وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِى

Dari Ibn ‘Umar ra, ia berkata: “Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan bacaan-bacaan ini di waktu sore dan pagi: [Ya Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutuplah aurat-auratku dan tenteramkanlah kekhawatiran-kekhawatiranku. Ya Allah, jagalah aku dari depanku, belakangku, sebelah kananku, sebelah kiriku, dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari dijatuhkan dari bawahku.” (Sunan Abi Dawud bab ma yaqulu idza ashbaha no. 5076; Sunan Ibn Majah bab ma yad’u bihir-rajul idza ashbaha no. 3871. Al-Albani: Hadits shahih)

Semua dzikir di atas terlarang dibaca dengan jahar/suara keras dan terdengar orang lain. Cukup di lisan tanpa keluar suara atau di dalam hati (rujuk QS. al-A’raf [7] : 205). Wal-‘Llahu a’lam bis-shawab