Home > Akhlaq > Di Balik Perselisihan Abu Bakar dan ‘Umar

Di Balik Perselisihan Abu Bakar dan ‘Umar

Dua manusia termulia setelah Rasulullah saw; Abu Bakar dan ‘Umar ra, ternyata pernah terlibat perselisihan. Keduanya bahkan sempat memendam amarah kepada masing-masingnya, meskipun tidak sampai datang malam hari, keduanya kemudian saling meminta maaf. Hanya Nabi saw kemudian mengingatkan ‘Umar ra, bahwa siapapun tidak berhak untuk marah kepada Abu Bakar ra, sebab beliau adalah manusia termulia sesudah Nabi saw.

Tidak ditemukan penjelasan dalam hal apa Abu Bakar dan ‘Umar ra berselisih. Hanya yang jelas keduanya pernah benar-benar terlibat perselisihan. Shahabat Abud-Darda` ra menceritakannya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari sebagai berikut:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ  إِذْ أَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ آخِذًا بِطَرَفِ ثَوْبِهِ حَتَّى أَبْدَى عَنْ رُكْبَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَدْ غَامَرَ فَسَلَّمَ وَقَالَ إِنِّي كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ ابْنِ الْخَطَّابِ شَيْءٌ فَأَسْرَعْتُ إِلَيْهِ ثُمَّ نَدِمْتُ فَسَأَلْتُهُ أَنْ يَغْفِرَ لِي فَأَبَى عَلَيَّ فَأَقْبَلْتُ إِلَيْكَ فَقَالَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ نَدِمَ فَأَتَى مَنْزِلَ أَبِي بَكْرٍ فَسَأَلَ أَثَّمَ أَبُو بَكْرٍ فَقَالُوا لَا فَأَتَى إِلَى النَّبِيِّ ﷺ  فَسَلَّمَ فَجَعَلَ وَجْهُ النَّبِيِّ  يَتَمَعَّرُ حَتَّى أَشْفَقَ أَبُو بَكْرٍ فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ أَنَا كُنْتُ أَظْلَمَ مَرَّتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُوا لِي صَاحِبِي مَرَّتَيْنِ فَمَا أُوذِيَ بَعْدَهَا

Dari Abud-Darda` ra, ia berkata: Ketika aku duduk bersama Nabi saw tiba-tiba Abu Bakar datang sambil memegang ujung pakaiannya sehingga tersingkap lututnya. Nabi saw saat itu bersabda: “Sahabat kalian ini sungguh sedang ada masalah.” Abu Bakar lalu salam dan berkata: “Sungguh aku dan putra al-Khaththab sedang ada dalam satu masalah. Aku lalu bersegera marah kepadanya tetapi kemudian aku menyesal. Aku meminta maaf kepadanya tetapi ia enggan memaafkanku. Maka sekarang aku mengadu kepada anda.” Nabi saw kemudian bersabda: “Allah mengampunimu wahai Abu Bakar.” Beliau menyabdakannya sampai tiga kali. Kemudian ‘Umar juga merasa menyesal. Ia datang ke rumah Abu Bakar dan bertanya apakah Abu Bakar ada? Keluarganya menjawab tidak ada. Ia lalu datang kepada Nabi saw dan mengucapkan salam. Tetapi wajah Nabi saw memerah karena marah, sehingga Abu Bakar merasa takut dan ia pun lantas berlutut di hadapan Nabi saw sambil berkata: “Sungguh saya yang paling zhalim. Sungguh saya yang paling zhalim.” Nabi saw kemudian bersabda: “Sungguh Allah telah mengutusku kepada kalian tetapi kalian dahulu berkata ‘Kamu dusta’ sementara Abu Bakar berkata: ‘Ia benar’. Ia telah membagi raga dan hartanya denganku. Pantaskah kalian menelantarkan sahabatku. Pantaskah kalian menelantarkan sahabatku.” Maka beliau (Abu Bakar) tidak pernah lagi disakiti sesudah itu (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabi saw lau kuntu muttakhidzan khalilan no. 3656).

Dalam riwayat at-Thabrani dari Ibn ‘Umar ra, diceritakan bahwa setelah Nabi saw menegur ‘Umar ra atas sikapnya yang tidak menghiraukan permohonan maaf Abu Bakar ra, ‘Umar ra kemudian berkata:

وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَا مِنْ مَرَّةٍ يَسْأَلُنِي إِلَّا وَأَنَا أَسْتَغْفِرُ لَهُ، وَمَا مِنْ خَلْقِ اللهِ بَعْدَكَ أَحَدٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَأَنَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ، مَا مِنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ

“Demi Yang mengutusmu dengan haq sebagai Nabi, tidak pernah sekalipun ia memohon kepadaku kecuali aku akan memohonkan ampun baginya. Dan tidak ada satu makhluk Allah pun sesudah anda yang lebih aku cintai daripada dirinya.” Abu Bakar ra pun berkata sama: “Demi Yang mengutusmu dengan haq, tidak ada seorang pun sesudah anda yang lebih aku cintai daripada dirinya.” (al-Mu’jamul-Kabir at-Thabrani no. 13383).

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari mengaitkan akhlaq Abu Bakar dan ‘Umar ra di atas dengan firman Allah swt:

7.Al-A’rāf : 201

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa godaan dari setan, mereka langsung ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS. al-A’raf [7] : 201).

Al-Hafizh menjelaskan, hadits di atas menunjukkan bahwa manusia mulia seperti shahabat tidak ma’shum (terlindung dari godaan setan). Ada saja kesempatan bagi setan untuk menodai akhlaq mereka. Akan tetapi karena Abu Bakar dan ‘Umar manusia mulia, mereka berhasil melepaskan diri dari godaan setan tersebut dengan segera. Dan itulah salah satu bentuk kemuliaan akhlaq mereka. Bukannya tidak pernah terlepas dari godaan setan, tetapi ketika setan berhasil menggoda mereka segera saja mereka langsung ingat kepada Allah swt.

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa marah adalah tabiat manusiawi, hanya tentunya harus tetap bisa dikendalikan. Salah satunya dengan tidak menyebut nama orang yang membuatnya marah, melainkan dinisbatkan langsung kepada ayahnya, seperti perkataan Abu Bakar di atas dengan menyebut “putra al-Khaththab”. Di samping itu harus segera meminta dimaafkan dan segera menanggalkan amarahnya. Yang dibuat marah juga harus segera menghilangkan amarahnya dan memaafkan.

Hadits di atas juga menjadi dasar pijakan para ulama dalam menyepakati bahwa keutamaan Abu Bakar berada di atas shahabat lainnya. Penyebutan as-Shiddiq bagi Abu Bakar dijelaskan oleh Nabi saw dalam hadits di atas karena ia adalah orang pertama yang membenarkan kenabian Nabi Muhamamd saw. Selain itu Abu Bakar telah berbagi harta dan nyawanya dengan Nabi saw. Dalam riwayat lain dijelaskan:

إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا غَيْرَ رَبِّي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ

Sungguh di antara manusia yang paling besar jasanya kepadaku dalam hal persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku diperkenankan memiliki kekasih selain Rabbku pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi hanya diizinkan persaudaraan dan kecintaan Islam saja (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabi saw suddul-abwab illa bab Abi Bakar no. 3654).

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa khalil (kekasih) itu memastikan tidak ada yang lain yang lebih dicintainya selain ia. Maka jika Nabi saw menjadikan Abu Bakar sebagai khalil berarti Abu Bakar lebih dicintai oleh Nabi saw dibanding Allah swt, dan itu mustahil terjadi. Oleh sebab itu Nabi saw sebatas menjadikan Abu Bakar saudara dan yang dicintai dalam Islam, tidak sampai menjadi khalil. Hanya ini menunjukkan betapa besarnya cinta Nabi saw kepada Abu Bakar ra.

Dalam hadits Anas yang diriwayatkan Ibn ‘Asakir, Nabi saw menjelaskan lebih detail:

إِنَّ أَعْظَم النَّاس عَلَيْنَا مَنًّا أَبُو بَكْر زَوَّجَنِي اِبْنَته وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ. وَإِنَّ خَيْر الْمُسْلِمِينَ مَالًا أَبُو بَكْر أَعْتَقَ مِنْهُ بِلَالًا وَحَمَلَنِي إِلَى دَار الْهِجْرَة

Orang yang paling besar pemberiannya kepada kami adalah Abu Bakar. Ia telah menikahkanku dengan putrinya (‘Aisyah) dan ia telah membelaku dengan dirinya. Orang Islam yang paling baik hartanya juga Abu Bakar. Hartanya telah memerdekakan Bilal dan telah membawaku ke negeri hijrah (Madinah) (Fathul-Bari bab qaulin-Nabi saw suddul-abwab illa bab Abi Bakar).

Shahabat al-Bara` ibn ‘Azib ra telah menceritakan bagaimana pengorbanan Abu Bakar ra kepada Nabi saw dalam menyukseskan hijrahnya ke Madinah. Abu Bakar membeli kendaraan, lengkap dengan perbekalannya, untuk kendaraan hijrah Nabi saw, dari ‘Azib ayah al-Bara`. Ia kemudian mengawal Nabi saw dalam perjalanannya. Setelah melakukan perjalanan satu malam setengah hari, ia mempersilahkan Nabi saw beristirahat di sebuah gua, sementara Abu Bakar ra berjaga-jaga di luar dan tidak tidur. Abu Bakar menyediakan konsumsi makanan dan minuman untuk Nabi saw. Untuk hal ini ia menyuruh putra-putrinya untuk menyuplai makanan. Tanpa beristirahat cukup, Abu Bakar ra kemudian melanjutkan pengawalan terhadap Nabi saw. Ia betul-betul khawatir kepada Nabi saw daripada dirinya sendiri, apalagi ketika kaum kafir Quraisy menghampiri gua Tsur. Pembelaan yang total terhadap Nabi saw dari Abu Bakar ra tersebut sampai diabadikan dalam QS. at-Taubah [9] : 40 (Shahih al-Bukhari bab ‘alamatin-nubuwwah fil-Islam no. 3615; Shahih Muslim bab fi haditsil-hijrah no. 7706).