Kisah Nabi

Di Balik Isra Mi’raj

Di Balik Isra Mi’raj

Menegaskan Sakralitas Syahadat dan Shalat

Di balik Isra` Mi’raj terselip sakralitas syahadat dan shalat. Siapa saja yang mengingkarinya maka sudah mengingkari kebenaran sejati dan abadi. Meski seseorang dipandang oleh masyarakat sebagai tokoh panutan, orang bijak, dan orang berbudi tinggi, jika syahadat dan shalat diingkari, maka statusnya tidak lain hanyalah orang kafir dan nista, yang hanya layak menempati neraka.

Isra` Mi’raj Nabi Muhammad saw dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha, menegaskan hubungan kenabian Muhammad saw dengan Nabi-nabi sebelumnya yang sebagiannya diimani oleh Yahudi dan Kristen. Masjidil-Aqsha adalah kiblat para Nabi sebelum Muhammad saw dari sejak dibangun oleh Nabi Ibrahim as sampai zaman kenabian Isa as. Ini pada hakikatnya menegaskan keberlanjutan agama Allah swt yang tidak berhenti sampai Musa as (sebagaimana diyakini Yahudi) dan ‘Isa as (sebagaimana diyakini Kristen), melainkan berlanjut sampai Muhammad saw. Terlebih Masjidil-Haram juga sama-sama dibangun oleh Ibrahim as, dimana tandanya jelas sekali ada maqam (tempat berdiri) Ibrahim ketika membangun Ka’bah/Masjidil-Haram. Pertemuan Nabi saw di alam langit dengan para Nabi sebelumnya, yang berlanjut sampai mengimami para Nabi tersebut di Masjidil-Aqsha pada dini harinya ketika turun dari langit, juga menegaskan kenabian Muhammad saw, sekaligus kepemimpinan beliau di antara para Nabi lainnya, sehingga menjadi satu-satunya Nabi yang diberi izin memberi syafa’at. Dalam hal inilah Nabi saw dengan tegas menyatakan:

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Zat Yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya, tidak mendengarku seorang pun dari umat ini, baik itu Yahudi ataupun Nashrani, lalu ia mati dalam keadaan tidak mengimani risalah yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka (Shahih Muslim kitab al-iman bab wujubil-iman bi risalati nabiyyina Muhammadin saw ila jami’in-nas no. 403).

Maka dari itu, sungguh sangat rancu jika para pejabat negeri ini pada suatu saat mengagungkan Isra` Mi’raj, tapi di saat yang lain berani mengucapkan Selamat Natal atau mengikuti Natal Bersama. Sebab Isra` Mi’raj menegaskan kenabian Muhammad saw sesudah Nabi-nabi lainnya, sedangkan Selamat Natal atau Natal Bersama adalah ritual mengagungkan Nabi ‘Isa sebagai Tuhan dan Nabi terakhir yang dengan sendirinya mengingkari kenabian Muhammad saw. Semestinya, jika alasannya toleransi, tidak perlu dengan mengikuti ritual keagamaan Kristen atau mengucapkan “Selamat” kepada orang-orang kafir. Cukup dengan menegaskan pernyataan sebagaimana surat al-Kafirun: la a’budu ma ta’budun; aku tidak akan beribadah apa yang kamu ibadahi. Lakum dinukum wa liya din; untukmu agamamu, dan untukku agamaku.

 

Kita sebagai umat Islam harus yakin sebagaimana ditegaskan al-Qur`an, bahwa Yahudi Kristen sebenarnya mengetahui betul bahwa Muhammad saw adalah Nabi terakhir:

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2] : 146)

Al-Qurthubi berkata: Diriwayatkan bahwa ‘Umar pernah mengonfirmasi apa yang diinformasikan ayat tersebut kepada ‘Abdullah ibn Salam, seorang ulama Yahudi yang masuk Islam. ‘Abdullah ibn Salam menjawab, benar bahwa mereka mengenal Nabi Muhammad saw seperti anak mereka sendiri, sebab Allah swt telah menjelaskan sifat-sifatnya, sehingga mudah dikenali (Tafsir Ibn Katsir, QS. Al-Baqarah [2] : 146).

Di samping itu, syari’at shalat yang menjadi pesan utama Isra` Mi’raj untuk Nabi saw dari Allah swt juga menegaskan sakralitas shalat. Yakni bahwa shalat merupakan barometer keimanan seseorang. Orang yang betul-betul mengimani hari akhir misalnya, disebutkan oleh Allah swt pasti akan disiplin dalam shalatnya. Jika tidak disiplin, itu pertanda yang jelas bahwa ia mendustakan hari pembalasan.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan/agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (QS. al-Ma’un [107] : 1-5).

Maka dari itu, dalam ayat yang lain Allah swt menyebutkan orang-orang yang mengabaikan sakralitas shalat ini sebagai orang munafiq:

 إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا (١٤٢)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS. An-Nisa` [4] : 142)

Shahabat Ibn Mas’ud pernah ditanya tentang ayat-ayat di atas, apa maksudnya? Shahabat Ibn Mas’ud menjawab: “Orang yang lalai dalam hal waktunya.”Ketika dikonfirmasi bukankah yang dimaksud adalah meninggalkan shalat bukan lalai dari waktunya, Ibn Mas’ud menjawab: “Jika sudah meninggalkannya, berarti sudah kufur.” (Tafsir Ibn Katsir QS. Maryam [19] : 59). Pernyataan Ibn Mas’ud tersebut sesuai dengan sabda Nabi saw:

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Ikatan yang membedakan antara kita dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkannya, maka ia kafir. (Sunan at-Tirmidzi kitab al-iman bab ma ja`a fi tarkis-shalat no. 2830; Sunan an-Nasa`i kitab as-shalat bab al-hukmi fi tarikis-shalat no. 467; Sunan Ibn Majah kitab iqamah as-shalat was-sunnah bab ma ja`a fiman tarakas-shalat no. 1132).

Maka dari itu jangan abaikan sakralitas syahadat dan shalat. Berani-berani melabraknya maka neraka imbalannya. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.