Home > Kontemporer > Darurat Zina!

Darurat Zina!

Darurat Zina!

Video asusila yang melibatkan anak di bawah umur dan atas paksaan ibu kandungnya menandakan bahwa saat ini sudah darurat zina. Bukan hanya di negeri ini, tetapi di dunia secara umum. Ajang Golden Globe 2018 dijadikan kesempatan oleh para pesohor Hollywood untuk menyuarakan penghentian pelecehan seksual dengan cara berbusana hitam. Aksi #Me Too di Walk of Fame Hollywood dan jagat maya twitter sejak akhir 2017 silam juga diikuti oleh ribuan pengunjuk rasa dan jutaan pendukung. Masihkah masyarakat dunia enggan menyadari bahwa saat ini sudah darurat zina!?

Siapapun pasti akan melaknat ketika faktanya seorang ibu berani menyuruh anak lelakinya yang masih di bawah umur untuk beradegan asusila hanya demi mendapatkan bayaran Rp. 300.000,-. Akan tetapi semestinya bukan ibu itu saja yang pantas dilaknat, melainkan setiap ibu yang merelakan anaknya menjadi pelacur, baik dewasa apalagi di bawah umur. Baik pelacur perempuan atau pelacur lelaki, sebab pastinya melibatkan dua jenis manusia tersebut. Meski sudah mulai banyak juga yang terang-terangan penyuka sesama jenis; sesama lelaki atau sesama perempuan.

Bahkan jika pengertian “asusila” itu ditempatkan pada tempat yang semestinya, yakni yang terkait semua instrumen yang mengarah pada zina, berarti pantas dilaknat juga ibu-ibu yang merelakan dan mengajarkan anak-anak perempuannya untuk memperlihatkan kebiadaban auratnya. Termasuk ibu-ibu yang merelakan dan membiarkan anak lelakinya bergaul bebas dengan anak-anak perempuan yang notabene sumber utama perzinaan. Jika seorang ibu di Kiaracondong, Bandung, dalam kasus video asusila di atas dilaknat, mengapa ibu-ibu lainnya yang juga sama pantas dilaknat karena merelakan terjadinya tindakan asusila, tidak dilaknat?

Masuk dalam kategori pantas dilaknat juga ibu-ibu yang malah mencontohkan penampilan seronok, menjijikkan, dan mempertontonkan kebiadaban auratnya. Termasuk bapak-bapak yang senang melihat segala hal yang bersifat seronok dan biadab dalam hal ekspose aurat. Bukannya melarang dan memarahi istri atau anak perempuannya yang berpenampilan asusila, melainkan merelakan dan menganjurkan mereka untuk berpenampilan asusila. Bukannya juga ber-amar ma’ruf nahyi munkar ketika banyak kaum perempuan berbuat asusila secara akhlaq dan penampilan, malah merasa terhibur dan menjadikannya guyonan di sesama kaum lelaki. Semua perbuatan yang disebutkan ini termasuk asusila juga dan pantas dilaknat.

Mau sampai kapan darurat zina seperti ini tidak disadari telah ada dari sejak lama di tengah-tengah kita? Mau sampai Allah swt meratakan adzab di tengah-tengah kita? Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.

Entah ironi atau menggembirakan karena terbuktinya kebenaran/al-haqq, dunia Hollywood yang merupakan pusat industri hiburan di dunia juga sedang diramaikan dengan isu “pelecehan seksual”. Ajang Golden Globe 2018 dijadikan ajang untuk protes pelecehan seksual tersebut dengan cara mengenakan busana serba hitam. Berawal dari beberapa artis yang berani mengaku jujur pernah dilecehkan seksual oleh teman atau atasan lelakinya, kemudian bergelombanglah pengakuan dari kaum perempuan lainnya yang juga bukan artis yang mengaku pernah dilecehkan juga secara seksual. Gelombang pengakuan ini tidak hanya terjadi di belahan Amerika, melainkan dari seluruh belahan dunia. Hanstag #MeToo di twitter dibanjiri jutaan pengakuan dan pendukung dari seluruh dunia. Semestinya ini menjadi pertanda yang jelas bahwa darurat zina sudah lama terjadi di belahan dunia ini.

Akan tetapi dasar kepala para perempuan pesohor itu kepala udang dan otaknya pun otak udang, pelecehan seksual yang mereka alami itu sebatas dipahami akibat tindakan sewenang-wenang kaum lelaki yang menganggap kaum perempuan sebagai kelas rendah dan pantas dilecehkan. Kepala mereka terbelenggu dengan ideologi feminisme akibat lepas dari tuntunan wahyu. Tuntutannya malah perempuan berhak berpenampilan sesuka hatinya sebagaimana kaum pria tanpa harus mendapatkan pelecehan dari kaum pria. Bahkan mereka merayakan satu hari khusus untuk berpenampilan tanpa pakaian bagian atas di muka umum dan tidak boleh diganggu oleh lelaki sebagaimana lelaki juga tidak akan diganggu oleh perempuan ketika membuka tubuh bagian atas. Sungguh absurd!

Alur sesat pikir kaum wanita di Barat tersebut betul-betul mengkhawatirkan. Jadinya bukan malah melahirkan simpati dari orang-orang yang beradab, malah semakin menambah kutukan akibat kebiadaban dilawan dengan kebiadaban lagi. Kebiadaban pelecehan seksual dilawan dengan kebiadaban kebebasan kaum perempuan. Bukankah kebebasan wanita dalam berpenampilan juga teror bagi kaum lelaki dan juga perempuan, khususnya mereka yang beradab? Semestinya para pesohor itu berkaca diri, bukankah mereka sendiri yang mengkampanyekan pelecehan seksual lewat film dan musik yang mereka produksi sendiri? Jika akibat buruknya mereka rasakan sendiri, itulah yang dinamakan senjata makan tuan. Laknat Allah swt atas satu kebiadaban seksual pasti akan kena kepada mereka yang biadab itu sendiri.

Semestinya apa yang terjadi di Bandung dan dunia Barat, Hollywood khususnya, menjadi pengingat bahwa ada sisi universalitas dari manusia, yakni bahwa lelaki senang memangsa perempuan yang berpenampilan asusila. Lelaki dan perempuan yang sama-sama biadab tentunya. Ini berlaku universal di seluruh belahan dunia, bukan hanya di satu belahan negeri. Maka dari itu kaum lelaki harus berhenti meneror kaum perempuan dengan pelecehan seksualnya, demikian juga kaum perempuan harus berhenti meneror kaum lelaki dengan penampilan asusilanya. Kaum lelaki dan perempuan secara bersamaan juga harus berhenti melakukan teror menampilkan “keintiman” di muka umum; baik itu di banner, majalah, koran, televisi, internet, dan sebagainya. Sebab semua itu merupakan teror untuk terjadinya pelecehan seksual yang faktanya tidak dikehendaki oleh semua pihak. Jadi jangan hanya hilangkan asapnya, tetapi juga padamkan apinya.

Dalam hal ini al-Qur`an sudah mengingatkan dari sejak awal turunnya tentang bahaya darurat zina sekaligus cara memadamkan apinya:

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan asusila/biadab dan suatu jalan yang buruk (QS. al-Isra` [17] : 32).

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَۖ

Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan asusila/biadab, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi (QS. al-An’am [6] : 151).

Nabi saw kemudian menjelaskan dalam haditsnya:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Anak cucu Adam telah ditakdirkan mendapatkan bagian dari zina. Semuanya akan mengalaminya, mustahil tidak. Adapun mata zinanya adalah melihat. Telinga zinanya mendengar. Lisan zinanya berbicara. Tangan zinanya memegang. Kaki zinanya melangkah. Sementara hati hanya menginginkan dan berangan-angan, kemudian farji (kemaluan) mengiyakannya atau menolaknya (Shahih Muslim kitab al-qadr bab quddira ‘ala ibn Adam hazhzhahu minaz-zina no. 6925).

Dalam ayat-ayat di atas, Allah swt jelas menyebutkan bahwa zina itu satu fahisyah (perbuatan biadab/asusila) dan sa`a sabilan (jalan yang buruk). Maka dari itu selalu mendatangkan laknat dari semua orang. Solusinya “jangan mendekati”, baik “zina yang terang” atau “yang tersembunyi”. Contoh zina tersembunyi dijelaskan dalam hadit: zina mata, zina telinga, zina lisan, zina tangan, dan zina kaki.

Dalam hadits lain, Nabi saw melaknat kaum perempuan yang berpakaian tetapi telanjang. Mereka berpakaian, tetapi tetap memperlihatkan auratnya atau lekukan tubuhnya. Ini harus dicamkan guna mengakhiri darurat zina.

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَتُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua jenis penghuni neraka yang saya tidak pernah melihatnya. (Pertama) Kaum  yang memegang cambuk seperti ekor sapi dan memukulkannya kepada orang-orang. (Kedua) Wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Mereka melenggak-lenggokkan badannya lagi sombong, kepala mereka seperti punuk unta yang besar dan melenggak-lenggok. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya, padahal wangi surga tercium dari jarak sekian dan sekian [40 s.d 70 tahun] (Shahih Muslim kitab al-libas waz-zinah bab an-nisa`il-kasiyatil-‘ariyat no. 5704, kitab al-jannah wa shifati na’imiha bab an-nar yadkhuluhal-jabbarun no. 7373). Wal-‘Llahu a’lam.