Akhlaq

Budak Dinar dan Dirham Pasti Celaka

Budak dinar dan dirham pasti celaka, adalah sabda Nabi saw. Tetapi jangan mengaitkannya dengan para aktivis ekonomi Islam yang memperjuangkan kedaulatan dinar dan dirham sebagai mata uang di samping rupiah. Budak dinar dan dirham yang dimaksud Nabi saw adalah mereka yang senang menumpuk-numpuk uang sebagai tabungan dan merasa sakit jika hartanya itu berkurang.

Hadits tentang celakanya budak dinar dan dirham disampaikan oleh Abu Hurairah ra dari Nabi Muhammad saw:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

Celaka budak dinar, dirham, pakaian sutera, dan baju. Jika ia diberi ia ridla, tapi jika tidak diberi ia tidak ridla (Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab ma yuttaqa min fitnatil-mal no. 6435; kitab al-jihad was-siyar bab al-hirasah fil-ghazwi fi sabilillah no. 2886, 2887).

Budak dinar dan dirham dalam hadits di atas disandingkan dengan budak pakaian. Artinya mereka adalah manusia-manusia yang diperbudak oleh materi duniawi. Dalam bab al-hirasah fil-ghazwi Shahih al-Bukhari dijelaskan oleh Nabi saw:

إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

Jika ia diberi ia ridla, tapi jika tidak diberi ia marah. Celaka dan terus terjatuhlah ia. Jika ia tertusuk duri tidak ada yang bisa mencabutnya.

Artinya budak dinar dan dirham ini adalah orang-orang yang selalu diliputi stress dan marah. Meski ada bahagianya tetapi bahagia tersebut hanya sesaat karena bahagianya tergantung pada apakah ia bertambah harta atau tidak. Padahal harta itu yang pastinya akan selalu berkurang. Kalaupun bertambah maka pasti akan berkurang lagi. Jadinya budak-budak dinar dan dirham pasti akan selalu stress dan marah. Hatinya akan selalu diliputi rasa takut harta berkurang. Itulah sebabnya Nabi saw menyamakannya dengan orang yang tertusuk duri yang tidak akan pernah bisa dicabut; sakit selamanya dan malah akan infeksi yang bisa berujung pada kematian.

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan bahwa budak dinar dan dirham adalah:

طَالِبُه الْحَرِيصُ عَلَى جَمْعِه الْقَائِمُ عَلَى حِفْظِه

Pencarinya yang rakus untuk mengumpulkannya dan selalu menjaganya”

Sementara itu Imam at-Thibi menjelaskan:

خُصَّ الْعَبْد بِالذِّكْرِ لِيُؤْذَن بِانْغِمَاسِهِ فِي مَحَبَّة الدُّنْيَا وَشَهَوَاتهَا كَالْأَسِيرِ الَّذِي لَا يَجِد خَلَاصًا، وَلَمْ يَقُلْ مَالِك الدِّينَار وَلَا جَامِع الدِّينَار لِأَنَّ الْمَذْمُوم مِنْ الْمِلْك وَالْجَمْع الزِّيَادَةُ عَلَى قَدْر الْحَاجَة

Disebutkan secara khusus kata ‘abdun untuk memberitahukan ketenggelamannya dalam cinta dunia dan syahwatnya, seperti seorang tawanan yang tidak menemukan cara untuk melepaskan diri. Maka dari itu tidak disebut malikud-dinar (pemilik dinar) atau jami’ud-dinar (pengumpul dinar), karena yang tercela dalam memiliki dan mengumpulkan itu adalah menambah-nambah yang lebih dari kadar keperluan (Fathul-Bari bab ma yuttaqa min fitnatil-mal).

Kedua ulama besar di atas sama menjelaskan bahwa budak-budak dinar dan dirham itu adalah mereka yang selalu menumpuk-numpuk harta lebih dari kadar kebutuhannya. Semakin bertambah banyak simpanannya semakin besar kikirnya. Semakin bertambah besar tabungannya semakin bertambah besar pula bakhilnya. Semestinya semakin banyak hartanya semakin besar shadaqahnya, budak-budak dinar dan dirham ini malah semakin besar pelitnya.

Budak-budak harta itu akan selalu memendam sifat bakhil karena hatinya selalu takut jika hartanya berkurang. Sifat bakhil itu juga mendatangkan dengki karena tidak senang melihat orang lain lebih banyak harta darinya. Mana ada kebahagiaan bagi orang-orang yang selalu memendam sifat bakhil dan dengki seperti ini.

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Hasyr [59] : 9)

Agar hati bebas dari sifat kikir, ayat di atas pada bagian awalnya mengajarkan agar setiap orang harus selalu siap memberi meski diri sendiri sedang membutuhkan (hajah). Bahkan meski sedang khashashah (sangat membutuhkan) sekalipun harus berani untuk memberi. Tentunya sepanjang tidak menimbulkan madlarat dengan meminta lagi kepada orang lain setelah memberi tersebut. Alasan hajah dan khashashah itu adalah dua hal yang seringkali menyebabkan seseorang kikir dan tidak pernah mendapatkan kebahagiaan dalam berbagi. Padahal seringkali hajah dan khashashah tersebut hanya perasaan subjektif saja akibat kikir yang sudah sangat akut. Setelah harta dikeluarkan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan faktanya seringkali harta yang dimiliki masih cukup untuk makan dan dipakai.

Dalam ayat lain Allah swt menyebutkan sifat kikir dan dengki itu sebagai penyakit hati. Yang namanya penyakit hati tidak akan sembuh dengan sendirinya, melainkan seperti kanker jika dibiarkan akan semakin bertambah parah.

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ٢٩…إِنْ يَسْأَلْكُمُوهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا وَيُخْرِجْ أَضْغَانَكُمْ٣٧ هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ  وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ  …٣٨

Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?… Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri (QS. Muhammad [47] : 29, 37-38).

Allah swt tegas menyebutkan dalam ayat di atas bahwa mereka yang bakhil akan menyusahkan diri sendiri. Ia pada hakikatnya hanya kikir terhadap dirinya sendiri. Ketika dirinya membutuhkan pasti tidak akan ada siapa pun yang membantunya, terutama Allah swt, karena ia telah berbuat kikir untuk dirinya sendiri.

Karakter buruk lainnya yang akan lahir dari budak-budak dinar dan dirham ini adalah: Pertama, selalu ingin diberi shadaqah. Kalau tidak diberi marah/stress. Maka tangannya akan selalu di bawah meminta jatah bagian, meski hartanya sebenarnya sudah banyak. Korupsi pun akan menjadi gaya hidupnya (QS. At-Taubah [9] : 58).

Kedua, enggan bershadaqah, sebagai akibat dari sifat yang selalu ingin diberi shadaqah atau jatah pembagian. Ia hanya akan ingat shadaqah setelah nyawa sudah ada di tenggorokan, tetapi shadaqah pada saat itu mustahil dan tidak akan dicatatkan shadaqah karena status harta sudah berpindah hak milik kepada ahli waris (QS. Al-Munafiqun [63]: 9-10).

Ketiga, selalu terjebak pada sifat keluh kesah dan kikir; ketika tidak punya berkeluh kesah, dan ketika punya selalu kikir. Itu semua diakibatkan shalat dan zakatnya jelek. Keyakinan pada hari akhirnya pun sangat buruk (QS. Al-Ma’arij [70] : 19-26).

Keempat, selalu terjebak juga pada sifat putus asa dan sombong. Tidak jauh beda dengan sifat sebelumnya, hanya ada tambahan sifat sombong di samping kikir (QS. Hud [11] : 9-11). Ia akan bertingkah seperti Qarun yang merasa harta yang dimilikinya adalah hasil jerih payah tenaga dan ilmunya, sehingga terserah dirinya saja tidak usah peduli dengan orang lain yang tidak mau bersusah payah berpikir dan berusaha seperti dirinya (QS. Al-Qashash [28] : 78).

Kelima, selalu terjebak pada mencaci dan mengumpat. Hatinya akan selalu bermusuhan dengan orang lain yang orang lain tersebut sebenarnya bukan musuhnya dan tidak merasa sebagai musuhnya. Itu semua akibat nafsu tinggi ingin selalu merasa dirinya yang terbaik dan tidak boleh ada orang lain yang lebih baik darinya dalam hal harta (QS. Al-Humazah [104]).

Semuanya ini merupakan bukti bahwa budak dinar dan dirham pasti celaka. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.