Home > Akhlaq > Bobotoh Setan 2

Bobotoh Setan 2

Bobotoh Setan

Selain ikhwanus-syaithan, bobotoh setan juga adalah mereka yang disebut oleh al-Qur`an dengan nama hizbus-syaithan dan auliya`us-syaithan. Bagaimana kriteria bobotoh setan yang dua ini?

Hizbun, sebagaimana dijelaskan oleh ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani, adalah jama’ah fiha ghilazhun; kelompok yang berjumlah banyak dan di dalamnya ada orang-orang yang keras dan kasar. Maka dari itu kata ini sering diterjemahkan juga dengan “pasukan”. Misalnya al-ahzab yang menjadi nama surat ke-33 dalam al-Qur`an dan diterjemahkan dengan “golongan yang bersekutu”. Ini ditujukan kepada pasukan-pasukan perang yang menyerang kaum muslimin pada perang Khandaq tahun 5 H dan terdiri dari kaum musyrikin, munafiqin, dan Yahudi.

Jika kata hizbun ini disematkan pada setan, maka hizbus-syaithan artinya “pasukan setan”; dimana setan menjadi panglimanya dan sudah pasti akan selalu ditaati oleh pasukannya. Tidak mungkin ada pasukan yang tidak menuruti instruksi dan arahan panglimanya. Kalaupun ada, mereka berarti sudah bukan pasukannya lagi. Mereka akan diberhentikan dengan tidak hormat dari pasukan tersebut. Maka dari itu, hizbus-syaithan digambarkan oleh al-Qur`an sebagai orang-orang yang selalu nurut dan manut pada setiap ajakan dan instruksi setan.

إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. Fathir [35] : 6).

Lebih jelasnya, ketidakberdayaan hizbus-syaithan dari instruksi dan arahan setan digambarkan dalam al-Qur`an sebagai ketidakberdayaan yang benar-benar tidak berdaya, melebihi ketidakberdayaan pasukan militer di dunia.

وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ

Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih (QS. Ibrahim [14] : 22).

Maka setiap orang yang selalu ‘tidak berdaya’ menyalahi ajakan setan, itulah yang termasuk hizbus-syaithan. Mereka adalah orang-orang yang selalu tidak bisa melawan sifat malasnya untuk shalat berjama’ah di masjid atau merutinkan zakat, infaq dan shadaqah. Mereka yang selalu bersemangat untuk menonton sepakbola atau hiburan lainnya meski itu jelas bukan amal shalih, sementara untuk menghadiri kajian ilmu tidak bersemangat. Ketika menghadiri jum’atan pun, mereka tidak berdaya untuk melawan kantuk yang merupakan hembusan setan. Mereka adalah perempuan-perempuan yang tidak berdaya untuk melawan malu jika berjilbab dan merasa bangga jika bisa memperlihatkan auratnya dengan dalih seksi.

Hizbus-syaithan juga ditujukan kepada orang-orang yang selalu ingin menjadi pengikut orang-orang kafir dan berlindung di balik orang-orang kafir.

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah (Yahudi) sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.

Allah telah menyediakan bagi mereka adzab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat adzab yang menghinakan.

Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikit pun (untuk menolong) mereka dari adzab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah hizbus-syaithan (golongan setan). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi (QS. al-Mujadilah [58] : 19).

Ancaman pada ayat di atas ditujukan kepada orang-orang munafiq yang selalu berlindung kepada orang-orang Yahudi dan musyrik ketika terjadi perang atau konflik antara kaum muslimin vs kaum kafir. Mereka digambarkan oleh Allah swt sebagai orang-orang yang tidak berdaya melawan kekuasaan setan atas ketakutan dalam hati mereka sehingga memilih berlindung kepada orang-orang kafir.

Dalam ayat lain, orang-orang seperti ini disebut juga auliya`us-syaithan; wali-wali setan. Mereka adalah orang-orang yang selalu mencari perlindungan (wilayah) kepada orang-orang kafir dan merasa lebih dekat (wala) kepada mereka daripada kepada orang beriman. Mereka adalah para pengecut dan penakut, yang selalu mengira bahwa kekuatan ada pada orang-orang kafir. Allah swt menjelaskan:

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” … Sesungguhnya mereka (orang-orang yang menakut-nakuti) itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang kafir dan munafiq), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman (QS. Ali ‘Imran [3] : 175).

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱلطَّٰغُوتِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut (sesembahan/pemimpin/panutan selain Allah), sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah (QS. an-Nisa` [4] : 76).

‘Wali setan’ hari ini adalah orang-orang yang selalu memilih untuk lebih dekat kepada selain Allah swt (thaghut) ketika seharusnya hanya memilih Allah swt. Mereka lebih nyaman untuk mengikuti budaya kafir dalam berpakaian yang itu jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka lebih senang mengidolakan orang-orang kafir, dibanding orang-orang shalih dan zuhud. Mereka lebih senang anak-anaknya berprestasi dalam urusan dunia dan harta seperti orang kafir, meski hampa dan jauh dari nilai-nilai agama. Mereka lebih senang menonton dan menyimak public figure yang membebek pada artis-artis Barat, dibanding belajar akhlaq kepada para ulama dan orang-orang shalih. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.