Home > Akhlaq > Bershalawat untuk Nabi Muhammad ﷺ bag 5

Bershalawat untuk Nabi Muhammad ﷺ bag 5

Bershalawat untuk Nabi Muhammad ﷺ

Shalawat untuk Nabi Muhammad saw dianjurkan juga untuk diucapkan di setiap kali masuk dan keluar masjid. Di samping itu menjadi rukun bacaan dalam shalat jenazah. Dianjurkan juga di sela-sela takbir dalam shalat ‘id. Al-Hafizh Ibn Katsir menguraikan dalil-dalilnya dalam kitab Tafsirnya ketika menafsirkan QS. al-Ahzab [33] : 56. Al-Hafizh Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah membahasnya juga dalam kitab Jala`ul-Afham


Al-Hafizh Ibn Katsir menulis dalam kitab Tafsirnya:

وَمِنْ ذَلِكَ: عِنْدَ دُخُولِ الْمَسْجِدِ وَالْخُرُوجِ مِنْهُ: لِلْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ…

Di antara hal itu (anjuran shalawat untuk Nabi saw) adalah ketika masuk dan keluar masjid, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad…

عَنْ أُمِّهِ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْحُسَيْنِ، عَنْ جَدَّتِهِ [فَاطِمَةَ] بِنْتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ وَقَالَ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ”. وَإِذَا خَرَجَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَالَ: “اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ.”

Dari ibunya (‘Abdullah) Fathimah bintil-Husain, dari neneknya Fathimah binti Rasulullah saw, ia berkata: Rasulullah saw apabila masuk masjid bershalawat dan salam kepada Muhammad lalu mengucapkan: “Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu.” Dan apabila keluar, beliau bershalawat dan salam kepada Muhammad lalu mengucapkan: “Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, dan bukakanlah pintu-pintu karunia-Mu.” (Musnad Ahmad musnad Fathimah binti Rasulillah saw no. 26416; Sunan at-Tirmidzi bab ma yaquluhu ‘inda dukhulihil-masjid no. 314).

Hadits di atas, jika ditelusuri semua sanadnya dari kutubut-tis’ah bersumber dari tiga orang shahabat; Fathimah, Abu Humaid/Usaid al-Anshari, dan Abu Hurairah. Hadits Fathimah putri Rasulullah saw sanadnya terputus, karena Fathimah binti al-Husain (cucu Fathimah binti Rasulullah saw) yang menyatakan menerima darinya, tidak pernah bertemu/sezaman. Meski demikian, hadits ini dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Ibn Majah, Ibn Hibban dan Ibn Khuzaimah. Maka dari itu Imam at-Tirmidzi menjadikan hadits Fathimah sebagai hujjah.

Hadits Abu Humaid/Usaid ada yang menyebutkan shalawat/salam ada juga yang tidak menyebutkan. Yang menyebutkan shalawat melalui Sulaiman ibn Bilal, sementara yang tidak, melalui ‘Abdul-‘Aziz ad-Darawardi. Terkait rawi terakhir ini ada yang mempermasalahkan karena hafalannya. Tetapi itu tidak jadi masalah sebab faktanya ia rawi Shahih Muslim dan ada mutabi’ yakni ‘Amarah ibn Ghaziyah. Meski di bawah ‘Amarah juga ada Isma’il ibn ‘Ayyasy yang dla’if, tetapi ia tidak menyendiri, ada Bisyr ibn al-Mufadldlal yang tsiqah tsabtun ‘abid.

Dua ulama hadits kontemporer; Syaikh al-Albani dan Syu’aib al-Arnauth sama-sama menshahihkan hadits di atas dalam kitab-kitab takhrij mereka. Demikian halnya al-Hafizh Ibn Hajar dalam Nata`jul-Afkar 1 : 285, sehingga kesimpulannya bisa diamalkan. Tentunya selain riwayat Muslim yang juga dari Abu Humaid/Usaid al-Anshari yang tanpa menyebutkan shalawat dan salam. Untuk kalimat shalawat dan salamnya karena tidak ditentukan secara spesifik, maka bisa menggunakan: Allahumma shalli wa sallim ‘alan-Nabiy/Rasulillah, atau as-shalatu was-salamu ‘alan-Nabi/Rasulillah, atau as-salam ‘alan-Nabi/Rasulillah, atau kalimat shalawat dan salam yang lainnya.

Selanjutnya, terkait shalawat dalam shalat jenazah, al-Hafizh Ibn Katsir mengutip riwayat Imam as-Syafi’i dalam kitab al-Umm sebagai berikut:

قال أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلِ بْنِ حُنَيف أَنَّهُ أَخْبَرَهُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ : أَنَّ السُّنَّةَ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الْجِنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الْإِمَامُ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى سِرًّا فِي نَفْسِهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ ، وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجِنَازَةِ، وَفِي التَّكْبِيرَاتِ لَا يَقْرَأُ فِي شَيْءٍ مِنْهَا، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِي نَفْسِهِ

Abu Umamah ibn Sahl ibn Hunaif (seorang shahabat) berkata bahwasanya ada seorang shahabat Nabi saw yang mengabarinya: “Sunnah dalam shalat jenazah adalah imam bertakbir, lalu membaca al-Fatihah sesudah takbir pertama secara sirr dalam hatinya, kemudian bershalawat kepada Nabi saw, dan mengikhlashkan do’a untuk jenazah. Dan dalam takbir-takbir lainnya tidak membaca al-Qur`an pada satu takbir pun, kemudian salam dengan sirr dalam hatinya.”

Al-Hafizh Ibn Katsir menyatakan:

وَهَذَا مِنَ الصَّحَابِيِّ فِي حُكْمِ الْمَرْفُوعِ عَلَى الصَّحِيحِ

Ini berita dari shahabat yang hukumnya marfu’ (dari Nabi saw) secara shahih.

Akan tetapi hadits di atas tidak dipahami oleh al-Hafizh Ibn Katsir bahwa shalawat harus di takbir pertama, sebab pernyataan “kemudian bershalawat” maknanya mungkin pada takbir berikutnya. Maka dari itu beliau sendiri menganjurkan shalawat di takbir kedua, sementara takbir pertama membaca al-Fatihah. Takbir selanjutnya berdo’a untuk jenazah dan untuk yang shalat jenazah. Hal yang sama dikemukakan Imam an-Nawawi dalam Riyadlus-Shalihin pada bab bacaan shalat jenazah. Beliau menganjurkan sebaiknya takbir pertama al-Fatihah, takbir kedua shalawat, takbir ketiga do’a untuk kaum muslimin secara umum (Allahumma-ghfir li hayyina wa mayyitina…), dan takbir keempat untuk jenazah. Anjuran dari dua ulama tersebut juga tidak berarti wajib harus seperti itu urutannya. Sebab hadits Abu Umamah di atas bisa juga dipahami bahwa dalam takbir pertama itu ada al-Fatihah, shalawat, dan do’a. Lalu di takbir-takbir berikutnya hanya do’a saja tanpa ada lagi membaca al-Qur`an.

Sementara shalawat dalam shalat ‘id, dijelaskan oleh Imam Ibn Katsir sebagai berikut dengan mengutip riwayat dari Isma’il al-Qadli (199-281 H) seorang ulama madzhab Maliki penulis kitab Fadllus-Shalat ‘alan-Nabiy dan Imam Ibn Katsir menilainya isnad shahih; sanadnya shahih:

وَمِنْ ذَلِكَ  فِي صَلَاةِ الْعِيدِ: قَالَ إِسْمَاعِيلُ الْقَاضِي … عَنْ عَلْقَمَةَ أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ وَأَبَا مُوسَى وَحُذَيْفَةَ خَرَجَ عَلَيْهِمُ الْوَلِيدُ بْنُ عُقْبَةَ يَوْمًا قَبْلَ الْعِيدِ، فَقَالَ لَهُمْ: إِنَّ هَذَا الْعِيدَ قَدْ دَنَا، فَكَيْفَ التَّكْبِيرُ فِيهِ؟ قَالَ عَبْدُ اللهِ: تَبْدَأُ فَتُكَبِّرُ تَكْبِيرَةً تَفْتَتِحُ بِهَا الصَّلاةَ، وتحمد ربك وتصلي على النَّبِيِّ ﷺ ثُمَّ تَدْعُو، وَتُكَبِّرُ وَتَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ تُكَبِّرُ وَتَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ تُكَبِّرُ وَتَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ تَقْرَأُ، ثُمَّ تُكَبِّرُ وَتَرْكَعُ، ثُمَّ تَقُومُ فَتَقْرَأُ وَتَحْمَدُ رَبَّكَ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ ثُمَّ تَدْعُو وَتُكَبِّرُ، وَتَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ تَرْكَعُ. فَقَالَ حُذَيْفَةُ وَأَبُو مُوسَى: صَدَقَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ.

Di antara hal itu (anjuran shalawat) adalah dalam shalat ‘id. Isma’il al-Qadli menjelaskan…dari ‘Alqamah, bahwasanya Ibn Mas’ud, Abu Musa, dan Hudzaifah ditemui oleh al-Walid ibn ‘Uqbah pada satu hari sebelum ‘id. Ia bertanya kepada mereka: “Sungguh ‘id ini telah dekat, bagaimana takbir padanya?” ‘Abdullah (ibn Mas’ud) menjawab: “Kamu mulai dengan takbir pembuka shalat, memuji Rabbmu, shalawat kepada Nabi saw, lalu berdo’a. Kemudian bertakbir dan melakukan seperti itu. Kemudian bertakbir lagi dan melakukan seperti itu. Kemudian bertakbir lagi dan melakukan seperti itu. Kemudian membaca (al-Fatihah dan surat). Kemudian bertakbir dan ruku’. Kemudian berdiri dan membaca, bertahmid kepada Rabbmu, bershalawat kepada Nabi saw, lalu berdo’a, kemudian bertakbir dan melakukan seperti itu, kemudian ruku’.” Hudzaifah dan Abu Musa berkata: “Abu ‘Abdirrahman (Ibn Mas’ud) benar.” (Syaikh al-Albani menilainya shahih dalam Tahqiq Fadllus-Shalat ‘alan-Nabiy)

Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah dalam Jala`ul-Afham menjelaskan:

وَفِيْهِ حَمْدُ اللهِ وَالصَّلاَةُ عَلَى رَسُوْلِهِ بَيْنَ التَّكْبِيْرَاتِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ… وَأَخَذَ بِهِ أَحْمَدُ وَالشَّافِعِيُّ فِي اسْتِحْبَابِ الذِّكْرِ بَيْنَ التَّكْبِيْرَاتِ

“Dan padanya jadi dalil dibaca hamdalah dan shalawat untuk Rasul-Nya di antara takbir-takbir (shalat ‘id), dan itu madzhab as-Syafi’i dan Ahmad… Imam Ahmad dan as-Syafi’i juga menjadikan dalil dengannya dalam hal dianjurkan dzikir di antara takbir-takbir (shalat ‘id).” (Jala`ul-Afham, hlm. 334)

Wal-‘Llahu a’lam.