Home > Konsultasi Islam > Kontemporer > Benarkah Nabi saw Pernah Sesat?

Benarkah Nabi saw Pernah Sesat?

Benarkah Nabi saw Pernah Sesat?

Bismillah, seorang Ustadz dilaporkan ke Polda Jabar karena berceramah Nabi saw pernah sesat dan yang memperingati maulid Nabi saw berarti memperingati kesesatan Nabi saw. Dalilnya adalah QS. ad-Dluha [94] : 7. Apakah benar maksud ayat itu Nabi saw pernah sesat?

Firman Allah swt: “Wa wajadaka dlallan fa hada; dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” tidak berarti bahwa Nabi saw pernah sesat seperti “sesat”-nya orang-orang yang sesat atau aliran sesat. ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitab Mufradat al-Qur`an menjelaskan bahwa makna “dlalal” adalah tidak ada dalam jalan yang lurus. Cakupannya umum kepada setiap orang yang tidak ada dalam jalan yang lurus, baik yang kadarnya sangat sedikit atau yang parah. Jika ditujukan kepada Nabi, maka tentu maknanya tidak sama dengan orang-orang sesat pada umumnya, sebab Nabi saw sebelum menjadi Nabi sudah digelari al-Amin (orang yang terpercaya) oleh penduduk Makkah. Nabi saw tidak pernah melakukan maksiat apapun sebelum menjadi Nabi. Ketika Nabi saw ketakutan di awal menerima wahyu, Khadijah ra menenangkan beliau dengan mengatakan:

كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Tidak mungkin, demi Allah, Allah tidak mungkin menghinakan anda selamanya. Sungguh anda itu selalu menyambungkan hubungan keluarga, menanggung beban orang susah, memberi pekerjaan kepada orang yang tidak punya, menghormati tamu, dan membantu para pembela kebenaran.” (Shahih al-Bukhari kitab bad`il-wahyi no. 3).

Al-Hafizh Ibn Katsir dalam hal ini menjelaskan bahwa maksud dlallan dalam surat ad-Dluha adalah Nabi saw sebelum diangkat jadi Nabi belum mengetahui kitab atau iman, sebagaimana firman Allah swt:

وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ  ٥٢

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS. as-Syura [42] : 52).

Penafsiran lainnya adalah: (1) Nabi saw ketika kecil pernah tersesat di perkampungan Makkah, lalu Allah swt menunjukinya jalan pulang. (2) Ketika Nabi saw melakukan perjalanan malam ke Syam bersama pamannya, setan menghalau untanya sehingga menjauh dari rombongan dan memisahkan diri. Jibril lalu datang dan meniup setan sampai terpental ke Habasyah. Nabi saw pun kemudian kembali bergabung lagi dengan rombongan (Tafsir Ibn Katsir mengutip dari al-Baghawi).

Sebagaimana sudah sering dijelaskan dalam media ini, peringatan maulid Nabi saw termasuk persoalan ikhtilaf di kalangan para ulama. Banyak ulama yang menganjurkannya, di samping banyak juga yang melarangnya. Menyikapi ikhtilaf seperti ini setiap muslim harus menjunjung tinggi adab untuk tidak saling merendahkan, mencela, memanggil dengan panggilan buruk, su`uzhan, tajassus (mencari-cari kesalahan), dan ghibah. Masing-masing pihak harus bersikap arif, saling memahami, dan bijaksana (QS. al-Hujurat [49] : 10-13). Sudah bukan zamannya lagi memojokkan kelompok yang berbeda (selama wilayahnya ikhtilaf ulama) dengan nada merendahkan. Sudah seharusnya saling respek dan menghargai.

Dan sudah barang tentu dalam kaitan adab ini juga setiap yang bersalah harus menyampaikan permohonan maafnya. Bagi yang merasa tersinggung, jika permohonan maaf dari pihak tersalah sudah dikemukakan, juga harus segera memaafkannya, bukan memperpanjang perkaranya. Sebab karakter orang bertaqwa itu: “Menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain” (QS. Ali ‘Imran [3] : 134). Wal-‘Llahu a’lam.