Home > Aqidah > Belajar kepada Kaum Yunus

Belajar kepada Kaum Yunus

Belajar kepada Kaum Yunus

Belajar kepada Kaum Yunus – Dari sekian banyak kaum para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw yang dibinasakan Allah swt, hanya ada satu kaum yang selamat dari siksa besar Allah swt, mereka adalah kaum Yunus. Jika kaum-kaum yang lain ketika diingatkan oleh Allah swt dengan bencana dan penyakit (al-ba`sa` wad-dlarra`) mereka tetap dalam pembangkangannya sehingga berujung dengan siksa yang besar, maka kaum Yunus memilih untuk takut dan bertaubat, sehingga mereka selamat dari kebinasaan.

Al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan dalam kitab Tafsirnya ketika menafsirkan firman Allah swt QS. al-Anbiya` [21] : 87, bahwa Nabi Yunus ‘alaihis-salam bernama Yunus ibn Matta. Diutus untuk kaum yang tinggal di Ninawa, bagian dari negeri Maushil, Irak. Nabi Yunus as mendakwahi mereka, tetapi mereka enggan untuk menerima ajakan dakwahnya. Sampai kemudian Nabi Yunus as menjanjikan akan adanya siksa yang besar dalam jangka waktu tiga hari mendatang. Ketika gejala-gejala siksa itu telah datang, maka penduduk Ninawa keluar ke tempat-tempat terbuka dengan membawa serta istri dan anak-anak mereka, demikian juga binatang ternak mereka. Mereka lalu berdo’a kepada Allah swt sehingga Allah swt urung menurunkan siksa-Nya. Mereka pun kemudian hidup dalam keshalihan dan kesejahteraan. Terkait hal ini, Allah swt berfirman:

فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ٩٨

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu (QS. Yunus [10] : 98).

Dalam Athlas Tarikh al-Anbiya war-Rusul, Sami ibn ‘Abdillah al-Maghluts menjelaskan bahwa Nainawa adalah sebuah kota yang terletak di Irak Utara, yang saat itu dikuasai oleh kerajaan Asyuriyyah. Mayoritas penduduknya merupakan penyembah berhala. Nabi Yunus as diperkirakan hidup pada tahun 820-750 SM, dan beliau diperkirakan diutus oleh Allah swt pada tahun 780 SM. Secara nasab keturunan, beliau merupakan keturunan dari Nabi Yusuf as.

Sementara itu, Prof. Quraish Shihab, menambahkan bahwa Yunus ibn Matta lahir di Gats Aifar, Palestina. Ketika masyarakatnya di Nainawa menolak dakwahnya, beliau pergi menuju ke Yafa, satu pelabuhan di Palestina, dan melaut menuju Tarsyisy, satu kota di sebelah barat Palestina. Lalu beliau diturunkan ke tengah laut sehingga ditelan oleh ikan besar. Beliau diutus sekitar awal abad ke-8 sebelum Masehi, dan dikuburkan di Jaljun, satu desa yang terletak di antara Qudus di Palestina dan al-Khalil yang terletak di tepi barat Laut Mati. Kaum Nabi Yunus itu sendiri tinggal di kota Nainawa, salah satu kota kerajaan Asyur yang terletak di tepi sebelah kiri dari sungai Tigris di Irak, dan pertama kali dibangun pada 2229 SM. Disebutkan bahwa setelah mendakwahi kaumnya sekian lama, Nabi Yunus as meninggalkan mereka dan mengancam akan datangnya siksa setelah 40 hari. Ketika tanda-tanda siksa itu telah datang, kaum Yunus pun bertaubat dan bertauhid kepada Allah swt (Tafsir al-Mishbah Vol. 5 hlm. 511).

Perbedaan data di atas tidak mengurangi kebenaran keberadaan Nabi Yunus as dan kaumnya. Terlepas dari tahun berapa beliau diutus dan berapa lama siksa yang diancamkan kepada kaumnya, pelajaran pokok yang hendak disampaikan al-Qur`an adalah setiap kaum harus belajar dari kaum Yunus. Mereka bertaubat ketika tanda-tanda siksa yang besar datang sebelum datangnya siksa yang besar. Kaum Yunus beriman di saat keimanan masih bermanfaat. Perihal waktu-waktu dimana keimanan tidak akan bermanfaat, Allah swt menjelaskan:

هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَوۡ يَأۡتِيَ رَبُّكَ أَوۡ يَأۡتِيَ بَعۡضُ ءَايَٰتِ رَبِّكَۗ يَوۡمَ يَأۡتِي بَعۡضُ ءَايَٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفۡسًا إِيمَٰنُهَا لَمۡ تَكُنۡ ءَامَنَتۡ مِن قَبۡلُ أَوۡ كَسَبَتۡ فِيٓ إِيمَٰنِهَا خَيۡرٗاۗ قُلِ ٱنتَظِرُوٓاْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ١٥٨

“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu (kiamat) atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu (siksa). Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula).” (QS. al-An’am [6] : 158).

Sudah menjadi ketentuan Allah swt bahwa Allah swt akan membinasakan satu kaum—tentunya terlepas dari berapa tahun/abad mereka telah hidup di dunia—jika mereka membangkang dari tauhid dan syari’at Allah swt:

وَإِن مِّن قَرۡيَةٍ إِلَّا نَحۡنُ مُهۡلِكُوهَا قَبۡلَ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَوۡ مُعَذِّبُوهَا عَذَابٗا شَدِيدٗاۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي ٱلۡكِتَٰبِ مَسۡطُورٗا ٥٨

Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (taqdir) (QS. al-Isra` [17] : 58).

Sebelum itu, Allah swt terlebih dahulu mengirimkan Rasul-rasul-Nya lengkap dengan peringatan-peringatan-Nya berupa al-ba`sa` wad-dlarra` (bencana dan penyakit). Jika satu kaum bertaubat, maka mereka akan selamat dari siksa yang besar. Jika tetap dalam pembangkangannya terhadap syari’at, maka Allah swt pasti akan mengirimkan siksa yang besar pada waktu yang tidak terduga.

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٖ مِّن قَبۡلِكَ فَأَخَذۡنَٰهُم بِٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمۡ يَتَضَرَّعُونَ ٤٢ فَلَوۡلَآ إِذۡ جَآءَهُم بَأۡسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَٰكِن قَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٤٣ فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ ٤٤

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, tetapi hati mereka malah menjadi keras dan syaitan pun menjadikan indah kepada mereka hal jelek yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (QS. al-An’am [6] : 42-44. Ayat semakna ada juga dalam QS. al-A’raf [7] : 94-98).

Contohnya kaum Fir’aun. Jauh sebelum datang siksa besar yang membinasakan mereka, termasuk Fir’aunnya, Allah swt sudah mengirimkan dahulu peringatan-Nya berupa musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan. Ditambah lagi dengan bencana angin tofan, wabah belalang, kutu, katak dan darah (semacam demam berdarah). Akan tetapi mereka tidak takut sama sekali. Malah tetap mempermainkan ajaran Nabi Musa as dan menganggap semua itu hanya “kejadian alamiah” biasa. Sehingga akhirnya Allah swt binasakan mereka semua (QS. al-A’raf [7] : 130-136).

Kebinasaan yang Allah swt kirimkan ke setiap umat yang durhaka itu tidak selalu sama, seringkali berbeda-beda di setiap tempat. “Ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS. al-‘Ankabut [29] : 40). Mungkin juga: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (konflik yang tiada akhir) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain (dijajah bangsa asing). Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya)” (QS. al-An’am [6] : 65).

Tinggal sekarang umat Islam Indonesia muhasabah; bukankah “peringatan-peringatan” Allah swt dalam wujud al-ba`sa` wad-dlarra` sudah banyak menimpa umat ini. Lalu hendak meneladani kaum yang manakah; kaum Fir’aun ataukah kaum Yunus?

Wa Rabbunar-Rahmanul-Musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.