Home > Akhlaq > Belajar kepada Ahli Quba

Belajar kepada Ahli Quba

Belajar kepada Ahli Quba

Ahli Quba disebutkan oleh al-Qur`an sebagai orang-orang yang senang bersuci sehingga mereka pun mendapatkan cinta ilahi. Demikian halnya, mereka juga dipuji oleh Nabi saw sebagai orang-orang yang selalu bertaubat karena amaliah shalatnya. Pada diri-diri merekalah terlihat dengan jelas perpaduan antara thaharah dan taubat yang layak diteladani oleh umat Islam yang mendamba cinta-Nya.

Cinta Allah swt kepada Ahli Quba disebutkan dalam salah satu firman-Nya:

لَا تَقُمۡ فِيهِ أَبَدٗاۚ لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ فِيهِ رِجَالٞ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ ١٠٨

Janganlah kamu shalat dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bershalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang senang mensucikan diri. Dan Allah mencintai orang-orang yang selalu suci. (QS. at-Taubah [9] : 108).

Ahli Quba maksudnya adalah penduduk Quba; satu tempat dekat Madinah yang sempat disinggahi Nabi saw ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Di Quba ini Nabi saw membangun masjid yang pertama kalinya sebelum sampai ke Madinah dan kemudian membangun Masjid Nabawi di sana. Itulah yang dimaksud firman Allah swt: “Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama…”.

Larangan untuk shalat dalam ayat atas ditujukan pada masjid dlirar (merusak); sebuah masjid yang sengaja dibangun oleh orang-orang munafiq untuk menyambut Abu ‘Amir ar-Rahib yang memprovokasi kerajaan Romawi Timur agar menyerang Madinah. Sebuah masjid yang namanya saja masjid, tetapi sejatinya sebuah tempat bagi orang-orang munafiq untuk mengatur strategi menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Di ayat sebelumnya disebutkan bahwa orang-orang munafiq meminta Nabi saw untuk shalat di masjid dlirar tersebut, maka Allah swt pun tegas melarangnya (Tafsir Ibn Katsir).

Selanjutnya Allah swt memuji orang-orang yang selalu shalat di masjid Quba atau Ahli Quba sebagai orang-orang yang senang bersuci. Terkait ini, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah, Nabi saw menjelaskan:

نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ فِى أَهْلِ قُبَاءَ (فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا) قَالَ كَانُوا يَسْتَنْجُونَ بِالْمَاءِ فَنَزَلَتْ فِيهِمْ هَذِهِ الآيَةُ

Ayat ini turun ditujukan pada Ahli Quba: “Di dalamnya ada orang-orang yang senang mensucikan diri.” Mereka selalu bersuci dari buang air dengan air (tidak pernah dengan batu), maka turunlah ayat ini memuji mereka (Sunan Abi Dawud bab fil-istinja bil-ma`i no. 44).

Dalam riwayat al-Hakim, Abu Ayyub menyebutkan penjelasan Nabi saw sebagai berikut:

كَانُوا يَسْتَنْجُوْنَ بِالْمَاءِ وَكَانُوْا لاَ يَنَامُوْنَ اللَّيْلَ كُلَّهُ

Mereka selalu bersuci dari buang air dengan air, dan mereka tidak pernah tidur malam sepenuhnya (selalu bangun untuk shalat malam) (al-Mustadrak kitab at-thaharah no. 634).

Artinya mereka selalu menyempatkan bersuci dengan air, meski untuk istinja (bersuci dari buang air) dibolehkan dengan batu. Artinya untuk wudlu pun mereka selalu berusaha maksimal mengamalkannya, meski tayammum dibolehkan ketika tidak ada air, sulit air, atau menurut sebagian kecil ulama; ketika safar. Jika untuk bersuci dari buang air saja mereka selalu dengan air, tentunya apalagi bersuci dari hadatsnya. Meski itu di waktu malam, terlihat dari penjelasan Nabi saw yang menyatkan bahwa mereka juga selalu menyempatkan shalat malam. Jadi mereka selalu menyempatkan bangun di waktu malam dan bersuci selalu dengan air meski di waktu yang untuk ukuran saat itu sulit memperoleh air, lalu shalat malam.

Selain shalat malam, ada satu ibadah lain yang biasa diamalkan oleh Ahli Quba sehingga mendorong Nabi saw untuk memuji mereka dengan gelar al-awwabin; orang-orang yang selalu kembali kepada Allah, selalu bertaubat kepada Allah. Sebuah hadits menjelaskan:

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى أَهْلِ قُبَاءٍ وَهُمْ يُصَلُّونَ فَقَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَتِ الْفِصَالُ

Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata: Rasulullah saw keluar dan mendatangi penduduk Quba. Saat itu (dluha) mereka sedang shalat. Lalu beliau bersabda: “Shalat orang-orang yang ahli taubat itu ketika anak-anak unta kepanasan oleh batu kerikil yang panas akibat terik matahari.” (Shahih Muslim bab shalatil-awwabin hina tarmidul-fishal no. 1781).

Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَالرَّمْضَاء : الرَّمَل الَّذِي اِشْتَدَّتْ حَرَارَته بِالشَّمْسِ ، أَيْ حِين يَحْتَرِق أَخْفَاف الْفِصَال وَهِيَ الصِّغَار مِنْ أَوْلَاد الْإِبِل – جَمْع فَصِيل – مِنْ شِدَّة حَرّ الرَّمَل . وَالْأَوَّاب : الْمُطِيع ، وَقِيلَ : الرَّاجِع إِلَى الطَّاعَة . وَفِيهِ : فَضِيلَة الصَّلَاة هَذَا الْوَقْت . قَالَ أَصْحَابنَا : هُوَ أَفْضَل وَقْت صَلَاة الضُّحَى ، وَإِنْ كَانَتْ تَجُوز مِنْ طُلُوع الشَّمْس إِلَى الزَّوَال

Ramdla itu batu kerikil yang panas karena tersinari matahari, atau ketika kaki anak-anak unta merasa terbakar karena sangat panasnya batu kerikil. Sedangkan awwab artinya orang yang taat atau kembali pada ketaatan. Ini jadi dalil keutamaan shalat pada waktu ini. Para ulama madzhab kami (Syafi’i) berkata: Itu adalah waktu terbaik shalat Dluha, meski boleh dari sejak terbit matahari sampai tergelincir (zhuhur) (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Terkait pujian Nabi saw kepada Ahli Quba ini, maka Zaid ibn Arqam yang mendengar langsung pujian tersebut, ketika melihat orang-orang yang shalat Dluha terlalu pagi, ia menyayangkannya meski tidak melarangnya karena memang tidak haram:

عن زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ أَنَّهُ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Dari Zaid ibn Arqam, bahwasanya ia melihat beberapa orang shalat Dluha (di waktu pagi). Lalu ia berkata: “Tidakkah mereka tahu bahwa shalat di selain waktu ini lebih utama!? Sebab sungguh Rasulullah saw bersabda: “Shalat orang-orang yang ahli taubat itu ketika anak-anak unta kepanasan oleh batu kerikil yang panas akibat terik matahari.” (Shahih Muslim bab shalatil-awwabin hina tarmidul-fishal no. 1780).

Dari keterangan ini jelas diketahui bahwa pujian awwabin kepada Ahli Quba itu karena mereka selalu melaksanakan shalat Dluha di waktu yang utama, tepatnya ketika terik sinar matahari sudah panas. Hemat kami, jika diukurkan pada jam sekarang kurang lebih pada jam 10.00-11.00 wib.

Ringkasnya, Allah swt menyatakan cinta kepada Ahli Quba karena mereka selalu bersuci dengan air, selalu bangun untuk shalat malam, dan selalu menyempatkan shalat Dluha di waktu yang utama. Ini tentu harus masuk agenda harian orang-orang yang selalu mendamba cinta ilahi di setiap detik hidupnya.

Wal-‘Llahul-Musta’an