Uncategorized

Batasan Toleransi Antaragama dan Madzhab

Batasan Toleransi Antaragama dan Madzhab

Assalamu’alaikum Ustadz. Punten izin bertanya mengenai batasan toleransi dalam menyikapi perbedaan keyakinan itu seperti apa Ustadz. Saudara saya muslim, menurut beliau kita boleh saling mengucapkan dan merayakan hari besar umat lain dengan dalih itu bentuk toleransi. Sikap saya baiknya seperti apa Ustadz atau sayanya yang kurang paham toleransi? Haturnuhun. 0831-0226-xxxx

Toleransi harus dibedakan terlebih dahulu antara toleransi antaragama dan toleransi antarmadzhab. Toleransi antaragama sudah dijelaskan dengan gamblang dalam surat al-Kafirun, yakni umat Islam menghargai keberadaan orang-orang kafir sebagai pemeluk agama dan silahkan saja meyakini dan melaksanakan apa yang mereka yakini. Akan tetapi—sampai diulang-ulang empat kali dalam empat ayat—umat Islam tidak boleh berkeyakinan dan beribadah seperti orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu juga tidak boleh berpura-pura berkeyakinan dan beribadah seperti umat Islam. Lakum dinukum wa liya din; masing-masing silahkan urus urusan agamanya masing-masing.

Jadi pertanyaan anda di atas perihal mengucapkan dan merayakan hari besar agama lain jelas terlarangnya, dan itu bukan toleransi yang dibenarkan. Itu justru salah satu bentuk kekafiran amal, jika seseorang berpura-pura meyakini keselamatan agama kafir dengan mengucapkan selamat Natal misalnya, apalagi sampai ikut merayakan hari besar agama mereka. Itu semua masuk kategori beribadah seperti peribadatan orang kafir yang ditegaskan tidak boleh diamalkan oleh umat Islam dalam surat al-Kafirun tersebut.

Berbeda halnya dengan toleransi antarmadzhab. Yang dimaksud antarmadzhab masih dalam Islam. Tetapi dalam hal ini pun harus dibedakan terlebih dahulu mana madzhab yang diakui oleh Islam dan mana yang sudah masuk kategori sekte sesat dalam Islam. Jika perbedaan madzhab itu masih merujuk madzhab para ulama Ahlus-Sunnah yang diakui, seperti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Zhahiri, dan Hadawi, maka sudah seharusnya menghargai keberadaan madzhab-madzhab tersebut dengan segenap problematika ikhtilafnya sebagai bagian dari khazanah ajaran Islam. Akan tetapi tentunya prinsip ajaran Nabi saw untuk selalu berpegang pada yang meyakinkan dan meninggalkan yang meragukan harus dijadikan pegangan. Sabda Nabi saw:

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيْبَةٌ

Tinggalkan yang meragukanmu menuju yang tidak meragukanmu, karena sesungguhnya kebenaran itu menenangkan dan sesungguhnya kebohongan itu meragukan (Sunan an-Nasa`i kitab adab al-qudlat bab al-hukm bi ittifaq ahlil-‘ilm no. 5414-5415, kitab al-asyribah bab al-hatsts ‘ala tarkis-syubuhat no. 5729; Musnad Ahmad musnad Anas ibn Malik no. 12427, 12886).

Jadi kalau seseorang meragukan keabsahan qunut shubuh misalnya, maka tinggalkan qunut shubuh tersebut dan jangan pernah diamalkan. Jika kemudian diamalkan maka itu sama dengan berbuat bohong. Tetapi harus disisakan sedikit toleransi dalam hati karena qunut shubuh diakui oleh para ulama madzhab Syafi’i dengan segenap dalil yang mereka yakini. Tidak boleh sampai meyakini bahwa pengamal qunut shubuh akan masuk neraka. Keyakinan bahwa yang berbeda dengan kita akan masuk neraka hanya boleh ditujukan kepada orang-orang kafir. Sementara kepada yang berbeda madzhab dalam Islam, Nabi saw sendiri sudah menjamin bahwa ijtihad para ulama itu tidak akan masuk neraka melainkan akan mendapatkan pahala antara satu atau dua.

Tetapi jika perbedaan madzhab yang dimaksud tidak ada sandarannya pada ulama-ulama Ahlus-Sunnah seperti madzhab Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, atau Ahmadiyah, LDII, dan sekularisme-liberalisme dalam konteks dewasa ini, maka ini semua termasuk sekte-sekte yang sesat dan tidak boleh ada celah toleransi untuk membenarkan paham mereka. Toleransi kepada mereka sebagaimana toleransi kepada orang-orang kafir; la a’budu ma ta’budun dan seterusnya sampai lakum dinukum wa liya din. Wal-‘Llahu a’lam