Meraih Cinta Ilahi

Batas Minimal dan Maksimal Cinta Nabi ﷺ

Batas Minimal dan Maksimal Cinta Nabi ﷺ

Cinta kepada Nabi saw yang tertanam dalam hati betapa pun kadarnya akan sangat bermanfaat di akhirat. Maka dari itu sangat penting pendidikan menanamkan cinta Nabi saw bahkan dari sejak usia dini. Meski demikian, kadar minimal cinta Nabi saw tersebut tentu tidak boleh dijadikan dalih untuk berpuas diri dan merasa cukup tanpa mau meningkatkan amal, sebab bisa jadi cinta seperti itu adalah cinta palsu yang akan bertepuk sebelah tangan.

Shahabat Anas ibn Malik ra menceritakan:

بَيْنَمَا أَنَا وَرَسُولُ اللهِ ﷺ خَارِجَيْنِ مِنَ الْمَسْجِدِ فَلَقِينَا رَجُلاً عِنْدَ سُدَّةِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قَالَ فَكَأَنَّ الرَّجُلَ اسْتَكَانَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا كَبِيرَ صَلاَةٍ وَلاَ صِيَامٍ وَلاَ صَدَقَةٍ وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ. قَالَ: فَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Ketika aku dan Rasulullah saw keluar dari masjid, kami bertemu seseorang dekat pintu masjid. Ia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan kiamat itu?” Rasulullah saw menjawab: “Apa yang sudah kamu persiapkan untuknya?” Anas berkata: Seakan-akan lelaki itu merunduk, kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mempersiapkan untuknya dengan banyak shalat, shaum, atau shadaqah, tetapi aku cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau menjawab: “Maka kamu akan bersama orang yang kamu cintai.” (Shahih Muslim bab al-mar` ma’a man ahabba no. 6883 dari jalan Salim ibn Abil-Ja’d).

Dalam riwayat Tsabit al-Bunani, dari Hammad ibn Zaid, diriwayatkan bahwa setelah Anas ibn Malik ra mendengar sabda Nabi saw di atas, ia langsung berkata:

فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الإِسْلاَمِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِىِّ ﷺ فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ. قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ

Tidak pernah kami merasa bahagia sesudah kami masuk Islam, seperti bahagianya kami saat itu setelah mendengar sabda Nabi saw: “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.” Anas berkata: Aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap besar bisa bersama dengan mereka meski aku tidak beramal seperti amal mereka (Shahih Muslim bab al-mar` ma’a man ahabba no. 6881).

Dalam hadits Abu Musa dan Ibn Mas’ud ra pertanyaan dari seorang shahabat tersebut redaksinya:

قِيلَ لِلنَّبِيِّ ﷺ الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Ditanyakan kepada Nabi saw: “Seseorang mencintai satu kaum tetapi ia tidak bisa menyamai mereka.” Nabi saw menjawab: “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (Hadits Abu Musa ra dalam Shahih al-Bukhari bab ‘alamah hubbil-‘Llah no. 6170; hadits Ibn Mas’ud ra dalam Shahih Muslim bab al-mar`u ma’a man ahabba no. 6888).

Dari hadits-hadits di atas, baik Imam an-Nawawi ataupun al-Hafizh Ibn Hajar sama-sama menegaskan bahwa kecintaan pada Nabi saw itu meski sangat minimal akan menjanjikan surga. Imam an-Nawawi menyatakan:

وَلَا يُشْتَرَط فِي الِانْتِفَاع بِمَحَبَّةِ الصَّالِحِينَ أَنْ يَعْمَل عَمَلهمْ؛ إِذْ لَوْ عَمِلَهُ لَكَانَ مِنْهُمْ وَمِثْلهمْ

Tidak disyaratkan dalam memperoleh manfaat cinta kepada orang-orang shalih itu untuk beramal seperti amal mereka, sebab jika ia beramal seperti mereka tentulah ia bagian dari mereka atau seperti mereka (Syarah Shahih Muslim an-Nawawi kitab al-birr was-shilah bab al-mar`u ma’a man ahabba no. 4775).

Al-Hafizh Ibn Hajar menyatakan:

أَنَّهُ قَدْ يَحْصُل مِنْ طَرِيق التَّفَضُّل بِاعْتِقَادِ ذَلِكَ وَإِنْ لَمْ يَحْصُل اِسْتِيفَاء الْعَمَل بِمُقْتَضَاهُ ، بَلْ مَحَبَّة مَنْ يَعْمَل ذَلِكَ كَافِيَة فِي حُصُول أَصْل النَّجَاة

“… maka sungguh hal tersebut bisa cukup dengan meyakini keutamaannya meskipun tidak sampai beramal sempurna sebagaimana yang dituntut. Bahkan mencintai orang yang mengamalkannya saja pun sudah cukup untuk memperoleh keselamatan.” (Fathul-Bari bab ‘alamah hubbil-‘Llah ‘azza wa jalla)

Meski demikian, kedua Imam hadits tersebut juga menegaskan bahwa upaya beramal seperti amal Nabi saw tetap harus diwujudkan, sebagaimana tercermin dalam salah satu riwayat lain terkait hadits di atas:

يَا رَسُولَ اللهِ الرَّجُلُ يُحِبُّ الرَّجُلَ عَلَى الْعَمَلِ مِنَ الْخَيْرِ يَعْمَلُ بِهِ وَلاَ يَعْمَلُ بِمِثْلِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mencintai orang lain karena amal baiknya, ia pun beramal baik yang sama dengannya tetapi belum bisa persis menyamainya.” Rasulullah saw menjawab: “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (Sunan Abi Dawud bab ikhbarir-rajulir-rajul bi mahabbatihi iyyahu no. 5129).

Terlebih dalam hadits-hadits lainnya, Nabi saw memberikan syarat amal kepada setiap orang yang mengaku mencintainya, yaitu:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ ﷺ : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ. فَقَالَ لَهُ: انْظُرْ مَاذَا تَقُولُ، قَالَ: وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ثَلاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ تُحِبُّنِي فَأَعِدَّ لِلْفَقْرِ تِجْفَافًا، فَإِنَّ الفَقْرَ أَسْرَعُ إِلَى مَنْ يُحِبُّنِي مِنَ السَّيْلِ إِلَى مُنْتَهَاهُ

Dari ‘Abdullah ibn Mughaffal, ia berkata: Seseorang berkata kepada Nabi saw: “Wahai Rasulullah, demi Allah, sungguh saya mencintai anda.” Beliau bersabda kepadanya: “Perhatikan lagi apa yang kamu katakan.” Ia berkata lagi: “Demi Allah, sungguh saya mencintai anda,” diulang sampai tiga kali. Beliau bersabda: “Jika benar kamu mencintai saya, maka persiapkanlah tameng untuk kefakiran, sebab sungguh kefakiran itu lebih cepat menjadikan seseorang cinta kepadaku daripada air sungai yang mengalir deras ke hilir.” (Sunan at-Tirmidzi abwab az-zuhd bab ma ja`a fi fadllil-faqri no. 2350; al-Mustadrak al-Hakim kitab ar-riqaq no. 7944).

Maksud sabda Nabi saw di atas adalah buktikan cinta kepada Nabi saw itu dengan kesabaran ketika menghadapi kesusahan khususnya kefakiran atau kemiskinan (Tuhfatul-Ahwadzi).

Imam Muslim meriwayatkan, seorang shahabat bernama Rabi’ah ibn Ka’ab al-Aslami, saking cintanya kepada Nabi saw, bermalam di rumah Nabi saw dan menyediakan air untuk keperluan wudlu dan buang air Nabi saw. Suatu saat Nabi saw menyuruhnya untuk meminta. Tetapi ia hanya meminta untuk bisa menemani Nabi saw di surga.

قَالَ رَبِيعَةُ بْنُ كَعْبٍ الأَسْلَمِىُّ كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِى سَلْ. فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَوَغَيْرَ ذَلِكَ. قُلْتُ هُوَ ذَاكَ. قَالَ فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Rabi’ah ibn Ka’ab al-Aslami berkata: Aku bermalam bersama Rasulullah saw. Aku menyediakan air wudlu untuk keperluan buang airnya. Nabi saw lalu bersabda kepadaku: “Mintalah kamu!”Aku jawab: “Aku minta agar aku bisa menemaniu di surga.” Sabda Nabi saw: “Ada yang lain?” Aku jawab: “Hanya itu.” Nabi saw bersabda: “Maka bantulah aku untuk dirimu sendiri dengan memperbanyak sujud.” (Shahih Muslim bab fadllis-sujud wal-hatstsi ‘alaih no. 1122)

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim bahwa memperbanyak sujud di sana artinya “di dalam shalat”. Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Bulughul-Maram memasukkan hadits tersebut dalam bab shalat sunat. Artinya jika benar mencintai Nabi saw dan ingin menemaninya di surga, perbanyaklah shalat sunat.

Amal-amal ini semuanya tetap harus diupayakan untuk diwujudkan dengan maksimal untuk membuktikan bahwa cinta kepada Nabi saw bukan cinta palsu atau cinta buta, melainkan cinta sejati yang akan berujung kebahagiaan abadi. Amin.