Home > Akhlaq > Bahaya Update Status

Bahaya Update Status

Update status merupakan rutinitas masyarakat modern yang sudah tidak bisa dilepaskan dari media sosial. Demikian halnya posting, caption, tweet, share, dan semacamnya yang intinya berbagi info aktivitas seseorang kepada orang lain. Di samping banyak manfaatnya, update status semacam itu juga banyak madlarrat (bahaya)-nya. Maka setiap muslim wajib hanya membagikan statusnya yang bermanfaat, dan tidak boleh membagikan statusnya yang hanya akan mendatangkan madlarrat.

Bahaya pertama dari update status adalah membanggakan diri sendiri (fakhr) yang termasuk salah satu sifat sombong. Allah swt mengkritik sifat ini dalam salah satu ayatnya:

وَلَئِنۡ أَذَقۡنَٰهُ نَعۡمَآءَ بَعۡدَ ضَرَّآءَ مَسَّتۡهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتُ عَنِّيٓۚ إِنَّهُۥ لَفَرِحٞ فَخُورٌ  ١٠ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ  ١١

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu dariku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi berbangga diri. Kecuali orang-orang yang sabar dan mengerjakan amal-amal shalih; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. Hud [11] : 10-11. Dipertentangkannya sifat gembira dan berbangga diri dengan sabar dan amal shalih dalam dua ayat di atas menandakan bahwa kedua sifat itu tercela dan bukan termasuk amal shalih).

Al-Qur`an kemudian menyebut juga tafakhur (saling membanggakan diri). Artinya sikap seseorang yang fakhr akan memancing orang lain untuk berbuat yang sama, sehingga jadinya tafakhur dan berlanjut kemudian pada takatsur (saling berlomba memperbanyak duniawi) demi memuaskan obsesi tafakhur tersebut. Inilah yang disitir dalam ayat al-Qur`an:

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ  ٢٠

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak … Dan tidaklah kesenangan dunia itu melainkan kesenangan yang menipu  (QS. al-Hadid [57] : 20).

Ayat di atas dengan tegas mengkritik orang-orang yang menjadikan kehidupan dunia untuk tafakhur dan takatsur sebagai orang-orang yang tertipu dalam hal kesenangan. Dikiranya yang seperti itu menyenangkan padahal justru menyesatkan. Mereka tidak sadar bahwa mereka telah hidup tersesat, dan sang penyesat utamanya tiada lain adalah setan (QS. Luqman [31] : 33, Fathir [35] : 5, al-Hadid [57] : 14). Akibatnya manusia menjadi rentan dengan kebencian dan permusuhan (QS. al-Humazah [104]). Mereka juga menjadi lupa dalam hal berlomba-lomba mengejar akhirat (QS. at-Takatsur [102]). Program utama setan pun dalam hal ini telah terlaksana dengan sukses.

Padahal Nabi saw selalu mengingatkan umatnya untuk senantiasa tawadlu’ (merendah) yang ciri utamanya adalah tidak ada sikap membanggakan diri (fakhr) dan tidak berbuat sewenang-wenang kepada orang lain (bagha).

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Dan sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadlu’, sehingga salah seorang dari kalian tidak berbangga diri atas yang lainnya, dan salah seorang dari kalian tidak melampaui batas terhadap yang lainnya (Shahih Muslim kitab al-jannah wa shifati na’imiha bab as-shifat allati yu’rafu biha fid-dunya ahlul-jannah no. 7389).

Dalam hadits lain Nabi saw juga mengingatkan bahaya orang yang terlalu banyak berbicara, yang dalam konteks media sosial hari ini terlalu sering update status, posting, share, dan tweet hal-hal yang remeh temeh. Bahayanya sikap seperti itu akan mendatangkan sikap memperolok-olok orang lain sebagaimana ramai ditemukan di jagat media sosial. Dan itu semua adalah pertanda yang jelas dari sudah tertanamnya sifat sombong dalam diri tanpa pernah disadari.

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ

Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaqnya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat ialah tsartsarun (orang yang banyak bicara tidak bermanfaat), mutasyaddiqun (senang memperolok manusia), dan mutafaihiqun.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami sudah tahu apa itu tsartsarun dan mutasyaddiquna, tapi siapakah orang yang mutafaihiqun itu?” Nabi menjawab: “Orang-orang yang sombong.” (Sunan at-Tirmidzi kitab al-birr was-shilah bab ma’alil-akhlaq no. 2018).

Nabi saw mencontohkan, salah satu bentuk kesombongannya itu adalah sering menyatakan orang lain selain dirinya sesat dan celaka. Padahal menurut Nabi saw, dia sendirilah orang yang paling sesat dan celaka.

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

Jika ada orang berkata: “Orang-orang celaka.” Maka sesungguhnya ia orang yang paling celaka (Shahih Muslim kitab al-birr was-shilah wal-adab bab an-nahy ‘an qaul halakan-nas no. 6580. Maksud hadits ini adalah orang yang berkata seperti itu dengan sombong. Jika mengatakan hal tersebut dasarnya agama dan ilmu, sebagai sebuah ekspresi keprihatinan, maka itu tidak salah [Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim]).

Contoh orang yang senang membanggakan dirinya dalam al-Qur`an adalah Qarun. Al-Qur`an juga menyebutkan bahwa Qarun ini mempunyai followers yang selalu menyanjung dan membanggakan statusnya, di samping orang-orang yang tidak pernah tertarik dengan status sosialnya, yakni orang-orang yang berilmu.

۞إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوۡمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيۡهِمۡۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلۡعُصۡبَةِ أُوْلِي ٱلۡقُوَّةِ إِذۡ قَالَ لَهُۥ قَوۡمُهُۥ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ  ٧٦

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku aniaya terhadap mereka. Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri” (QS. al-Qashash [28] : 76).

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ فِي زِينَتِهِۦۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا يَٰلَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٖ  ٧٩ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ وَيۡلَكُمۡ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لِّمَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗاۚ وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ  ٨٠

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar” (QS. al-Qashash [28] : 79-80).

Dalil-dalil di atas harus menjadikan setiap muslim waspada dengan rutinitas update statusnya. Meski masih mungkin adanya niatan sebatas berbagi kebahagiaan, tetapi tetap meski diwaspadai juga terselip di dalamnya niatan membanggakan diri. Jadi harus sangat berhati-hati sekali.

Dikecualikan tentu jika update status itu bentuknya tawashau bil-haq wa tawashau bis-shabr (saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran), da’wah, amar ma’ruf nahyi munkar, berbagi informasi yang bermanfaat, dan hal-hal lainnya yang bermanfaat. Wal-‘Llahu a’lam.