Home > Akhlaq > Bahagia Karena Qana’ah 2

Bahagia Karena Qana’ah 2

Bahagia karena Qana’ah

Sesudah mengetahui bahagia akan dirasakan ketika hidup qana’ah (merasa cukup dengan yang halal), problem yang dihadapi adalah bagaimana menghadirkan qana’ah tersebut dalam hati. Sebab hati selalu saja condong pada nafsu memperkaya diri meski itu di luar kemampuan diri sendiri.

Sudah menjadi taqdir manusia menginginkan semua yang disenangi syahwat. Allah swt pun menghalalkannya karena itu perhiasan hidup manusia di dunia. Syaratnya satu saja: Tidak melupakan kesenangan yang jauh lebih abadi yakni akhirat.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ ١٤

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS. Ali ‘Imran [3] : 14).

Dalam ayat lain, Allah swt mengingatkan bahwa kesenangan hidup dunia itu seringkali menipu orang dari kesenangan hidup yang sebenarnya, yakni akhirat. Maka dari itu, walaupun bersenang-senang di dunia halal, tetapi jangan sampai menipu sehingga mengorbankan akhirat.

وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS. al-Hadid [57] : 20).

وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ لَهِيَ ٱلۡحَيَوَانُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٦٤

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui (QS. al-‘Ankabut [29] : 64).

Artinya, jika kesenangan itu memang ada di wilayah kemampuan kita, sah-sah saja untuk memilikinya, asalkan tidak mengendurkan “ibadah” kepada Allah swt. Akan tetapi jika sudah berada di luar kemampuan, maka tentu jangan melabrak nilai-nilai yang haram untuk kemudian dihalalkan. Jangan berani mengatakan yang konvensional dan riba itu sama saja dengan syari’ah. Sebab itulah tipuan berbahaya dari kesenangan dunia.

Dalam kelanjutan ayat Ali ‘Imran di atas itu sendiri, Allah swt menyebutkan bahwa hanya orang bertaqwa yang bisa mengendalikan syahwatnya untuk tidak keluar dari koridor akhirat. Orang bertaqwa dalam konteks ini adalah orang-orang yang memiliki lima kriteria, yaitu:

Pertama, sabar. Sebagaimana telah diuraikan di artikel sebelumnya, sabar dalam konteks ini adalah sabar dalam keterbatasan; senantiasa bersyukur dengan apa yang dimiliki meski tidak sebanyak yang dimiliki orang lain; menerima apa adanya yang mampu dihasilkan oleh tangan sendiri tanpa ada sedikit pun kegelisahan dan kegalauan atas apa yang diri sendiri tidak mampu mewujudkannya.

Kedua, shadiq; jujur, senantiasa menempuh jalan yang benar dan tidak memilih jalan yang salah. Untuk harta yang ingin dimilikinya ia hanya memilih jalan yang halal dan jauh dari syubhat. Tidak ada dalam kamus hidupnya suap, gratifikasi, penggelapan kwitansi/laporan keuangan, mengkhianati janji, mengatakan barang bagus padahal jelek, menjadi nasabah yang baik dari bank konvensional, menjadi mitra lembaga multifinance ribawi, menyertakan diri dalam asuransi konvensional, dan praktik-praktik haram atau syubhat lainnya.

Ketiga, qanit; tunduk dan ahli ibadah. Arti asal qanit/qunut itu sendiri adalah lama berdiri. Makanya i’tidal yang ditambah do’a lainnya disebut qunut. Maknanya kemudian berkembang menjadi luzûmutthâ’ah ma’al-khudlû’; senantiasa taat dan tunduk. Artinya tidak pernah lepas dari ketundukan, ketaatan, dan kegesitan beribadah.

Keempat, selalu berinfaq atau berbagi. Infaq orang yang bertaqwa tidak sebatas ketika berlimpah harta saja, ketika terbatas harta pun infaq tidak pernah terlewatkan karena memang sudah jadi amal rutinnya (QS. Ali ‘Imran [3] : 134). Orang yang rutin berinfaq ini pasti akan kaya hatinya, bebas dari bakhil, bebas dari takut sengsara, bebas dari takut harta berkurang, karena yakin Allah swt akan selalu memberi rizki dan ganti. Orang seperti ini pasti berbahagia/muflihun.

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. al-Hasyr [59] : 9).

Kelima, senantiasa beristighfar di waktu sahur. Di saat orang lain terlelap tidur ia memilih untuk menghisab sendiri dosa dan kesalahannya; dengan penuh kekhusyuan, di akhir malam yang hening. Ia menyadari bahwa dosa itu salah satu penghambat rizki. Maka semaksimal mungkin dosa-dosa itu harus dibersihkan dari dirinya dengan istighfar. Ia memilih waktu sahur karena tahu bahwa hanya di waktu itulah Allah swt menyengajakan diri menyapa hamba-hamba-Nya dengan turun langsung dari ‘Arsy di atas langit ketujuh ke langit pertama yang berada paling bawah. Hanya pada saat sahur itulah Allah swt memanggil hamba-hamba-Nya:

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Siapa yang ingin berdo’a kepada-Ku, lalu Aku pasti mengabulkannya? Siapa yang ingin meminta kepada-Ku lalu Aku pasti memberinya? Siapa yang ingin beristighfar kepada-Ku, lalu Aku pasti mengampuninya?” (Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab ad-du’a fis-shalat min akhiril-lail no. 1145; Shahih Muslim kitab shalat al-musafirin bab at-targhib fid-du’a wadz-dzikri fi akhiril-lail wal-ijabah fih no. 1808)

Hati orang yang bertaqwa tidak mungkin membiarkan dirinya terlelap oleh lelahnya mata. Ia akan selalu memenuhi panggilan suci tersebut dengan kesadaran yang sesungguhnya. Bangun di awal waktu shubuh sudah bukan lagi problem besar baginya, sebab hatinya sudah terlalu takut kepada-Nya jika panggilan-Nya di setiap sahur selalu pura-pura tidak didengar oleh hatinya.

Kelima amal di atas itulah yang diabadikan Allah swt dalam salah satu firman-Nya:

ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٦ ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡمُنفِقِينَ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ ١٧

(Yaitu) orang-orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (QS. Ali ‘Imran [3] : 16-17).

Selain lima amal di atas, hadits setidaknya menginformasikan tiga amal lainnya yang harus ditempuh guna mewujudkan qana’ah dalam hati. Semuanya mesti diperhatikan agar tidak ada lagi keluh kesah dan gelisah yang bersemayam di hati akibat keinginan yang selalu tinggi namun apa daya tangan tak sampai.

Wal-‘Llahu a’lam

(bersambung).