Ramadlan

Antara Mujahadah dan Jihad

Antara Mujahadah dan Jihad

Jihad sebagai amal puncak setiap muslim, keberhasilannya sangat ditentukan oleh kualitas mujahadah masing-masing individunya. Jika mujahadahnya baik maka akan baik pula jihadnya. Jika mujahadahnya jelek maka akan jelek pula jihadnya. Shaum Ramadlan dengan paket ibadah Ramadlannya adalah sarana mujahadah untuk melahirkan mental-mental mujahid yang tangguh. Sukses mujahadah di bulan Ramadlan akan berdampak pada suksesnya melahirkan generasi mujahid tangguh. Kegagalan mujahadah di bulan Ramadlan akan tampak pada generasi yang tidak bermental mujahid tangguh.

Jihad sebagai amal puncak setiap muslim banyak disinggung dalam al-Qur`an, di antaranya:

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَعۡلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ مِنكُمۡ وَيَعۡلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar (QS. Ali ‘Imran [3] : 142).

Dalam QS. al-‘Ankabut [29] : 1-11 Allah swt menyebutkan jihad sebagai ujian untuk menentukan mu`min dan munafiqnya seseorang yang mengaku beriman. Demikian halnya dalam QS. Muhammad [47] : 20-31. Maka dari itu Allah swt sangat murka kepada mereka yang mengaku beriman tetapi tidak membuktikan pengakuannya tersebut dalam barisan jihad (QS. as-Shaff [61] : 2-4). Mereka yang mengaku beriman tetapi masih sering tidak ikut jihad, Allah swt nyatakan batal pengakuan imannya. Mereka baru sebatas islam, belum sampai iman (QS. al-Hujurat [49] : 14-15). Mereka yang selalu minta izin untuk tidak ikut jihad di jalan Allah swt ditegaskan sebagai orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir (QS. at-Taubah [9] : 45).

Batalnya pengakuan keimanan mereka karena enggan terjun di medan jihad disebabkan kecintaan pada dunia yang berlebih dengan menomorduakan akhirat. Allah swt sering menegurnya dalam al-Qur`an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ أَرَضِيتُم بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ  ٣٨

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit (QS. at-Taubah [9] : 38. Ayat semakna difirmankan Allah swt dalam QS. an-Nisa` [4] : 77).

Bahkan yang sudah ikut terjun jihad di medan perang pun adakalanya gagal di medan perang karena kecintaan pada dunia masih bersemayam di dada. Kasus perang Uhud adalah salah satu contohnya.

…حَتَّىٰٓ إِذَا فَشِلۡتُمۡ وَتَنَٰزَعۡتُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِ وَعَصَيۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنۡيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنۡيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۚ وَلَقَدۡ عَفَا عَنكُمۡۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٥٢

…Sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman (QS. Ali ‘Imran [3] : 152).

Pada ayat 155-nya Allah swt menyebutkan bahwa pasukan kaum muslimin yang berpaling pada perang Uhud hakikatnya masih terpedaya oleh setan. Meski demikian Allah swt sudah memaafkan mereka semua.

Dalam hal ini para ulama menekankan pentingnya mujahadah untuk jihad. Idealnya sudah lulus mujahadah dahulu sebelum jihad. Tetapi ketika jihad sudah ada di depan mata, maka setiap muslim harus mampu mujahadah atas dirinya sendiri, agar jihad tidak terganggu godaan dunia dan setan.

Mujahadah sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar:

كَفُّ النَّفْس عَنْ إِرَادَتهَا مِنْ الشُّغْلِ بِغَيْرِ الْعِبَادَةِ

Menahan dorongan jiwa dari keinginan menyibukkan diri dengan hal selain ibadah (Fathul-Bari bab man jahada nafsahu fi tha’atil-‘Llah).

Imam Ibn Bathal menjelaskan, mujahadah itu caranya adalah dengan menahan diri dari maksiat, perkara-perkara syubhat, dan dari memperbanyak diri dalam hal syahwat yang mubah. Ibn Hajar menambahkan, karena seringnya dekat dengan yang mubah akan membawa pada syubhat dan otomatis tidak aman dari yang haram.

Imam al-Qusyairi menjelaskan: Jiwa itu memiliki dua sifat, yaitu senang pada yang syahwat dan enggan berbuat ta’at. Maka mujahadah adalah melawan kedua sifat tersebut.

Ulama lainnya menjelaskan: Jihad nafsu (mujahadah) itu termasuk jihad melawan musuh. Dan musuh itu sendiri ada tiga: (1) Setan, (2) Nafsu, dan (3) Musuh. Pemimpinnya adalah setan. Ia yang mengarahkan nafsu untuk senang pada hal-hal yang enak sehingga jatuh pada yang haram. Maka siapa yang melawan nafsunya berarti ia telah mengalahkan setan. Orang yang kuat dalam hal ini pasti akan mampu melawan musuh. Jihad nafsu adalah jihad batin, sementara jihad melawan musuh adalah jihad zhahir.

Jihad nafsu itu sendiri ada empat tingkatan: (1) Memaksanya untuk belajar agama. (2) Memaksanya untuk mengamalkan ilmu agama. (3) Memaksanya untuk mengajari orang yang belum tahu. (4) Berdakwah pada tauhid dan otomatis siap melawan para penentangnya (uraian di atas disadur dari Fathul-Bari bab man jahada nafsahu fi tha’atil-‘Llah).

Intinya mujahadah adalah mendisiplinkan jiwa dari dorongan syahwat dunia agar mampu jihad melawan musuh manusia. Selama mujahadah tidak dijalankan dengan baik maka selama itu pula jihad tidak akan pernah diamalkan dengan baik. Akan selalu terganggu oleh syahwat dunia, kekayaan, dan kekuasaan.

Syari’at ibadah yang Allah swt turunkan semuanya menjadi sarana mujahadah; shalat, zakat, shaum, dan haji. Di bulan Ramadlan, tiga amal iadah mujahadah tersedia. Shalat wajib dan shalat malam yang berkualitas harus dimanfaatkan maksimal untuk mujahadah. Jika shalat malamnya masih belum berkualitas maka pertanda mujahadahnya lemah untuk tidak dikatakan tidak ada sama sekali. Allah swt mengingatkan dalam salah satu firman-Nya:

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا  ٢٦ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ يُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَآءَهُمۡ يَوۡمٗا ثَقِيلٗا  ٢٧

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat) (QS. al-Insan [76] : 26-27).

Ayat di atas menginformasikan bahwa mereka yang enggan shalat malam lama berarti sama dengan orang kafir yang masih gila dunia sehingga malas beramal akhirat. Ayat semakna terdapat juga dalam QS. al-Qiyamah [75] : 16-21 yang mengisyaratkan orang-orang yang gila dunia pasti melalaikan akhirat, di antaranya mengabaikan al-Qur`an dan kalaupun membacanya tergesa-gesa karena ingin cepat selesai. Maka shalat malam harus dimaksimalkan sebagai sarana mujahadah untuk mendisiplinkan jiwa dari nafsu-nafsu duniawi.

Shaum demikian halnya, merupakan sarana mujahadah untuk mengerem nafsu makan yang ingin selalu nikmat dan nafsu untuk bersenang-senang. Hanya orang-orang kafir saja yang pantas dengan akhlaq rendah ini (QS. al-Hijr [15] : 2-3, Muhammad [47] : 12, Muhammad [47] : 12, dan al-Mursalat [77] : 46). Maka jika shaum Ramadlan dijalankan dengan tetap memelihara nafsu makan nikmat dan bersenang-senang, hilanglah ruh mujahadahnya. Shaum yang dijalankan tidak akan pernah mampu mengerem syahwat duniawi.

Memperbanyak shadaqah adalah mujahadah lainnya untuk menghilangkan nafsu harta. Nabi saw menjalankannya satu paket dengan tadarus setiap malam tanpa pernah terlewat. Sengaja melewatkan tadarus di malam hari dan di siang harinya malah memperbanyak harta untuk bekal lebaran, pertanda tidak ada mujahadah sama sekali.

Puncaknya di 10 malam terakhir dimana Nabi saw mengencangkan tali sarungnya dan menghidupkan malamnya serta membangunkan keluarganya. Sebuah mujahadah tingkat tinggi untuk tidak kalah oleh nafsu duniawi memperbanyak harta, menyibukkan diri dengan kesibukan dunia, dan menikmati tidur malam dengan pulas.

Pantas saja Nabi saw mensyaratkan imanan wa-htisaban bagi mereka yang layak mendapatkan ampunan dosa melalui ibadah-ibadah di bulan Ramadlan, sebab semuanya menuntut mujahadah, bukan hanya asal-asalan atau formalitas.

Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.