Home > Ibadah > ‘Ali Dimarahi Nabi ﷺ Malam-malam

‘Ali Dimarahi Nabi ﷺ Malam-malam

Ketegasan Nabi ﷺ dalam mendidik keluarganya tidak hanya kepada anak dan istrinya saja atau anaknya sebelum menikahnya, tetapi juga kepada menantunya dan anaknya yang sudah menikah. Contoh kasusnya ‘Ali ibn Abi Thalib dan Fathimah radliyal-‘Llahu ‘anhuma yang pernah dimarahi malam-malam hanya karena keduanya absen dari shalat malam. Ini juga sebagai sebuah petunjuk bahwa tanggung jawab seorang lelaki dalam hal memerintahkan shalat kepada keluarganya termasuk dengan shalat malamnya, bukan hanya shalat wajibnya saja.

Mustahil ada seorang muslim yang tidak mengenal namanya; ‘Ali ibn Abi Thalib (23 SH-40 H/600-661 M). Ia adalah saudara sepupu Nabi saw yang diasuh oleh beliau dari sejak kecil dan merupakan anak pertama yang bersyahadat masuk Islam. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya, Fathimah ra. ‘Ali ra terkenal dengan keberaniannya sehingga ia selalu dipercaya oleh Nabi saw untuk menjadi komandan perang di beberapa peperangan. Ia juga terkenal dengan kefaqihannya dan kemahirannya dalam berbahasa.

Ada satu kejadian menarik yang diceritakan oleh ‘Ali ra sendiri untuk dijadikan ‘ibrah oleh umat Islam. Pada suatu malam, kebetulan ia dan istrinya tidur terlelap sehingga tidak shalat malam. Nabi saw yang sangat perhatian dengan shalat sunat yang paing istimewa ini kemudian datang dan membangunkan mereka berdua:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِيِّ لَيْلَةً فَقَالَ أَلَا تُصَلِّيَانِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللَّهِ فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا فَانْصَرَفَ حِينَ قُلْنَا ذَلِكَ وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخِذَهُ وَهُوَ يَقُولُ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Dari ‘Ali ibn Abi Thalib, bahwasanya Rasulullah saw mendatanginya dan Fathimah binti Nabi malam-malam, sambil menegur: “Kalian berdua tidak shalat malam!?” Aku (terbangun dan) menjawab: “Wahai Rasulullah, ruh kami ada di tangan Allah. Jika Dia berkehendak membangunkan kami, pasti Dia akan membangunkan kami.” Beliau langsung berpaling tanpa menjawab sedikit pun. Sambil memukul pahanya terdengar beliau membacakan ayat: “Manusia memang banyak sekali membantah [QS. al-Kahfi [18] : 54].” (Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab tahridlin-Nabi ‘ala qiyamil-lail no. 1127).

Kata tharaqahu artinya al-ityan bil-lail; mendatangi malam-malam. Jadi kalau dalam hadits di atas ‘Ali menyebutkannya tharaqahu lailatan itu adalah semacam ta`kid bahwa Nabi saw benar-benar mendatanginya pada malam yang sudah sangat larut atau bahkan sudah dini hari, sebagaimana biasanya beliau shalat malam (Fathul-Bari).

Dalam sanad lain disebutkan bahwa Nabi saw sampai dua kali membangunkan ‘Ali dan Fathimah ra tersebut. Tetapi ketika ‘Ali ra malah berdalih, pada saat itulah Nabi saw memarahinya:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَعَلَى فَاطِمَةَ مِنَ اللَّيْلِ، فَأَيْقَظَنَا لِلصَّلاةِ، قَالَ: ثُمَّ رَجَعَ إِلَى بَيْتِهِ فَصَلَّى هَوِيًّا مِنَ اللَّيْلِ، قَالَ: فَلَمْ يَسْمَعْ لَنَا حِسًّا، قَالَ: فَرَجَعَ إِلَيْنَا، فَأَيْقَظَنَا وَقَالَ: قُومَا فَصَلِّيَا. قَالَ: فَجَلَسْتُ وَأَنَا أَعْرُكُ عَيْنِي وَأَقُولُ: إِنَّا وَاللهِ مَا نُصَلِّي إِلا مَا كُتِبَ لَنَا، إِنَّمَا أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللهِ، فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا. قَالَ: فَوَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ يَقُولُ، وَيَضْرِبُ بِيَدِهِ عَلَى فَخِذِهِ: مَا نُصَلِّي إِلا مَا كُتِبَ لَنَا، مَا نُصَلِّي إِلا مَا كُتِبَ لَنَا {وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Rasulullah saw masuk rumahku dan Fathimah malam-malam lalu membangunkan kami untuk shalat. Beliau lalu kembali lagi ke rumahnya dan shalat malam beberapa saat. Ketika beliau tidak mendengar gerak-gerak kami, beliau kembali lagi ke rumah kami dan membangunkan kami. Kata beliau: “Bangunlah kalian dan shalatlah!” Kata ‘Ali: “Aku pun duduk. Sambil mengggosok mata aku berkata: Sesungguhnya kami itu, demi Allah, tidak shalat melainkan sesuai yang ditetapkan Allah. Ruh kami ada pada genggaman Allah. Jika Dia berkehendak membangunkan kami, ia pasti akan membangunkan kami.” Kata ‘Ali, Rasulullah saw langsung berbalik. Sambil menepukkan tangannya pada pahanya beliau bersabda: “Kami tidak shalat melainkan sesuai yang ditetapkan Allah! Kami tidak shalat melainkan sesuai yang ditetapkan Allah! Dasar manusia banyak sekali membantahnya!” (Musnad Ahmad bab musnad ‘Ali ibn Abi Thalib no. 705).

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan, sebenarnya dalih ‘Ali tentang “ruh kami ada pada genggaman Allah, jika Dia berkehendak membangunkan kami, ia pasti akan membangunkan kami”, tidak terlalu salah karena sesuai dengan firman Allah swt dalam QS. az-Zumar [39] : 42. Akan tetapi ‘Ali ra salah memahami dan menempatkannya, karena dalil digunakan untuk berdalih mengamalkan satu perbuatan yang jelek. Pendalilan semacam ini jelas sesat, sehingga pantas jika Nabi saw memarahinya.

Dalam hal ini Ibn Baththal menjelaskan:

فِيهِ فَضِيلَة صَلَاة اللَّيْل وَإِيقَاظ النَّائِمِينَ مِنْ الْأَهْل وَالْقَرَابَة لِذَلِكَ

Dalam hadits ini terkandung pelajaran keutamaan shalat malam dan anjuran membangunkan orang-orang yang tidur, baik itu keluarga atau kerabat dekat, untuk shalat malam tersebut (Fathul-Bari).

Sementara Imam at-Thabari menjelaskan:

لَوْلَا مَا عَلِمَ النَّبِيّ ﷺ مِنْ عِظَم فَضْل الصَّلَاة فِي اللَّيْل مَا كَانَ يُزْعِج اِبْنَته وَابْن عَمّه فِي وَقْت جَعَلَهُ الله لِخَلْقِهِ سَكَنًا، لَكِنَّهُ اِخْتَارَ لَهُمَا إِحْرَاز تِلْكَ الْفَضِيلَة عَلَى الدَّعَة وَالسُّكُون اِمْتِثَالًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى (وَأْمُرْ أَهْلك بِالصَّلَاةِ) الْآيَة

Seandainya Nabi saw tidak mengetahui besarnya pahala shalat malam, pasti beliau tidak akan membangunkan putrinya dan putra pamannya (menantunya) pada waktu yang Allah ciptakan untuk beristirahat makhluknya. Akan tetapi beliau lebih memilih untuk menjaga fadlilah tersebut daripada membiarkan mereka menikmati istirahat dan ketenangan, sebagai pemenuhan atas firman Allah ta’ala: Dan perintahkanlah keluargamu shalat…sampai akhir ayat (Fathul-Bari).

Ayat yang dimaksud oleh Imam at-Thabari adalah:

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡ‍َٔلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ  ١٣٢

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa (QS. Thaha [20] : 132).

Artinya, maksud “memerintahkan shalat” dalam ayat di atas, menurut Imam at-Thabari, bukan hanya shalat wajib, tetapi juga shalat malam. Dan keluarga yang dimaksud bukan keluarga inti saja; anak dan istri, melainkan juga anak yang sudah berumah tangga dan menantunya.

Pemahaman makna ayat seperti ini juga dikemukakan oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya. Al-Hafizh menguatkan kesimpulan makna dari ayat di atas dengan menuliskan sebuah atsar dari ‘Umar ibn al-Khaththab:

عَنْ زَيْدِ بْنِ أسلم عن أبيه: أن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَبِيتُ عِنْدَهُ أَنَا وَيَرْفَأُ، وَكَانَ لَهُ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي فِيهَا، فَرُبَّمَا لَمْ يَقُمْ فَنَقُولُ: لَا يَقُومُ اللَّيْلَةَ كَمَا كَانَ يَقُومُ، وَكَانَ إِذَا اسْتَيْقَظَ أَقَامَ -يَعْنِي أَهْلَهُ-وَقَالَ: {وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Dari Zaid ibn Aslam, dari ayahnya, bahwasanya ‘Umar ibn al-Khaththab bermalam di rumah ayahnya dan beristirahat, demikian juga saya. Ia punya satu waktu di malam hari untuk shalat malam. Jarang sekali ia tidak bangun sehingga kami berkata: “Ia tidak shalat malam ini sebagaimana biasanya.” Apabila bangun, ia membangunkan juga keluarganya sambil membaca: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya (Tafsir Ibn Katsir).

Wal-‘Llahu a’lam bis-shawab.