Home > Konsultasi Islam > Sosial Politik > Agustusan Sama dengan Muludan

Agustusan Sama dengan Muludan

Agustusan Sama dengan Muludan

Setiap kali bulan Agustus tiba, sekolah-sekolah selalu sibuk menyambutnya dengan perayaan perlombaan. Anehnya, sekolah yang membid’ahkan Muludan juga turut meramaikan peringatan HUT RI ini. Bukankah Agustusan itu sama saja dengan Muludan? 08191019xxxx

Dilihat dari berbagai aspeknya memang susah dibedakan antara Agustusan dan Muludan. Keduanya sama-sama merayakan hari kelahiran atau hari ulang tahun (HUT). Yang pertama hari kelahiran Republik Indonesia, sedang yang kedua hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Kedua-duanya juga diresmikan hari perayaannya oleh Negara dan Negara pun terlibat aktif dalam merayakannya. Cuma memang anehnya, mengapa pihak-pihak yang seringkali memvonis bid’ah dlalalah pada Muludan malah banyak yang melegalkan perayaan Agustusan.

Jika alasan yang sering dikemukakan karena Agustusan bukan ritual ibadah, sementara muludan ritual ibadah, bukankah KH. Ali Mustafa Yakub rahimahul-‘Llah sudah berulang kali menegaskan jangan menilai Muludan ibadah mahdlah, melainkan hanya sekedar perayaan duniawi seperti halnya Agustusan. Sebab memang tidak ada dalilnya dan hanya sebagai tradisi yang baik saja. Jadi seyogianya, jika Muludan dinyatakan haram tanpa ada toleransi, maka pada Agustusan pun semestinya demikian.

Bahkan kalau mau dibandingkan secara jujur, sebenarnya lebih baik Muludan daripada Agustusan. Dalam peringatan Muludan fokus kegiatannya selalu tertuju pada meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw dan kegiatannya pun selalu Islami. Berbeda dengan Agustusan yang seringkali diisi oleh pesta rakyat yang tidak ada membangkitkan cinta Islamnya sama sekali, melainkan sebatas hura-hura dan main-main semata.

Sebagaimana sudah sering dibahas di bulletin ini, baik perayaan Muludan atau Agustusan, kedua-duanya disikapi berbeda oleh para ulama. Ada ulama yang mengharamkan secara mutlak karena tasyabbuh (menjiplak ritual) orang kafir dan mubadzir harta pada hal-hal yang tidak disyari’atkan, di samping ada juga yang banyak diisi dengan maksiatnya; ada juga yang membolehkan karena akan membangkitkan semangat berjuang membela Nabi saw—pada Muludan—dan Negara—pada Agustusan, selain memperat silaturahmi atau persatuan bangsa.

Perbedaan tersebut bertitik tolak pada kecenderungan metode pendekatan; apakah tasyaddud (memperketat dan berhati-hati menjauhi yang haram atau bid’ah) ataukah tasahul (memperlonggar dan toleran pada hal-hal yang sekiranya ada maslahatnya)? Bagi yang tasyaddud maka otomatis baik Muludan atau Agustusan harus dijauhi karena rentan pada yang haram dan bid’ah. Hal yang sama tidak berlaku pada yang tasahul karena merasa ada maslahat di balik Muludan atau Agustusan. Yang aneh adalah mengapa dalam menyikapi Muludan tasyaddud, tetapi dalam menyikapi Agustusan tasahul. Ini adalah inkonsisten alias tidak istiqamah.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama termasuk pada kategori syubhat (samar/tidak jelas). Disebut halal, tidak jelas halalnya karena ada yang mengharamkan. Disebut haram, tidak jelas haramnya karena ada yang menghalalkan. Masing-masing yang menghalalkan dan mengharamkan tersebut memiliki dalil-dalil dan hujjah-hujjah yang kuat. Hanya Nabi saw sudah mengingatkan:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ

Siapa yang menjauhkan diri dari perkara yang syubhat, sesungguhnya ia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Tetapi siapa yang kena pada perkara yang syubhat, maka ia telah kena pada perkara yang haram.” (Shahih Muslim kitab al-musaqah bab akhdzil-halal wa tarkis-syubuhat no. 4178). Wal-‘Llahu a’lam.