Home > Kontemporer > Agar Batu Akik Tidak Haram

Agar Batu Akik Tidak Haram

Agar Batu Akik Tidak Haram

Minat masyarakat pada batu akik akhir-akhir ini meningkat pesat. Banyak di antaranya yang mengabaikan aturan syari’at sehingga terjerumus pada hal-hal yang diharamkan.

Minat pada perhiasan batu mulia seperti batu akik ini, menurut Zainal Arifin seorang pedagang batu mulia di salah satu pusat perbelanjaan Kota Bandung, hanya ada di Indonesia saja. Sebab di mancanegara, batu-batu mulia yang bernilai tinggi itu adalah mutiara, permata, berlian, intan, safir, zamrud, dan semacamnya. Batu-batu mulia lokal yang berharga mahal di Indonesia ini murni produk budaya Indonesia. Kalaupun masyarakat mancanegara menghargainya mahal itu berkat apresiasi yang tinggi dari masyarakat Indonesia juga. Zainal misalnya menyebutkan batu-batu mulia khas Indonesia itu di antaranya batu bergambar, Bacan, Pancawarna, Aceh, Raflesia Bengkulu, dan batu Garut.

 

Haram Tabdzir

Batu akik yang dipakai sebagai perhiasan semata, hukumnya mubah atau halal. Syaratnya tidak berlebih-lebihan atau mubadzdzir. Kriteria berlebihan/tabdzir itu melebihi pengeluaran yang wajib dan sunat, yakni untuk nafkah keluarga, zakat, infaq, dan shadaqah. Jika yang mubah sudah mengalahkan yang wajib dan sunat, maka ini masuk kategori tabdzir.

Kehalalan perhiasan difirmankan Allah swt sebagai berikut: Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui (QS. al-A’raf [7] : 32).

Sementara heharaman tabdzir, difirmankan Allah swt sebagai berikut:

وَءَاتِ ذَا ٱلۡقُرۡبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلۡمِسۡكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (tabdzir). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (QS. al-Isra` [17] : 26-27).

Tampak jelas kriteria tabdzir di atas adalah orang yang mengeluarkan hartanya di luar pemberian kepada keluarga (nafkah), keluarga dekat (santunan/hibah), orang miskin dan orang yang habis bekal di perjalanan (zakat/infaq/shadaqah). Jika untuk membeli batu akik berani mengeluarkan jutaan, puluhan, bahkan ratusan juta rupiah, padahal untuk memberi nafkah kepada keluarga, untuk zakat, infaq dan shadaqah tidak sebesar itu, maka itu berarti tabzir, kawannya setan, dan haram.

 

Haram Mistifikasi

Tidak dapat dipungkiri juga, sebagian orang menggemari batu akik karena diyakini ada khasiat mistisnya. Konon batu akik bisa memperlancar rizki, meningkatkan kemampuan komunikasi, mengurangi stres, menenangkan pikiran, meningkatkan motivasi, dan sebagainya. Jika benda-benda mati sudah diyakini ada unsur-unsur mistiknya, maka ini jelas syirik dan haram. Shahabat Imran bin Hushain berkata:

إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا هَذِهِ قَالَ مِنْ الْوَاهِنَةِ قَالَ أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

Nabi saw pernah melihat lengan seorang lelaki yang memakai gelang dari kuningan. Lalu beliau bersabda: “Celakalah kamu, apa maksud dari gelang ini?” Orang tersebut menjawab: “Ini untuk mengobati penyakit wahinah (sejenis penyakit di tangan)!” Beliau bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya benda ini tidak akan menambahmu melainkan kesengsaraan, lepaskanlah ia darimu! Sebab kalau kamu mati dan benda itu masih melekat padamu, maka kamu tidak akan beruntung selamanya.” (Sunan Ibn Majah kitab at-thibb bab ta’liqit-tama`im no. 3531 dan Musnad Ahmad no. 19149).

Dalam riwayat lain Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللهُ لَهُ

“Siapa menggantungkan tamimah (benda mistis/jimat untuk mendapatkan kesempurnaan) niscaya Allah tidak akan menyempurnakannya untuknya. Dan siapa mengantungkan wada’ah (sejenis rumah kerang/siput untuk menolak bala) maka Allah akan menelantarkannya.” (Musnad Ahmad no. 16763, al-Mustadrak al-Hakim no. 7609, Shahih Ibn Hibban no. 6086).

Dalam kesempatan lain, Uqbah ibn Amir Al-Juhani menceritakan, ada serombongan orang datang menemui Rasulullah saw, lalu mereka dibai’at oleh beliau. Akan tetapi beliau hanya membai’at sembilan orang dari mereka dan tidak membai’at satu orang. Para shahabat pun bertanya:

يَا رَسُولَ اللهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا قَالَ إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ وَقَالَ مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Wahai Rasulullah, engkau bai’at sembilan orang dan engkau biarkan orang ini!” Beliau menjawab: “Orang itu mengenakan jimat/benda mistis.” Tidak lama kemudian beliau memutuskan benda mistis orang tersebut. Kemudian beliau membai’atnya dan bersabda: “Ssapa yang menggantungkan jimat/benda mistis maka ia telah berbuat syirik.” (Musnad Ahmad no. 16781 dan al-Mustadrak al-Hakim no. 7621).

 

Haram Cincin Emas

Nabi saw disebutkan dalam beberapa riwayat yang shahih menggunakan cincin dari perak. Pada asalnya Nabi saw menggunakan cincin dari emas, akan tetapi kemudian beliau mengharamkannya untuk laki-laki

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ نَهَى عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw: “Nabi saw melarang cincin dari emas.” (Shahih al-Bukhari kitab al-libas bab khawatim adz-dzahab no. 5863-5864).

حُرِّمَ لِبَاسُ الحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

Diharamkan pakaian sutera dan emas untuk kaum lelaki umatku dan dihalalkan untuk kaum wanitanya (Sunan at-Tirmidzi kitab abwab al-libas bab ma ja`a fil-harir wadz-dzahab no.1720. Kata libas (pakaian) dalam hadits di atas bermakna pakaian dan perhiasan, tidak termasuk wadah dan barang-barang yang tidak dipakai di badan).

Cincin perak yang dimaksud, menurut Anas ibn Malik, mata cincinya berasal dari Habasyah. Maksudnya, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, mata cincin itu berupa batu yang berasal dari Habasyah, dikenal dengan nama batu ‘aqiq atau jaz’. Atau mungkin juga yang dimaksud adalah warna bagian mata cincin itu hitam seperti orang Habasyah.

كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنْ وَرِقٍ وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا

“Cincin Rasulullah saw terbuat dari perak. Dan mata cincinnya dari Habasyah.” (Shahih Muslim kitab al-libas waz-zinah bab fi khatamil-wariq fashshuhu habasyiyyan no. 5607)

Terkait dengan riwayat berikutnya yang menyebutkan bahwa mata cincin Nabi saw itu ada ukirannya “Muhammad Rasulullah”, menurut Imam an-Nawawi, bisa jadi Nabi saw memiliki dua cincin; cincin yang ada batu ‘aqiq-nya dan cincin perak murni yang ada ukiran “Muhammad Rasulullah”.

Berdasarkan keterangan dari Ibn ‘Umar dan Anas ibn Malik, pada masa-masa awal, Nabi saw menggunakan cincin dari emas dengan ukiran “Muhammad Rasulullah”. Orang-orang pun kemudian turut menggunakan cincin juga. Ketika mengetahui hal tersebut, Nabi saw kemudian tidak menggunakan lagi cincinnya dan mengatakan: “Saya tidak akan menggunakannya lagi selama-lamanya.” Akan tetapi di masa-masa akhir, ketika Nabi saw hendak mengirimkan surat ke berbagai penguasa negeri-negeri, Nabi saw diberitahu bahwa surat tersebut tidak akan dibaca kecuali jika ada stempelnya. Maka Nabi saw pun membuat lagi cincin dari perak untuk stempel dengan ukiran “Muhammad Rasulullah”. Ketiga kata itu diukir di tiga baris berbeda; satu baris “Allah”, baris kedua “Rasul”, dan baris ketiga “Muhammad”. Cincin itu digunakan juga oleh Abu Bakar, ‘Umar, sampai ‘Utsman. Sebab di masa ‘Utsman cincin itu jatuh dan hilang ke dalam sumur Aris. Para pembantu ‘Utsman mencarinya secara bergantian selama tiga hari, tetapi tidak menemukannya (Shahih al-Bukhari kitab al-libas bab khatamil-fidldlah no. 5866; bab naqsyul-khatam no. 5872; bab hal yuj’alu naqsyul-khatam tsalatsah asthur no. 5878).

Inti kandungan dari riwayat-riwayat di atas adalah Nabi saw membolehkan lelaki memakai cincin dari perak. Cincin tersebut boleh juga ditempeli batu seperti batu ‘aqiq. Asalkan bukan dari emas. Sebab perhiasan emas hanya halal bagi perempuan dan haram bagi lelaki.

 

Makruh di Telunjuk dan Jari Tengah

Di samping itu yang harus diperhatikan juga, bagi lelaki makruh hukumnya mengenakan cincin di jari telunjuk dan jari tengah. Ini berdasarkan pernyataan ‘Ali bahwa Nabi saw melarangnya mengenakan cincin pada jari tengah dan jari di sampingnya (Shahih Muslim bab an-nahy ‘anit-takhattum fil-wustha wal-lati taliha no. 5614). Dalam riwayat an-Nasa`i disebutkan jelas jari telunjuk dan jari tengah

قَالَ عَلِىٌّ نَهَانِي نَبِيُّ اللهِ ﷺ عَنِ الْخَاتَمِ فِي السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

‘Ali berkata: “Nabi melarangku memakai cincin pada jari telunjuk dan jari tengah.” (Sunan an-Nasa`i bab an-nahy ‘anil-khatam fis-sababah no. 5211 dan bab maudli’ul-khatam no. 5286).

Anas sendiri menyebutkan Nabi saw biasa memakai cincin di jari manis tangan kirinya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ خَاتَمُ النَّبِىِّ ﷺ فِى هَذِهِ. وَأَشَارَ إِلَى الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

Dari Anas, ia berkata: “Cincin Nabi saw itu dipakainya di sini.” Sambil berisyarat ke jari manis dari tangan kirinya (Shahih Muslim bab fi labsil-khatam fil-khinshir no. 5610).

Riwayat lainnya menyebutkan kadang di tangan kanan. Menurut Imam an-Nawawi larangan ini tidak sampai haram, hanya makruh, sebab tidak tegas disebutkan haram, larangannya tidak keras, dan tidak ada ancaman siksa. Larangan ini jelasnya juga hanya berlaku bagi lelaki, sebab ‘Ali tegas menyebutkan “melarangku” tertuju pada dirinya yang laki-laki. Di samping itu, bagi perempuan ada keleluasaan untuk memakai cincin di jari mana saja (Syarah Shahih Muslim). Wal-‘Llahu a’lam