Akhlaq

Abul-Masakin ra Duplikat Rasulullah ﷺ

Abul-Masakin ra Duplikat Rasulullah ﷺ

Di antara sekian shahabat sekaligus kerabat, Ja’far ibn Abi Thalib ra adalah yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ. Kakak ‘Ali ibn Abi Thalib ra yang lebih tua 10 tahun ini dalam perawakan dan penampilannya sangat mirip Rasulullah ﷺ. Demikian halnya dalam akhlaqnya, khususnya perhatian kepada faqir miskinnya, Ja’far menduplikat akhlaq Rasulullah ﷺ, sehingga ia diberi panggilan oleh Rasulullah ﷺ Abul-Masakin; bapaknya orang-orang miskin.

Pada saat Nabi saw dan para shahabat melaksanakan ‘umrah qadla pada tahun 7 H setelah setahun sebelumnya terhalang oleh perjanjian Hudaibiyyah, ketika bersiap-siap hendak pulang dari Makkah tiba-tiba putri Hamzah—saat itu Hamzah sudah wafat pada perang Uhud tahun 3 H—berlari mendekat rombongan sambil memanggil-manggil: “Wahai pamanku, wahai pamanku.” ‘Ali ra pun kemudian merangkulnya dan menitipkannya kepada Fathimah: “Tolong jaga, ini adalah putri pamanmu.” Tetapi Ja’far ibn Abi Thalib dan Zaid ibn Haritsah juga menginginkannya. Kata Ja’far, istrinya adalah bibi dari pihak ibu anak tersebut. Sementara Zaid mengatakan bahwa ia adalah saudara angkat Hamzah sehingga lebih berhak mengurus putri Hamzah tersebut. Nabi saw pun kemudian memutuskan bahwa putri Hamzah tersebut diurus oleh Ja’far dengan bersabda:

الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الْأُمِّ وَقَالَ لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ وَقَالَ لِجَعْفَرٍ أَشْبَهْتَ خَلْقِي وَخُلُقِي وَقَالَ لِزَيْدٍ أَنْتَ أَخُونَا وَمَوْلَانَا

“Bibi (dari pihak ibu) itu sama kedudukannya dengan ibu.” Beliau bersabda kepada ‘Ali: “Kamu dariku dan aku darimu.” Beliau bersabda kepada Ja’far: “Kamu menyerupai rupaku dan akhlaqku.” Beliau bersabda kepada Zaid: “Kamu adalah saudara kami dan maula kami.” (Shahih al-Bukhari bab kaifa yaktubu hadza ma shalaha fulan wa fulan no. 2699)

Penegasan Nabi saw bahwa rupa dan akhlaq Ja’far mirip dengannya dikuatkan oleh pernyataan Abu Hurairah ra:

مَا احْتَذَى النِّعَالَ وَلَا انْتَعَلَ وَلَا رَكِبَ المَطَايَا وَلَا رَكِبَ الْكُورَ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَفْضَلُ مِنْ جَعْفَرِ

Tidak ada yang memakai alas kaki, mengendarai unta, dan menaiki pelana sesudah Rasulullah saw yang lebih baik daripada Ja’far (Sunan at-Tirmidzi bab manaqib Ja’far ibn Abi Thalib no. 3764).

Keahliannya yang setara Rasulullah saw tersebut membuat Ja’far ditunjuk menjadi komandan perang, salah satu di antaranya yang mengantarnya pada kesyahidan yakni perang Mu`tah melawan pasukan Romawi pada tahun 8 H. Kedua tangannya sampai terputus dan ia mati syahid dalam perang Mu’tah pada usia 40 tahun. Nabi saw menyebutkan bahwa tangannya itu diganti oleh Allah swt menjadi dua sayap dan ia dibawa terbang oleh malaikat (hadits-hadits tentang hal ini dinilai hasan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari). Maka dari itu, Ibnu ‘Umar ra kalau bertemu dengan putra Ja’far selalu menyapa:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ابْنَ ذِي الْجَنَاحَيْنِ

Salam untukmu wahai putra dari yang memiliki dua sayap (Shahih al-Bukhari bab manaqib Ja’far ibn Abi Thalib no. 3709)

Akhlaq Ja’far ra yang mirip dengan Rasulullah saw terutama dalam hal perhatiannya kepada faqir miskin. Abu Hurairah ra juga sama menceritakan:

وَإِنِّي كُنْتُ أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بِشِبَعِ بَطْنِي حَتَّى لَا آكُلُ الْخَمِيرَ وَلَا أَلْبَسُ الْحَبِيرَ وَلَا يَخْدُمُنِي فُلَانٌ وَلَا فُلَانَةُ وَكُنْتُ أُلْصِقُ بَطْنِي بِالْحَصْبَاءِ مِنْ الْجُوعِ وَإِنْ كُنْتُ لَأَسْتَقْرِئُ الرَّجُلَ الْآيَةَ هِيَ مَعِي كَيْ يَنْقَلِبَ بِي فَيُطْعِمَنِي وَكَانَ أَخْيَرَ النَّاسِ لِلْمِسْكِينِ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ كَانَ يَنْقَلِبُ بِنَا فَيُطْعِمُنَا مَا كَانَ فِي بَيْتِهِ حَتَّى إِنْ كَانَ لَيُخْرِجُ إِلَيْنَا الْعُكَّةَ الَّتِي لَيْسَ فِيهَا شَيْءٌ فَنَشُقُّهَا فَنَلْعَقُ مَا فِيهَا

Sungguh aku selalu menemani Rasulullah saw agar perutku selalu kenyang, hingga aku tidak pernah makan ragi, juga tidak pernah memakai mantel. Tidak ada seorang lelaki atau perempuan pun yang mengurusku. Aku juga pernah mengikat perutku dengan batu saking lapar. Aku juga pernah meminta dibacakan ayat kepada seseorang yang aku sendiri juga hafal agar ia membawaku pergi dan memberiku makan. Orang yang paling baik kepada orang miskin adalah Ja’far ibn Abi Thalib. Ia selalu membawa kami (orang-orang miskin yang tinggal di shuffah/pinggiran masjid) pergi ke rumahnya dan memberi makan apa saja yang ada di rumahnya. Sampai pernah ia mengeluarkan wadah susu/keju yang terbuat dari kulit kepada kami tetapi ternyata sudah kosong. Kami pun membelahnya dan menjilati apa yang tersisa padanya (Shahih al-Bukhari bab manaqib Ja’far ibn Abi Thalib no. 3708).

Hadits di atas tentu tidak dalam pengertian bahwa para shahabat selain Ja’far tidak perhatian kepada faqir miskin, semua shahabat tentunya adalah orang-orang yang dermawan. Hanya Ja’far ibn Abi Thalib yang paling dermawan kepada faqir miskin dari sekian shahabat lainnya. Inilah yang menyebabkan Nabi saw menyebutnya sama persis akhlaqnya dengan beliau.

Dalam riwayat at-Tirmidzi sebagaimana dikutip juga oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari, Abu Hurairah ra menjelaskan:

إِنْ كُنْتُ لَأَسْأَلُ الرَّجُلَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ عَنِ الآيَاتِ مِنَ القُرْآنِ أَنَا أَعْلَمُ بِهَا مِنْهُ، مَا أَسْأَلُهُ إِلَّا لِيُطْعِمَنِي شَيْئًا فَكُنْتُ إِذَا سَأَلْتُ جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ لَمْ يُجِبْنِي حَتَّى يَذْهَبَ بِي إِلَى مَنْزِلِهِ فَيَقُولُ لِامْرَأَتِهِ: يَا أَسْمَاءُ أَطْعِمِينَا، فَإِذَا أَطْعَمَتْنَا أَجَابَنِي، وَكَانَ جَعْفَرٌ يُحِبُّ المَسَاكِينَ وَيَجْلِسُ إِلَيْهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ وَيُحَدِّثُونَهُ، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَكْنِيهِ بِأَبِي المَسَاكِينِ

Sungguh aku pernah bertanya kepada seorang shahabat Nabi saw tentang satu ayat al-Qur`an yang aku juga sebenarnya sudah tahu, aku tidak bertanya kepadanya melainkan agar ia mengajakku makan meski sedikit. Tetapi aku jika bertanya kepada Ja’far ibn Abi Thalib ia tidak menjawab pertanyaanku hingga mengajakku pergi ke rumahnya. Ia lalu berkata kepada istrinya: “Wahai Asma` (binti ‘Umais) hidangkanlah makanan kepada kami.” Sesudah istrinya menghidangkan makanan baru ia menjawab pertanyaanku. Ja’far mencintai orang-orang miskin. Ia sering duduk satu majelis dengan mereka dan bercengkerama bersama mereka. Rasulullah saw sampai memanggilnya dengan Abul-Masakin (Sunan at-Tirmidzi bab manaqib Ja’far ibn Abi Thalib no. 3766).

Akhlaq Ja’far di atas sama persis dengan Rasulullah saw sebagaimana diceritakan Abu Hurairah dalam riwayat lain. Ia yang selalu terpaksa duduk di pintu masjid hanya karena ingin diajak makan dengan bertanya tentang ayat al-Qur`an terkadang susah mendapatkan orang yang pengertian. Abu Bakar dan ‘Umar ra yang terbiasa perhatian pun terkadang ada lengahnya dan tidak memahami bahwa Abu Hurairah bertanya itu karena ingin diajak makan. Mereka berlalu begitu saja sesudah selesai dialog tentang ayat al-Qur`an.

ثُمَّ مَرَّ بِي أَبُو الْقَاسِمِ ﷺ فَتَبَسَّمَ حِينَ رَآنِي وَعَرَفَ مَا فِي نَفْسِي وَمَا فِي وَجْهِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا هِرٍّ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْحَقْ وَمَضَى فَتَبِعْتُهُ فَدَخَلَ فَأَسْتَأْذِنُ فَأَذِنَ لِي

Tidak lama kemudian datanglah Abul-Qasim saw, beliau tersenyum ketika melihatku dan beliau memahami apa yang ada dalam diriku dan wajahku. Kemudian beliau berkata: “Hai Abu Hirr.” Aku menjawab: “Baik wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Ikutlah.” Beliau pergi dan aku mengikutinya. Beliau lalu masuk rumah dan aku minta izin masuk, lalu aku dizinkan (Shahih al-Bukhari bab kaifa kana ‘aisyun-Nabi saw wa ashhabihi no. 6452).

Satu pelajaran penting dari teladan Ja’far ra untuk umat Islam di mana pun berada. Klaim diri sebagai umat pencinta Rasulullah saw belum sepenuhnya benar selama belum meneladani akhlaqnya dalam hal perhatian kepada faqir miskin. Sudah tidak perlu menunggu mereka meminta, tetapi harus sudah mengerti bahwa mereka butuh diberi. Jangan ada jarak lagi dengan faqir miskin karena takut diminta, melainkan hiduplah sederhana dengan bergaul dan berbagi bersama mereka. Khususnya faqir miskin yang seperti Abu Hurairah dan Ahlus-Shuffah; para pembelajar Islam, pengajar Islam, dan yang sehari-harinya tidak pernah lepas dari masjid. Bukan berarti memanjakan agar tangan mereka selalu di bawah, melainkan membiasakan diri menempatkan tangan di atas orang-orang yang jelas memerlukan. Wal-‘Llahu a’lam